AS Ingin Lawan Rudal Hipersonik Musuh dengan Sensor Luar Angkasa

Kamis, 20 Agustus 2020 - 01:07 WIB
loading...
A A A
Menurut Hill, sensor berbasis luar angkasa adalah yang utama, karena mereka dapat memberikan cakupan global. Sistem pelacakan dan pengawasan luar angkasa tak hanya mengumpulkan data, intelijen, dan pengujian rudal dunia nyata, tetapi kemampuan itu jauh dari yang seharusnya.

Hill melanjutkan, sensor yang terintegrasi dengan satelit akan memungkinkan pertahanan AS untuk membantu mengembangkan "jalur kontinu" pada ancaman yang mendekat tanpa perlu lebih mengandalkan bidang pandang radar yang tersegmentasi. Hal ini dapat dimungkinkan oleh dua hal yang jelas, yakni jumlah satelit yang lebih besar dan sensor berbasis luar angkasa itu sendiri.

Ada preseden untuk jenis pekerjaan ini, mengingat program sensor Overhead Persistent Infrared Angkatan Udara AS saat ini yang dirancang sebagai deteksi peluncuran rudal musuh generasi baru dengan resolusi yang lebih tinggi dan jangkauan yang lebih jauh untuk melampaui SIBR (Space-Based Infrared/Inframerah Berbasis Antariksa) saat ini.

Sensor ini dapat mendeteksi tanda panas dari peluncuran rudal musuh dan dengan cepat mengirimkan informasi ke pusat komando dan kendali manusia. Teknologi semacam ini, dapat dengan mudah dikatakan, kemungkinan mulai menciptakan landasan teknis bagi generasi baru sensor satelit yang lebih mampu mengikuti "jalur" pada rudal yang mendekat.

Alih-alih membutuhkan bidang radar yang berbeda atau tersegmentasi, jaringan sensor berbasis ruang angkasa dapat mengidentifikasi dan tetap berada dalam lintasan senjata musuh. Hal ini, menurut pejabat senior Pentagon dan pengembang senjata industri, akan diperlukan untuk menghentikan serangan yang lebih cepat dan lebih mematikan seperti yang diantisipasi oleh serangan senjata hipersonik.

Teknologi rekayasa mampu menetapkan "jalur kontinu" itu persis seperti yang dilakukan beberapa mitra industri Pentagon untuk tampil di depan kurva dalam hal mempertahankan diri dari serangan senjata hipersonik. Misalnya, Booz Allen Hamilton adalah salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi untuk membangun "jalur kontinu" tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Tak Umumkan Serangan...
AS Tak Umumkan Serangan Udara ke Iran, Apakah Dikaitkan dengan Angka Sial?
Trump Tiba-tiba Ganti...
Trump Tiba-tiba Ganti Pesawat karena Takut Dibunuh usai KTT NATO di Turki
Viral Video Trump Pingsan...
Viral Video Trump Pingsan dan Terduduk Lemas saat Mau Masuk Limusin
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Iran Desak Warga di...
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Pengamat Hubungan Internasional:...
Pengamat Hubungan Internasional: Indonesia Perlu Cermati Dinamika Jelang Pilpres AS 2028
WHO: Wabah Ebola Telah...
WHO: Wabah Ebola Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang di RD Kongo dan Uganda
6 Calon Sekjen PBB Debat,...
6 Calon Sekjen PBB Debat, Paparkan Atasi Konflik Global di Masa Depan
Rekomendasi
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
Lepas dari Pertamina,...
Lepas dari Pertamina, Pelita Air Bakal Gabung di Bawah Garuda Indonesia
Perhitungan Kerugian...
Perhitungan Kerugian Negara Dipertanyakan, Pengamat Dorong Reformasi Audit BPKP
Berita Terkini
Apakah Strategi Panas...
Apakah Strategi Panas dan Dingin yang dilakukan Trump untuk Menekan Iran Bisa Sukses?
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved