Donald Trump Minta Ukraina Kembalikan Uang Bantuan AS

Minggu, 23 Februari 2025 - 11:35 WIB
loading...
A A A
Ukraina menginginkan perjanjian apa pun yang ditandatangani dengan Amerika Serikat untuk menyertakan jaminan keamanan saat memerangi invasi Rusia yang hampir tiga tahun.

Negosiasi antara kedua negara terjadi di tengah perang kata-kata yang semakin dalam antara Trump dan Zelensky yang telah menimbulkan kekhawatiran di Kyiv dan Eropa.

Pada hari Rabu, Trump mencap Zelensky sebagai "diktator" dan menyerukannya untuk "bergerak cepat" untuk mengakhiri perang, sehari setelah pejabat Rusia dan AS mengadakan pembicaraan di Arab Saudi tanpa Kyiv.

Washington telah mengusulkan resolusi PBB tentang konflik Ukraina yang tidak menyebutkan wilayah Kyiv yang diduduki oleh Rusia, kata sumber diplomatik kepada AFP.


Kemitraan Macam Apa Ini?


Trump telah meminta mineral tanah langka senilai USD500 miliar untuk mengganti bantuan yang diberikan kepada Kyiv—harga yang ditolak Ukraina dan jauh lebih tinggi daripada angka bantuan AS yang dipublikasikan.

“Tidak ada kewajiban Amerika dalam perjanjian mengenai jaminan atau investasi, semuanya tentang hal itu sangat tidak jelas, dan mereka ingin memeras USD500 miliar dari kami,” kata sumber Ukraina kepada AFP.

“Kemitraan macam apa ini? Dan mengapa kami harus memberikan USD500 miliar, tidak ada jawaban,” kata sumber itu, seraya menambahkan bahwa Ukraina telah mengusulkan perubahan.

Amerika Serikat telah memberikan Ukraina lebih dari USD60 miliar dalam bentuk bantuan militer sejak invasi Rusia, menurut angka resmi—kontribusi terbesar di antara sekutu Kyiv tetapi jauh lebih rendah daripada angka yang disodorkan Trump.

Kiel Institute, lembaga penelitian ekonomi Jerman, mengatakan bahwa dari tahun 2022 hingga akhir tahun 2024, Amerika Serikat memberikan total 114,2 miliar euro (USD119,8 miliar) dalam bentuk bantuan keuangan, kemanusiaan, dan militer kepada Ukraina.

Dukungan Inggris Kuat


Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada AFP pada hari Jumat bahwa meskipun ada ketegangan, pembicaraan tentang kemungkinan kesepakatan "sedang berlangsung."

Perselisihan itu terjadi saat Ukraina akan menandai ulang tahun ketiga invasi Rusia pada hari Senin (24/2/2025), dan saat pasukan Kyiv perlahan-lahan menyerahkan wilayah di garis depan.

Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya mengeklaim telah merebut Novolyubivka di wilayah Luhansk timur, yang sekarang sebagian besar berada di bawah kendali Rusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Johannesburg Tewaskan 12 Orang, Polisi Buru 10 Tersangka
Cerita Shakira Kembali...
Cerita Shakira Kembali Bawakan Lagu Anthem Piala Dunia, Harus Membuat Orang Menari
Rekomendasi
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Formula 1 Lanjut ke...
Formula 1 Lanjut ke Barcelona, Antonelli Perlebar Dominasi di Klasemen? Nonton Streaming di VISION+
Bukti Fundamental Solid,...
Bukti Fundamental Solid, BRI Alokasikan Rp500 Miliar Demi Buyback Saham
Berita Terkini
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Infografis
Chronic Venous Insufficiency,...
Chronic Venous Insufficiency, Penyakit yang Diderita Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved