Khamenei: Negosiasi dengan AS Tidak Bijaksana dan Tak akan Selesaikan Masalah Iran

Sabtu, 08 Februari 2025 - 08:53 WIB
loading...
Khamenei: Negosiasi...
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Foto/anadolu
A A A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) tidaklah bijaksana maupun rasional dan tidak akan menyelesaikan masalah Iran.

Dia menepis spekulasi yang berkembang bahwa Teheran dan Washington mungkin akan melanjutkan pembicaraan mereka yang telah lama terhenti, Anadolu Agency melaporkan.

Berpidato di hadapan para personel militer di Teheran, Ayatollah Ali Khamenei menegaskan kembali pendiriannya bahwa terlibat dengan AS secara diplomatis adalah sia-sia.

Dia menekankan, “Negosiasi tidak memiliki dampak pada penyelesaian masalah negara."

Dia menjelaskan, sekadar duduk di meja perundingan dengan pemerintah AS tidak akan menghasilkan solusi nyata.

Alasannya, menurutnya, adalah "pengalaman," merujuk pada penarikan AS dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), yang juga dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran, pada Mei 2018.

Khamenei mengatakan Iran menghabiskan dua tahun dalam negosiasi, akhirnya mencapai kesepakatan, dengan alasan Iran "murah hati dan membuat konsesi yang signifikan" selama negosiasi maraton.

"Namun, Amerika tidak menghormati perjanjian itu. Orang yang sedang menjabat sekarang telah merusak perjanjian itu," ujar dia, merujuk pada Donald Trump, yang bulan lalu kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan keduanya.

Sejak terpilihnya kembali Trump, spekulasi telah tersebar luas tentang kemungkinan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015, dengan kedua belah pihak memberikan sinyal terselubung tentang niat mereka kembali ke meja perundingan selama lebih dari setahun.

Pemerintahan reformis Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang memenangkan pemilu tahun lalu dengan janji mencabut sanksi melalui keterlibatan diplomatik, telah mengisyaratkan kesiapannya duduk di meja perundingan dengan pemerintahan Trump.

Namun, iklim politik di Iran masih terbagi tajam. Banyak anggota parlemen tetap menentang keras perundingan apa pun dengan Washington, dengan alasan kurangnya kepercayaan mendasar antara kedua musuh bebuyutan tersebut.

Khamenei, yang secara konsisten memperingatkan agar tidak menaruh kepercayaan pada AS, menggandakan skeptisismenya, dengan mengatakan bahkan sebelum masa jabatan Trump sebagai presiden, para penandatangan kesepakatan tersebut, termasuk pemerintahan Barack Obama, "tidak mematuhinya."

"Ini adalah pengalaman. Kita harus belajar darinya. Kita memberi konsesi, kita bernegosiasi, kita berkompromi, tetapi kita tidak mencapai hasil yang kita inginkan. Bahkan dengan semua kekurangannya, kesepakatan itu akhirnya dibatalkan, dilanggar, dan dirobek oleh pihak lain," ujar dia dalam kritiknya yang paling keras terhadap masalah tersebut sejak terpilihnya kembali Trump.

“Berunding dengan pemerintah seperti itu tidaklah rasional, bijaksana, atau terhormat.”

Ketika laporan media beredar tentang kemungkinan dimulainya kembali perundingan, Khamenei menegaskan kembali, meskipun Kementerian Luar Negeri Iran secara aktif terlibat dalam diplomasi dengan negara-negara di seluruh dunia, AS tetap menjadi pengecualian.

Dia juga mengeluarkan peringatan keras, jika Washington mengancam keamanan Iran, Teheran akan menanggapinya dengan cara yang sama.

“Mereka membuat pernyataan, mengungkapkan pendapat, dan mengeluarkan ancaman terhadap kami. Jika mereka mengancam kami, kami akan mengancam mereka sebagai balasannya. Jika mereka bertindak berdasarkan ancaman mereka, kami juga akan bertindak. Jika mereka melanggar keamanan negara kami, kami pasti akan melanggar keamanan mereka,” tegas dia.

Kesepakatan nuklir 2015, yang dimediasi kekuatan dunia, berupaya mengekang program nuklir Iran dengan imbalan keringanan sanksi.

Namun, pada tahun 2018, pemerintahan Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut, yang memicu kembali ketegangan antara kedua negara.

Di bawah mantan Presiden Joe Biden, berbagai upaya diplomatik dilakukan untuk memulihkan kesepakatan tersebut, dengan beberapa putaran negosiasi yang dimediasi UE di Wina.

Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan terobosan apa pun, sehingga kesepakatan tersebut secara efektif tidak berlaku lagi.

Sejak Oktober 2023, ketegangan antara Teheran dan Washington semakin meningkat, yang dipicu perang di Gaza dan Lebanon.

Pihak berwenang Iran secara terbuka menuduh AS terlibat dalam konflik tersebut.

Baca juga: Mesir Tolak Terima 20 Warga Palestina yang Dibebaskan Israel
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Israel Ancam Serang...
Israel Ancam Serang Iran Ketiga Kalinya Meski Sedang Negosiasi dengan AS
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Menakjubkan! Detik-Detik...
Menakjubkan! Detik-Detik Danau Kawah Gunung Filipina Meletus Dahsyat, Picu Tsunami
Rekomendasi
Kuota Terbatas! Strategi...
Kuota Terbatas! Strategi Manfaatkan BRI KPR Bunga Spesial 1,75% untuk Rumah Pertama Anda
Para Legenda Bola Kecam...
Para Legenda Bola Kecam Penalti Belgia di Piala Dunia 2026: Senegal Dirampok Wasit
Rapat Paripurna RAPBN...
Rapat Paripurna RAPBN 2027 hingga Calon Anggota BS OJK Dihadiri 298 Anggota DPR
Berita Terkini
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved