Mantan Bos Intelijen Israel Kecam Kebijakan PM Netanyahu tentang Koridor Philadelphia

Sabtu, 07 September 2024 - 21:20 WIB
loading...
Mantan Bos Intelijen...
Mantan bos intelijen Israel kecam cara PM Netanyahu mempertahankan koridor Philadelphia. Foto/AP
A A A
GAZA - Mantan kepala badan keamanan internal Shin Bet Israel , Nadav Argaman, menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyesatkan negara itu. Itu disebabkan Nentanyahu ingin mempertahankan kendali atas wilayah perbatasan antara Gaza dan Mesir, yang dikenal sebagai Koridor Philadelphia.

"Tidak ada hubungan antara persenjataan yang ditemukan di Gaza dan Koridor Philadelphia," kata Argaman kepada berita Channel 12 Israel dalam sebuah wawancara yang luas.

"Mayoritas penyelundupan ke Gaza dilakukan melalui penyeberangan perbatasan Rafah. Kami tahu ini dengan jelas," kata Argaman.

"Ketika Netanyahu berbicara tentang tetap berada di Koridor Philadelphia, dia tahu betul bahwa tidak ada penyelundupan yang terjadi melalui Koridor Philadelphia. Jadi sekarang kita terpaksa hidup dengan khayalan ini," katanya. "Semua ini dimaksudkan hanya untuk melestarikan pemerintahan Mesianik yang berbahaya ini."

Argaman, yang mengepalai Shin Bet antara tahun 2016 dan 2021, juga mengatakan bahwa Israel “harus menghentikan perang di Jalur Gaza sekarang, dan bergerak menuju gencatan senjata”.

“Kita harus melakukan pertukaran menyeluruh, untuk membawa semua orang kembali,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia khawatir akan masa depan Israel karena negara itu telah “dibajak oleh pemerintah yang ekstremis dan radikal.”

Baca Juga: Militer Israel Siapkan Opsi Perang di Wilayah Lebanon

Melansir Guardian, Koridor Philadelphia adalah pita tanah sepanjang sekitar sembilan mil (14 km) dan lebar 100 meter di sepanjang perbatasan Gaza dengan Mesir, termasuk penyeberangan Rafah.

Koridor ini ditetapkan sebagai zona perbatasan demiliterisasi setelah penarikan pemukiman dan pasukan Israel dari Gaza pada tahun 2005 dan membentang dari Mediterania hingga penyeberangan Kerem Shalom dengan Israel.

Sebelum tahun 2005, perjanjian damai Camp David tahun 1979 antara Israel dengan Mesir telah mengizinkannya untuk menempatkan sejumlah pasukan di koridor tersebut tetapi tidak boleh ada kendaraan lapis baja berat.

Setelah Israel menarik diri, wilayah itu menjadi tanggung jawab Mesir dan Otoritas Palestina, dengan 750 polisi Mesir dikerahkan untuk mencegah penyelundupan, hingga Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007. Wilayah itu direbut oleh Israel pada bulan Mei tahun ini saat serangan daratnya di Gaza memasuki Rafah.

Meskipun ada banyak upaya antiterowongan di kedua sisi perbatasan Mesir-Gaza, termasuk banjir di sisi Mesir dan serangan udara Israel, penyelundupan lintas batas melalui rute bawah tanah masih terus berlanjut, dan telah dieksploitasi oleh Hamas untuk membawa senjata, meskipun ada bukti bahwa dalam beberapa tahun terakhir beberapa penyelundupan senjata telah dilakukan melalui Mediterania.

Mesir terus menolak kehadiran militer Israel yang besar langsung di perbatasan dan telah menyatakan bahwa kehadiran semacam itu akan mengancam perjanjian damai.

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
6 WNI Relawan Global...
6 WNI Relawan Global Sumud Land Convoy yang Terhenti di Libya Dipulangkan Kemlu
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Pendapatan Melonjak...
Pendapatan Melonjak 47,7%, KPIG Raih Laba Bersih Rp724,2 Miliar di 2025
Sundulan Issa Diop Paksa...
Sundulan Issa Diop Paksa Laga Belanda vs Maroko Lanjut ke Extra Time
IHSG Pagi Ini Anjlok...
IHSG Pagi Ini Anjlok Lebih 1%, Balik ke Level 5.700-an
Berita Terkini
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Infografis
Dewan Penasihat Danantara...
Dewan Penasihat Danantara Diisi Tokoh Asing, Ada Mantan PM Thailand
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved