Indonesia Tolak Usulan Trump Caplok Gaza dan Usir Warga Palestina
Rabu, 05 Februari 2025 - 19:26 WIB
loading...
Indonesia tolak usulan Donald Trump untuk mencaplok Gaza dan mengusir warga Palestina. Foto/X/@jacksonhinklle
A
A
A
JAKARTA - Indonesia dengan tegas menolak segala upaya untuk secara paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis Wilayah Pendudukan Palestina .
Itu sebagai langkah tegas Indonesia menolak rencana Presiden Donald Trump agar AS mengambil alih Gaza yang dilanda perang dan menciptakan "Riviera Timur Tengah".
"Tindakan semacam itu akan menghambat terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sebagaimana dicita-citakan oleh Solusi Dua Negara berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam pernyataan resminya.
Indonesia menyerukan kepada komunitas internasional untuk memastikan penghormatan terhadap hukum internasional, khususnya hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta hak mendasar untuk kembali ke tanah air mereka.
"Indonesia kembali menegaskan bahwa satu-satunya jalan layak menuju perdamaian abadi di kawasan adalah dengan menyelesaikan akar penyebab konflik: pendudukan ilegal dan berkepanjangan oleh Israel atas wilayah Palestina," demikian tegas Kementerian Luar Negeri RI.
BacaJuga: Zionis Kobarkan Perang Saudara di Palestina
Sementara itu, langkah mengejutkan dari Trump, mantan pengembang properti New York, segera dikecam oleh kekuatan internasional, dengan negara adidaya regional Arab Saudi, yang diharapkan Trump akan menjalin hubungan dengan Israel, menolak rencana tersebut secara langsung.
Turki menyebut usulan tersebut "tidak dapat diterima" dan Prancis mengatakan hal itu berisiko mengganggu stabilitas Timur Tengah.
Negara-negara dari Rusia, China , Jerman, Spanyol, Irlandia, dan Inggris mengatakan mereka terus mendukung solusi dua negara yang telah menjadi dasar kebijakan Washington di kawasan tersebut selama beberapa dekade, yang menyatakan bahwa Gaza akan menjadi bagian dari negara Palestina masa depan yang mencakup Tepi Barat yang diduduki.
Selain Mesir dan Otoritas Palestina, masyarakat internasional telah mengecam keras komentar Donald Trump tentang kemungkinan "pengambilalihan" Gaza oleh AS.
Banyak pejabat menekankan pentingnya solusi dua negara di kawasan tersebut:
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menegaskan kembali komitmen negara tersebut terhadap solusi dua negara. "Kita harus melihat warga Palestina hidup dan sejahtera di tanah air mereka di Gaza dan Tepi Barat," katanya kepada wartawan dalam perjalanan ke Kyiv.
Kementerian luar negeri di Prancis merilis pernyataan yang menegaskan kembali penentangannya terhadap "setiap pemindahan paksa penduduk Palestina di Gaza", dan mengatakan wilayah tersebut tidak boleh dikuasai oleh pihak ketiga. Dikatakan bahwa solusi dua negara adalah "satu-satunya yang dapat menjamin perdamaian jangka panjang" bagi warga Israel dan Palestina.
Di Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa penyelesaian di Timur Tengah hanya mungkin dilakukan dengan menerapkan solusi dua negara, menurut kantor berita Reuters.
Sementara itu, kementerian luar negeri Arab Saudi mengatakan "menolak segala upaya untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka". Ditambahkannya, Turki tidak akan menjalin hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina.
Baik China maupun Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendukung perlunya solusi dua negara.
Menteri luar negeri Turki mengatakan rencana apa pun yang menyingkirkan Palestina "dari persamaan" akan mengakibatkan lebih banyak konflik.
Itu sebagai langkah tegas Indonesia menolak rencana Presiden Donald Trump agar AS mengambil alih Gaza yang dilanda perang dan menciptakan "Riviera Timur Tengah".
"Tindakan semacam itu akan menghambat terwujudnya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sebagaimana dicita-citakan oleh Solusi Dua Negara berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," demikian keterangan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam pernyataan resminya.
Indonesia menyerukan kepada komunitas internasional untuk memastikan penghormatan terhadap hukum internasional, khususnya hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri serta hak mendasar untuk kembali ke tanah air mereka.
"Indonesia kembali menegaskan bahwa satu-satunya jalan layak menuju perdamaian abadi di kawasan adalah dengan menyelesaikan akar penyebab konflik: pendudukan ilegal dan berkepanjangan oleh Israel atas wilayah Palestina," demikian tegas Kementerian Luar Negeri RI.
BacaJuga: Zionis Kobarkan Perang Saudara di Palestina
Sementara itu, langkah mengejutkan dari Trump, mantan pengembang properti New York, segera dikecam oleh kekuatan internasional, dengan negara adidaya regional Arab Saudi, yang diharapkan Trump akan menjalin hubungan dengan Israel, menolak rencana tersebut secara langsung.
Turki menyebut usulan tersebut "tidak dapat diterima" dan Prancis mengatakan hal itu berisiko mengganggu stabilitas Timur Tengah.
Negara-negara dari Rusia, China , Jerman, Spanyol, Irlandia, dan Inggris mengatakan mereka terus mendukung solusi dua negara yang telah menjadi dasar kebijakan Washington di kawasan tersebut selama beberapa dekade, yang menyatakan bahwa Gaza akan menjadi bagian dari negara Palestina masa depan yang mencakup Tepi Barat yang diduduki.
Selain Mesir dan Otoritas Palestina, masyarakat internasional telah mengecam keras komentar Donald Trump tentang kemungkinan "pengambilalihan" Gaza oleh AS.
Banyak pejabat menekankan pentingnya solusi dua negara di kawasan tersebut:
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy menegaskan kembali komitmen negara tersebut terhadap solusi dua negara. "Kita harus melihat warga Palestina hidup dan sejahtera di tanah air mereka di Gaza dan Tepi Barat," katanya kepada wartawan dalam perjalanan ke Kyiv.
Kementerian luar negeri di Prancis merilis pernyataan yang menegaskan kembali penentangannya terhadap "setiap pemindahan paksa penduduk Palestina di Gaza", dan mengatakan wilayah tersebut tidak boleh dikuasai oleh pihak ketiga. Dikatakan bahwa solusi dua negara adalah "satu-satunya yang dapat menjamin perdamaian jangka panjang" bagi warga Israel dan Palestina.
Di Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa penyelesaian di Timur Tengah hanya mungkin dilakukan dengan menerapkan solusi dua negara, menurut kantor berita Reuters.
Sementara itu, kementerian luar negeri Arab Saudi mengatakan "menolak segala upaya untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka". Ditambahkannya, Turki tidak akan menjalin hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina.
Baik China maupun Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendukung perlunya solusi dua negara.
Menteri luar negeri Turki mengatakan rencana apa pun yang menyingkirkan Palestina "dari persamaan" akan mengakibatkan lebih banyak konflik.
(ahm)
Lihat Juga :