alexametrics

WHO Kecam Kegagalan Kolektif Saat Campak Tewaskan 140.000 Orang

loading...
WHO Kecam Kegagalan Kolektif Saat Campak Tewaskan 140.000 Orang
Perawat mengisi jarum suntik dengan vaksin di klinik anak di Kiev, Ukraina. Foto/REUTERS/Valentyn Ogirenko
A+ A-
LONDON - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan campak menginfeksi hampir 10 juta orang pada 2018 dan menewaskan 140.000 jiwa yang sebagian besar anak-anak. Situasi ini terjadi saat wabah penyakit itu muncul di semua wilayah dunia.

Data terbaru itu disebut sebagai "satu kemarahan". WHO menyatakan sebagian besar korban tewas akibat campak tahun lalu adalah anak-anak usia di bawah lima tahun yang tidak mendapat vaksinasi.

"Fakta bahwa ada anak yang meninggal dunia akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti campak adalah kemarahan terang-terangan dan kegagalan kolektif untuk melindungi anak paling rentan di dunia," ungkap Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreysus, dilansir Reuters.



Data untuk 2019 bahkan lebih buruk, yang hingga November naik tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2018.

Amerika Serikat (AS) telah melaporkan jumlah tertinggi kasus campak dalam 25 tahun pada 2019, dan empat negara di Eropa yakni Albania, Republik Ceko, Yunani dan Inggris, kehilangan status "bebas campak" pada 2018 setelah mengalami wabah skala luas.

Wabah yang masih berlangsung di Samoa, Pasifik Selatan, campak menginfeksi lebih dari 4.200 orang dan menewaskan lebih dari 60 orang yang sebagian besar bayi dan anak-anak. Situasi buruk ini terjadi seiring adanya gerakan anti-vaksinasi di negara itu.

"Secara global, tingkat vaksinasi campak stagnan selama hampir satu dekade," ungkap WHO. WHO dan UNICEF menyatakan pada 2018, sekitar 86% anak mendapatkan dosis pertama vaksin campak melalui layanan vaksin rutin di negara mereka, dan kurang dari 70% mendapatkan dosis kedua yang direkomendasikan agar sepenuhnya melindungi seseorang dari infeksi campak.

Campak menjadi salah satu penyakit yang paling mudah menular, bahkan dibandingkan dengan Ebola, tuberculosis atau flu.
(sfn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak