Sekutu Desak NATO Tunjukkan Kekuatan pada Rusia, Ini Alasannya
Senin, 03 Februari 2025 - 06:11 WIB
loading...
Lithuania, salah satu sekutu NATO, mendesak blok militer pimpinan AS tersebut untuk menunjukkan kekuatannya pada Rusia dengan meningkatkan kehadiran pasukannya di Laut Baltik. Foto/ac.nato.int
A
A
A
BRUSSELS - Lithuania, salah satu sekutu NATO, telah mendesak blok militer pimpinan Amerika Serikat (AS) tersebut untuk menunjukkan kekuatannya pada Rusia atau siapa pun dengan meningkatkan kehadiran pasukannya di Laut Baltik.
Desakan terebut disampaikan oleh Presiden Lithuania Gitanas Nauseda dengan alasan untuk mencegah Rusia atau siapa pun terlibat dalam kegiatan jahat di kawasan tersebut.
Seruannya muncul setelah serangkaian peristiwa misterius yang melibatkan kabel bawah laut di kawasan Laut Baltik.
"NATO dan Uni Eropa harus mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam survei Laut Baltik, membawa kemampuan maritim tambahan untuk mencegah insiden seperti itu di masa mendatang," kata Nauseda dalam sebuah wawancara dengan Associated Press (AP).
Baca Juga: Rusia Bombardir Ukraina Besar-besaran, NATO Kerahkan Jet Tempur dan Siagakan Sistem Rudal
Menurutnya, sudah waktunya bagi NATO untuk menunjukkan kekuatannya.
Sebanyak 11 insiden yang melibatkan kerusakan kabel bawah laut telah dicatat sejak Oktober 2023, menurut AP, yang dilansir Senin (3/2/2025). Yang terbaru dilaporkan oleh Latvia akhir pekan lalu.
Para pejabat Lithuania mengeklaim bahwa kabel serat optik yang menghubungkan negara itu dengan Pulau Gotland di Swedia rusak, kemungkinan besar karena sebab eksternal.
Menyusul pernyataan awal Latvia tentang kerusakan kabel tersebut, Swedia menahan sebuah kapal terkait dengan apa yang disebutnya "sabotase yang diperparah”.
Kapal lain dengan awak Rusia ditahan di Norwegia, yang dituduh ada kaitannya dengan insiden tersebut, tetapi dibebaskan tak lama kemudian.
Washington Post, mengutip sumber intelijen Barat, melaporkan bahwa kerusakan infrastruktur Laut Baltik kemungkinan besar merupakan akibat dari kecelakaan maritim yang melibatkan kapal yang tidak dirawat dengan baik dan awak yang tidak berpengalaman, bukan sabotase.
Dalam wawancaranya dengan AP, Nauseda tetap menyatakan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki keamanan yang cukup karena ancaman Rusia yang disebut-sebut bersifat permanen.
“Anda tidak akan pernah merasa aman tinggal di belahan dunia ini, karena kita memiliki tetangga ini, dan kita akan tetap memilikinya setelah seratus atau dua ratus tahun,” katanya.
”Anda selalu memiliki ancaman dari Timur,” katanya lagi.
Blok militer yang dipimpin AS telah meningkatkan kehadirannya di Laut Baltik sebagai tanggapan atas apa yang disebutnya “serangan terhadap infrastruktur penting”.
Pada pertengahan Januari, NATO mengumumkan operasi yang disebut Baltic Sentry yang akan mencakup patroli yang ditingkatkan di area tersebut yang melibatkan fregat, pesawat terbang, dan armada kecil pesawat nirawak Angkatan Laut—yang diharapkan dapat memberikan pengintaian dan pencegahan yang ditingkatkan.
Pada bulan Desember, NATO juga mengadakan latihan perang besar di depan pintu Rusia—di Estonia utara. Dijuluki Pikne (Petir), latihan perang selama dua minggu tersebut melibatkan sekitar 2.000 tentara dari Estonia, Latvia, AS, Inggris, dan Prancis.
Moskow telah berulang kali menekankan bahwa pihaknya tidak berniat menyerang anggota NATO mana pun. Pihaknya juga telah memperingatkan bahwa setiap konfrontasi langsung antara Rusia dan blok yang dipimpin AS tersebut dapat meningkat menjadi konflik nuklir.
Namun, Rusia tetap menegaskan bahwa pihaknya akan bereaksi terhadap setiap tindakan permusuhan oleh NATO.
Minggu lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Aleksandr Grushko mengatakan Moskow tidak akan membiarkan blok yang dipimpin AS itu mengubah Laut Baltik menjadi "danau internalnya”.
"Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan bahwa kepentingan kami... di wilayah Laut Baltik dilindungi dengan baik," kata diplomat tersebut.
Desakan terebut disampaikan oleh Presiden Lithuania Gitanas Nauseda dengan alasan untuk mencegah Rusia atau siapa pun terlibat dalam kegiatan jahat di kawasan tersebut.
Seruannya muncul setelah serangkaian peristiwa misterius yang melibatkan kabel bawah laut di kawasan Laut Baltik.
"NATO dan Uni Eropa harus mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam survei Laut Baltik, membawa kemampuan maritim tambahan untuk mencegah insiden seperti itu di masa mendatang," kata Nauseda dalam sebuah wawancara dengan Associated Press (AP).
Baca Juga: Rusia Bombardir Ukraina Besar-besaran, NATO Kerahkan Jet Tempur dan Siagakan Sistem Rudal
Menurutnya, sudah waktunya bagi NATO untuk menunjukkan kekuatannya.
Sebanyak 11 insiden yang melibatkan kerusakan kabel bawah laut telah dicatat sejak Oktober 2023, menurut AP, yang dilansir Senin (3/2/2025). Yang terbaru dilaporkan oleh Latvia akhir pekan lalu.
Para pejabat Lithuania mengeklaim bahwa kabel serat optik yang menghubungkan negara itu dengan Pulau Gotland di Swedia rusak, kemungkinan besar karena sebab eksternal.
Menyusul pernyataan awal Latvia tentang kerusakan kabel tersebut, Swedia menahan sebuah kapal terkait dengan apa yang disebutnya "sabotase yang diperparah”.
Kapal lain dengan awak Rusia ditahan di Norwegia, yang dituduh ada kaitannya dengan insiden tersebut, tetapi dibebaskan tak lama kemudian.
Washington Post, mengutip sumber intelijen Barat, melaporkan bahwa kerusakan infrastruktur Laut Baltik kemungkinan besar merupakan akibat dari kecelakaan maritim yang melibatkan kapal yang tidak dirawat dengan baik dan awak yang tidak berpengalaman, bukan sabotase.
Dalam wawancaranya dengan AP, Nauseda tetap menyatakan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki keamanan yang cukup karena ancaman Rusia yang disebut-sebut bersifat permanen.
“Anda tidak akan pernah merasa aman tinggal di belahan dunia ini, karena kita memiliki tetangga ini, dan kita akan tetap memilikinya setelah seratus atau dua ratus tahun,” katanya.
”Anda selalu memiliki ancaman dari Timur,” katanya lagi.
Blok militer yang dipimpin AS telah meningkatkan kehadirannya di Laut Baltik sebagai tanggapan atas apa yang disebutnya “serangan terhadap infrastruktur penting”.
Pada pertengahan Januari, NATO mengumumkan operasi yang disebut Baltic Sentry yang akan mencakup patroli yang ditingkatkan di area tersebut yang melibatkan fregat, pesawat terbang, dan armada kecil pesawat nirawak Angkatan Laut—yang diharapkan dapat memberikan pengintaian dan pencegahan yang ditingkatkan.
Pada bulan Desember, NATO juga mengadakan latihan perang besar di depan pintu Rusia—di Estonia utara. Dijuluki Pikne (Petir), latihan perang selama dua minggu tersebut melibatkan sekitar 2.000 tentara dari Estonia, Latvia, AS, Inggris, dan Prancis.
Moskow telah berulang kali menekankan bahwa pihaknya tidak berniat menyerang anggota NATO mana pun. Pihaknya juga telah memperingatkan bahwa setiap konfrontasi langsung antara Rusia dan blok yang dipimpin AS tersebut dapat meningkat menjadi konflik nuklir.
Namun, Rusia tetap menegaskan bahwa pihaknya akan bereaksi terhadap setiap tindakan permusuhan oleh NATO.
Minggu lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Aleksandr Grushko mengatakan Moskow tidak akan membiarkan blok yang dipimpin AS itu mengubah Laut Baltik menjadi "danau internalnya”.
"Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan bahwa kepentingan kami... di wilayah Laut Baltik dilindungi dengan baik," kata diplomat tersebut.
(mas)
Lihat Juga :