Finlandia Gabung Latihan Senjata Nuklir NATO untuk Pertama Kalinya

Selasa, 08 Oktober 2024 - 11:07 WIB
loading...
Finlandia Gabung Latihan...
Finlandia akan gabung latihan senjata nuklir NATO untuk pertama kalinya sejak menjadi anggota aliansi tersebut tahun lalu. Foto/Angkatan Udara Finlandia
A A A
HELSINKI - Finlandia, anggota baru NATO, akan ambil bagian dalam latihan senjata nuklir aliansi pekan depan untuk pertama kalinya.

Surat kabar Finlandia; Ilta-Sanomat, melaporkan senjata nuklir NATO yang diberi nama Exercise Steadfast Noon akan dimulai pada 14 Oktober dan akan berlangsung selama dua minggu di wilayah udara Inggris, Denmark, dan Belanda.

Mengutip laporan Newsweek, Selasa (8/10/2024), Finlandia akan mengirimkan jet tempur F/A-18 untuk latihan gabungan tersebut.

NATO mengatakan latihan tahunan, yang telah direncanakan sejak lama, akan membantu memastikan kredibilitas, efektivitas, dan keamanan pencegah nuklirnya.

Baca Juga: Rusia Ancam Finlandia Jika Dijadikan Markas Senjata Nuklir NATO

Finlandia menjadi anggota NATO—aliansi yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS)—pada April tahun lalu.

Negara Nordik tersebut, yang berbatasan dengan Rusia di sebelah timur, mengubah kebijakan non-blok militernya setelah invasi skala penuh ke Ukraina oleh Rusia pada Februari 2022.

Setelah selesainya aksesi ke NATO, Kementerian Pertahanan Finlandia mengatakan akan mengambil bagian dalam perencanaan nuklir dan operasi dukungan aliansi tersebut.

Namun, negara itu juga telah memutuskan tidak akan mengizinkan penyebaran senjata nuklir di wilayahnya.

Ini akan menjadi ketiga kalinya NATO menggelar latihan senjata nuklir selama Perang Rusia-Ukraina—perang konvensional terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II, di mana Moskow telah berulang kali mengancam eskalasi nuklir terhadap Kyiv dan sekutunya Barat-nya.

Selama latihan Steadfast Noon tahun lalu, yang tidak melibatkan bom aktif, 60 pesawat militer berlatih di atas Eropa selatan, termasuk jet tempur yang mampu membawa hulu ledak nuklir. NATO mengatakan pelatihan itu diadakan setidaknya 621 mil dari perbatasan Rusia.

AS telah mengerahkan bom gravitasi nuklir B61 di Eropa sebagai bagian dari pengaturan pembagian nuklir NATO, di mana senjata nuklir tersebut tetap berada di bawah pengawasan dan kendali militer AS.

Senjata tersebut akan dipasang pada jet-jet tempur sekutu jika terjadi konflik nuklir.

Senjata nuklir Amerika yang berbasis di Eropa berfungsi sebagai pencegahan yang diperluas untuk mendukung keamanan kolektif NATO.

Komitmen tersebut, yang juga dikenal sebagai "payung nuklir", bertujuan untuk mencegah dan menanggapi potensi skenario nuklir dan non-nuklir untuk membela sekutu dan mitra.

NATO telah mengatakan bahwa senjata nuklir merupakan komponen inti dari kemampuan pencegahan dan pertahanan aliansi tersebut. Dikatakan bahwa AS berkomitmen pada pengendalian senjata, pelucutan senjata, dan nonproliferasi. "Tetapi selama senjata nuklir masih ada, AS akan tetap menjadi aliansi nuklir," kata NATO.

Menurut Bulletin of the Atomic Scientists, AS menempatkan sekitar 100 bom gravitasi nuklir di Italia, Jerman, Turki, Belgia, dan Belanda.
Di antara mereka, Angkatan Udara Belgia, Belanda, Jerman, dan Italia ditugaskan untuk melakukan serangan nuklir aktif.

Selain senjata nuklir AS yang dikerahkan di Eropa—yang bersifat taktis atau non-strategis karena daya ledaknya yang rendah dan dirancang untuk digunakan di medan perang—, NATO bergantung pada kekuatan nuklir strategis Amerika, termasuk rudal balistik dan pesawat pengebom berkemampuan nuklir.

AS memiliki persediaan nuklir sebanyak 3.748 hulu ledak pada September tahun lalu, menurut data pemerintah.

Bulletin of the Atomic Scientists memperkirakan ada 200 senjata nuklir B61, yang setengahnya disimpan di AS untuk cadangan dan dukungan sekutu non-Eropa.

Kekuatan nuklir Inggris dan Prancis, imbuh NATO, juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keamanan aliansi.

Inggris memiliki 225 hulu ledak dalam persenjataan nuklirnya, sementara Prancis memiliki 290 senjata nuklir, menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Iran Ingatkan Selat...
Iran Ingatkan Selat Hormuz hanya Dibuka Bebas 60 Hari, selanjutnya...
Rekomendasi
Panggil Legislator yang...
Panggil Legislator yang Diduga Intimidasi Dokter Icha, Golkar Siapkan Sanksi
KPK Tahan Bupati Kuansing...
KPK Tahan Bupati Kuansing dan Dua Orang Lainnya terkait Suap Pengisian Jabatan
Pertamina dan Pupuk...
Pertamina dan Pupuk Indonesia Jajaki Kolaborasi Strategis untuk Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan Nasional
Berita Terkini
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved