Israel Bisa Gunakan Konflik Iran sebagai Pengalih Perhatian untuk Duduki Gaza
Kamis, 25 April 2024 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar 1,5 juta orang saat ini berlindung di Rafah karena ini adalah kota terakhir yang selamat dari kekejaman yang disebabkan pasukan darat Israel.
“Mereka adalah orang-orang yang oleh pemerintah AS dan sistem AS dianggap dapat dibuang karena mereka tidak berkulit putih,” tambah Fantina.
Dia menjelaskan, “AS mengirimkan lebih banyak senjata dan uang ke Ukraina. Ketika Gaza menjadi korban dengan cara yang sama, hanya saja jauh lebih buruk, dan AS, bukannya memberi rakyat Palestina sarana untuk membela diri, malah memberikan pelakunya lebih banyak sarana untuk melakukan pembantaian dan genosida. Jadi, hal ini sebagian disebabkan oleh rasisme, sebagian lagi karena keuntungan, dan sebagian lagi karena kekuasaan.”
Artikel yang diterbitkan pada Rabu menggambarkan “teror yang belum pernah terjadi sebelumnya” yang terus menghantui warga Palestina di kamp pengungsi Nur Shams di Tulkarem, hanya dua hari setelah tentara Israel menyelesaikan invasi selama 52 jam ke kamp tersebut.
Menurut artikel tersebut, pasukan Israel membunuh 14 warga Palestina. Seorang warga mengatakan ini bukan kali pertama penjajah Israel menggerebek Nur Shams.
“Namun kali ini berbeda karena kali ini mereka menggunakan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penggerebekan tersebut,” ujar seorang warga.
“Pasukan Israel (IDF) adalah kekuatan yang sangat brutal, kekuatan teroris, yang disetujui pemerintah dan disetujui AS. Dan fakta bahwa ini adalah teror yang belum pernah terjadi sebelumnya sungguh mengerikan bagi saya. Dan membacanya, mereka membunuh beberapa warga Palestina,” ungkap Fantina.
“Penggerebekan itu berlangsung beberapa hari. Mereka melibas rumah-rumah dan apa pun, toko, bisnis. Hanya menakuti orang, membunuh orang dan mempersulit mereka untuk melanjutkan hidup,” pungkas dia.
“Mereka adalah orang-orang yang oleh pemerintah AS dan sistem AS dianggap dapat dibuang karena mereka tidak berkulit putih,” tambah Fantina.
Dia menjelaskan, “AS mengirimkan lebih banyak senjata dan uang ke Ukraina. Ketika Gaza menjadi korban dengan cara yang sama, hanya saja jauh lebih buruk, dan AS, bukannya memberi rakyat Palestina sarana untuk membela diri, malah memberikan pelakunya lebih banyak sarana untuk melakukan pembantaian dan genosida. Jadi, hal ini sebagian disebabkan oleh rasisme, sebagian lagi karena keuntungan, dan sebagian lagi karena kekuasaan.”
Artikel yang diterbitkan pada Rabu menggambarkan “teror yang belum pernah terjadi sebelumnya” yang terus menghantui warga Palestina di kamp pengungsi Nur Shams di Tulkarem, hanya dua hari setelah tentara Israel menyelesaikan invasi selama 52 jam ke kamp tersebut.
Menurut artikel tersebut, pasukan Israel membunuh 14 warga Palestina. Seorang warga mengatakan ini bukan kali pertama penjajah Israel menggerebek Nur Shams.
“Namun kali ini berbeda karena kali ini mereka menggunakan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penggerebekan tersebut,” ujar seorang warga.
“Pasukan Israel (IDF) adalah kekuatan yang sangat brutal, kekuatan teroris, yang disetujui pemerintah dan disetujui AS. Dan fakta bahwa ini adalah teror yang belum pernah terjadi sebelumnya sungguh mengerikan bagi saya. Dan membacanya, mereka membunuh beberapa warga Palestina,” ungkap Fantina.
“Penggerebekan itu berlangsung beberapa hari. Mereka melibas rumah-rumah dan apa pun, toko, bisnis. Hanya menakuti orang, membunuh orang dan mempersulit mereka untuk melanjutkan hidup,” pungkas dia.
(sya)
Lihat Juga :