Gelombang Dukungan Kampus-Kampus Dunia terhadap Palestina, Dunia Barat Goyah?
Sabtu, 04 Mei 2024 - 12:22 WIB
loading...
Polisi secara brutal menangkap demonstran pro-Palestina di Universitas Texas, Austin, AS, 29 April 2024. Foto/Aaron E. Martinez/American-Statesman/USA Today Network/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Dalam beberapa bulan terakhir, dunia menyaksikan gelombang dukungan yang luar biasa dari kampus-kampus ternama di seluruh dunia terhadap Palestina.
Demonstrasi dan protes telah meletus di berbagai universitas bergengsi di Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Asia.
Gelombang dukungan ini menunjukkan isu Palestina telah menjadi perhatian global dan telah mempengaruhi opini publik di seluruh dunia.
Dukungan ini menunjukkan dunia Barat, yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat Israel, mulai goyah. Hal ini dapat membawa perubahan signifikan dalam dinamika politik global terkait isu Palestina.
Gelombang dukungan kampus-kampus dunia terhadap Palestina menunjukkan bahwa generasi muda di seluruh dunia semakin sadar dan peduli terhadap isu genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza.
Para pemuda tidak takut untuk berbicara dan berjuang untuk apa yang mereka percayai. Ini adalah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya peduli tentang pendidikan mereka, tetapi juga tentang penderitaan yang dialami rakyat Palestina akibat tindakan brutal Israel.
Mereka adalah agen perubahan, dan melalui aksi-aksi mereka, mereka dapat membawa perubahan nyata.
Sikap generasi muda di negara-negara Barat itu jelas sangat berbeda dengan sikap elite politik di sana yang menjadi pendukung buta kekejaman Israel di Palestina.
Gerakan mahasiswa itu jelas mengguncang kancah politik Barat yang selama ini didominasi oleh para elite pendukung Israel dan lobi Zionis.
Di Amerika Serikat, mahasiswa di sejumlah kampus bergengsi menggelar protes untuk menyatakan dukungan mereka terhadap Palestina.
Demonstrasi ini meletus di Universitas Southern California dan di Texas. Gerakan ini dimulai di Universitas Columbia di New York, di mana puluhan mahasiswa ditangkap aparat pekan lalu.
Gerakan protes ini ditanggapi keras oleh pemerintah AS. Lebih dari 2.000 orang, termasuk para mahasiswa, telah ditangkap aparat karena menggelar unjuk rasa pro-Palestina.
Penangkapan itu dilakukan dengan kekerasan. Penangkapan ini membuktikan standar ganda AS yang selama ini berkoar-koar tentang demokrasi dan kebebasan pendapat.
Ternyata, jika yang berunjuk rasa adalah para pendukung Palestina, aparat AS bertindak sewenang-wenang dan berusaha membatasinya.
Pada Selasa malam waktu setempat (30/4/2024), petugas Kepolisian Kota New York yang mengenakan perlengkapan antihuru-hara mendatangi Universitas Columbia untuk membubarkan perkemahan mahasiswa yang didirikan sebagai bentuk solidaritas dengan masyarakat Gaza.
Puluhan mahasiswa ditangkap, ketika polisi menggunakan kendaraan lapis baja untuk masuk ke salah satu gedung universitas. Petugas juga menggunakan flash bang untuk membubarkan massa.
Meskipun Universitas Columbia telah menjadi pusat demonstrasi mahasiswa dan tindakan keras polisi yang terjadi setelahnya, gambaran penindasan polisi terhadap mahasiswa Amerika yang berdemonstrasi mendukung Palestina telah tercermin di seluruh AS selama beberapa pekan terakhir.
Setidaknya 150 perkemahan solidaritas Gaza telah didirikan di universitas-universitas AS.
Middle East Eye melihat contoh-contoh di mana polisi menggunakan kekerasan untuk membubarkan, menangkap, dan menyerang demonstran mahasiswa di kampus-kampus, serta pecahnya kekerasan yang dipicu provokasi pihak lain yang mencoba menerobos masuk dan mengganggu perkemahan tersebut.
Pada Selasa malam (30/4/2024), ketika polisi mendatangi mahasiswa di Universitas Columbia, kerumunan demonstran tandingan mulai menyerang perkemahan solidaritas Gaza yang didirikan di Universitas California-Los Angeles.
Sekitar pukul 22.50 waktu setempat, para pendukung pro-Israel tiba di perkemahan dan meluncurkan kembang api ke arah para pengunjuk rasa pro-Palestina dan menyebarkan apa yang tampak seperti semprotan beruang, menurut laporan lokal.
Para pelajar pro-Palestina terlihat di media lokal menutupi diri mereka dari semprotan air dengan payung, dan setidaknya satu orang dibawa dengan ambulans untuk mendapatkan perawatan.
Demonstrasi dan protes telah meletus di berbagai universitas bergengsi di Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Asia.
Gelombang dukungan ini menunjukkan isu Palestina telah menjadi perhatian global dan telah mempengaruhi opini publik di seluruh dunia.
Dukungan ini menunjukkan dunia Barat, yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat Israel, mulai goyah. Hal ini dapat membawa perubahan signifikan dalam dinamika politik global terkait isu Palestina.
Gelombang dukungan kampus-kampus dunia terhadap Palestina menunjukkan bahwa generasi muda di seluruh dunia semakin sadar dan peduli terhadap isu genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza.
Para pemuda tidak takut untuk berbicara dan berjuang untuk apa yang mereka percayai. Ini adalah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya peduli tentang pendidikan mereka, tetapi juga tentang penderitaan yang dialami rakyat Palestina akibat tindakan brutal Israel.
Mereka adalah agen perubahan, dan melalui aksi-aksi mereka, mereka dapat membawa perubahan nyata.
Sikap generasi muda di negara-negara Barat itu jelas sangat berbeda dengan sikap elite politik di sana yang menjadi pendukung buta kekejaman Israel di Palestina.
Gerakan mahasiswa itu jelas mengguncang kancah politik Barat yang selama ini didominasi oleh para elite pendukung Israel dan lobi Zionis.
Protes di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, mahasiswa di sejumlah kampus bergengsi menggelar protes untuk menyatakan dukungan mereka terhadap Palestina.
Demonstrasi ini meletus di Universitas Southern California dan di Texas. Gerakan ini dimulai di Universitas Columbia di New York, di mana puluhan mahasiswa ditangkap aparat pekan lalu.
Gerakan protes ini ditanggapi keras oleh pemerintah AS. Lebih dari 2.000 orang, termasuk para mahasiswa, telah ditangkap aparat karena menggelar unjuk rasa pro-Palestina.
Penangkapan itu dilakukan dengan kekerasan. Penangkapan ini membuktikan standar ganda AS yang selama ini berkoar-koar tentang demokrasi dan kebebasan pendapat.
Ternyata, jika yang berunjuk rasa adalah para pendukung Palestina, aparat AS bertindak sewenang-wenang dan berusaha membatasinya.
UCLA
Pada Selasa malam waktu setempat (30/4/2024), petugas Kepolisian Kota New York yang mengenakan perlengkapan antihuru-hara mendatangi Universitas Columbia untuk membubarkan perkemahan mahasiswa yang didirikan sebagai bentuk solidaritas dengan masyarakat Gaza.
Puluhan mahasiswa ditangkap, ketika polisi menggunakan kendaraan lapis baja untuk masuk ke salah satu gedung universitas. Petugas juga menggunakan flash bang untuk membubarkan massa.
Meskipun Universitas Columbia telah menjadi pusat demonstrasi mahasiswa dan tindakan keras polisi yang terjadi setelahnya, gambaran penindasan polisi terhadap mahasiswa Amerika yang berdemonstrasi mendukung Palestina telah tercermin di seluruh AS selama beberapa pekan terakhir.
Setidaknya 150 perkemahan solidaritas Gaza telah didirikan di universitas-universitas AS.
Middle East Eye melihat contoh-contoh di mana polisi menggunakan kekerasan untuk membubarkan, menangkap, dan menyerang demonstran mahasiswa di kampus-kampus, serta pecahnya kekerasan yang dipicu provokasi pihak lain yang mencoba menerobos masuk dan mengganggu perkemahan tersebut.
Universitas California
Pada Selasa malam (30/4/2024), ketika polisi mendatangi mahasiswa di Universitas Columbia, kerumunan demonstran tandingan mulai menyerang perkemahan solidaritas Gaza yang didirikan di Universitas California-Los Angeles.
Sekitar pukul 22.50 waktu setempat, para pendukung pro-Israel tiba di perkemahan dan meluncurkan kembang api ke arah para pengunjuk rasa pro-Palestina dan menyebarkan apa yang tampak seperti semprotan beruang, menurut laporan lokal.
Para pelajar pro-Palestina terlihat di media lokal menutupi diri mereka dari semprotan air dengan payung, dan setidaknya satu orang dibawa dengan ambulans untuk mendapatkan perawatan.
Lihat Juga :