Menebak Arah Israel setelah Memiliki Panglima Militer Baru yang Suka Berperang
Kamis, 06 Maret 2025 - 01:10 WIB
loading...
A
A
A
Di awal protes, setelah terbunuhnya 16 warga Palestina dalam satu hari di bulan Mei, Zamir membela tindakannya, dengan mengatakan pasukannya telah "mengidentifikasi upaya untuk melakukan serangan teror dengan kedok kerusuhan".
Pada tahun 2021, ia meninggalkan militer dan Israel, berangkat ke Amerika Serikat, tempat ia menjadi peneliti tamu di lembaga pemikir Washington Institute for Near East Policy, dan kembali ke Israel pada tahun 2023 saat ia diangkat menjadi direktur jenderal Kementerian Pertahanan.
Melansir Al Jazeera, dalam pidato pertama setelah pengangkatannya pada tanggal 1 Maret, Zamir mengatakan tahun 2025 akan "terus menjadi tahun pertempuran", meskipun Israel telah menyetujui gencatan senjata dalam dua perang yang dilancarkannya – di Gaza dan Lebanon.
Ia mengatakan Israel perlu mandiri, tanpa menyebutkan sejumlah besar bantuan militer yang diterimanya dari AS.
"Kita semua dibesarkan dengan prinsip: 'Negara Israel akan mempertahankan dirinya sendiri.' Sekarang, saya katakan kepada Anda bahwa Israel juga akan memproduksi senjatanya sendiri secara independen, dalam menghadapi ancaman atau skenario apa pun," kata Zamir.
Ia memiliki pendapat yang keras tentang perlunya menghadapi Iran dan “penentang Israel” lainnya.
Pada tahun 2007, ia dilaporkan menulis untuk membela praktik “hukuman kolektif” terhadap apa yang digambarkan sebagai “populasi teroris”.
Baca Juga: NATO Terancam Bubar, Eropa Bangun Koalisi Baru
Pada tahun 2021, ia meninggalkan militer dan Israel, berangkat ke Amerika Serikat, tempat ia menjadi peneliti tamu di lembaga pemikir Washington Institute for Near East Policy, dan kembali ke Israel pada tahun 2023 saat ia diangkat menjadi direktur jenderal Kementerian Pertahanan.
2. Sangat Suka Berperang
Ia tampaknya menyukai perang.Melansir Al Jazeera, dalam pidato pertama setelah pengangkatannya pada tanggal 1 Maret, Zamir mengatakan tahun 2025 akan "terus menjadi tahun pertempuran", meskipun Israel telah menyetujui gencatan senjata dalam dua perang yang dilancarkannya – di Gaza dan Lebanon.
Ia mengatakan Israel perlu mandiri, tanpa menyebutkan sejumlah besar bantuan militer yang diterimanya dari AS.
"Kita semua dibesarkan dengan prinsip: 'Negara Israel akan mempertahankan dirinya sendiri.' Sekarang, saya katakan kepada Anda bahwa Israel juga akan memproduksi senjatanya sendiri secara independen, dalam menghadapi ancaman atau skenario apa pun," kata Zamir.
Ia memiliki pendapat yang keras tentang perlunya menghadapi Iran dan “penentang Israel” lainnya.
Pada tahun 2007, ia dilaporkan menulis untuk membela praktik “hukuman kolektif” terhadap apa yang digambarkan sebagai “populasi teroris”.
Baca Juga: NATO Terancam Bubar, Eropa Bangun Koalisi Baru
3. Didukung Sayap Kanan Israel
Tidak mengherankan, pengangkatan Zamir disambut baik oleh beberapa anggota kabinet Netanyahu yang berhaluan kanan garis keras.Lihat Juga :