Mengapa AS Tampak Sangat Menolak Mencari Tahu Dalang Bom Pager di Lebanon?
Jum'at, 20 September 2024 - 20:45 WIB
loading...
Tentara dan petugas pemadam kebakaran Lebanon berkumpul di luar toko ponsel setelah apa yang diyakini sebagai akibat dari walkie-talkie yang meledak di dalamnya, di kota pelabuhan selatan Sidon, Lebanon, Rabu, 18 September 2024. Foto/AP/Mohammed Zaatari
A
A
A
WASHINGTON - Pada Selasa (17/9/2024), juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Matthew Miller mengatakan dalam jumpa pers bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui sebelumnya tentang serangan pager Israel terhadap Lebanon.
Dia juga mengklaim Amerika Serikat mengumpulkan informasi tentang serangan itu "dengan cara yang sama seperti yang dilakukan wartawan di seluruh dunia," meskipun Amerika Serikat memiliki hubungan dekat dengan Israel.
Serangan bom pager di Lebanon dan serangan berikutnya yang menggunakan walkie-talkie, telepon, dan stasiun tenaga surya, telah menimbulkan pertanyaan tentang keamanan jalur pasokan di seluruh dunia.
Meski pernyataan Miller yang tidak masuk akal bahwa Amerika Serikat harus mengumpulkan informasi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan wartawan tampak menggelikan, wartawan yang sebenarnya justru mengabaikan dugaan pengumpulan fakta oleh komunitas intelijen AS.
Jurnal telah mengungkapkan pager tersebut diberi merek oleh perusahaan Taiwan bernama Apollo, yang kemudian menyalahkan perusahaan Hungaria, dengan mengatakan perusahaan tersebut hanya memberikan lisensi logonya kepada perusahaan tersebut.
Namun, tampaknya perusahaan itu adalah perusahaan cangkang, mungkin bertindak sebagai perantara untuk perusahaan Bulgaria bernama Norta Global.
Hal itu juga telah terungkap melalui pernyataan dari Hizbullah bahwa perangkat itu tertunda selama tiga bulan dalam perjalanan, di mana mereka menduga Israel mencegat dan menanamkan bahan peledak di perangkat itu.
Laporan juga menyatakan Israel meledakkan perangkat itu karena mereka yakin para pejuang Hizbullah mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada perangkat itu.
Sebaliknya, pada Kamis, Miller menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang serangan itu, hanya menyangkal keterlibatan AS.
Pada Rabu, Menteri Pertahanan (Menhan) AS Lloyd Austin mengadakan panggilan telepon dengan menhan Israel di mana dilaporkan mereka "membahas situasi di Lebanon dan Gaza" tetapi tampaknya tidak ada yang dapat dibagikan Miller kepada publik.
"Mengapa tidak ada seorang pun dari pemerintah kita yang bertanya kepada orang Israel?" ujar Jurnalis Suriah-Amerika untuk The Gray Zone Hekmat Aboukhater pada Political Misfits milik Sputnik pada Kamis.
Dia menjelaskan, “Apakah kita tahu apakah ada warga negara kita, yang banyak tinggal di Lebanon, yang banyak tinggal di wilayah tersebut, yang menggunakan pager?”
Namun, media AS melaporkan, mengutip pejabat intelijen anonim bahwa Israel telah “memberi tahu Washington tentang rincian (serangan) setelah operasi melalui saluran intelijen.”
Dia juga mengklaim Amerika Serikat mengumpulkan informasi tentang serangan itu "dengan cara yang sama seperti yang dilakukan wartawan di seluruh dunia," meskipun Amerika Serikat memiliki hubungan dekat dengan Israel.
Serangan bom pager di Lebanon dan serangan berikutnya yang menggunakan walkie-talkie, telepon, dan stasiun tenaga surya, telah menimbulkan pertanyaan tentang keamanan jalur pasokan di seluruh dunia.
Meski pernyataan Miller yang tidak masuk akal bahwa Amerika Serikat harus mengumpulkan informasi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan wartawan tampak menggelikan, wartawan yang sebenarnya justru mengabaikan dugaan pengumpulan fakta oleh komunitas intelijen AS.
Jurnal telah mengungkapkan pager tersebut diberi merek oleh perusahaan Taiwan bernama Apollo, yang kemudian menyalahkan perusahaan Hungaria, dengan mengatakan perusahaan tersebut hanya memberikan lisensi logonya kepada perusahaan tersebut.
Namun, tampaknya perusahaan itu adalah perusahaan cangkang, mungkin bertindak sebagai perantara untuk perusahaan Bulgaria bernama Norta Global.
Hal itu juga telah terungkap melalui pernyataan dari Hizbullah bahwa perangkat itu tertunda selama tiga bulan dalam perjalanan, di mana mereka menduga Israel mencegat dan menanamkan bahan peledak di perangkat itu.
Laporan juga menyatakan Israel meledakkan perangkat itu karena mereka yakin para pejuang Hizbullah mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada perangkat itu.
Sebaliknya, pada Kamis, Miller menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang serangan itu, hanya menyangkal keterlibatan AS.
Pada Rabu, Menteri Pertahanan (Menhan) AS Lloyd Austin mengadakan panggilan telepon dengan menhan Israel di mana dilaporkan mereka "membahas situasi di Lebanon dan Gaza" tetapi tampaknya tidak ada yang dapat dibagikan Miller kepada publik.
"Mengapa tidak ada seorang pun dari pemerintah kita yang bertanya kepada orang Israel?" ujar Jurnalis Suriah-Amerika untuk The Gray Zone Hekmat Aboukhater pada Political Misfits milik Sputnik pada Kamis.
Dia menjelaskan, “Apakah kita tahu apakah ada warga negara kita, yang banyak tinggal di Lebanon, yang banyak tinggal di wilayah tersebut, yang menggunakan pager?”
Namun, media AS melaporkan, mengutip pejabat intelijen anonim bahwa Israel telah “memberi tahu Washington tentang rincian (serangan) setelah operasi melalui saluran intelijen.”
Lihat Juga :