alexametrics

Turki Kecam Aksi Penembakan di Pasar Natal Strasbourg

loading...
Turki Kecam Aksi Penembakan di Pasar Natal Strasbourg
Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, Ankara mengutuk dengan bahasa paling keras penembakan di pasar Natal di Strasbourg. Foto/Reuters
A+ A-
ANKARA - Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, Ankara mengutuk dengan bahasa paling keras penembakan di pasar Natal di Strasbourg. Aksi penembakan itu menewaskan Setidaknya tiga orang.

Dalam sebuah pernyataan, Kemlu Turki menuturkan, pihaknya mengucapkan belasungkawa kepada pemerintah dan masyarakat Prancis, khususnya keluarga dan kerabat para korban dalam penembakan itu.

"Kami menyampaikan belasungkawa kepada Rakyat dan Pemerintah Perancis dan kepada keluarga orang-orang yang kehilangan nyawa dalam serangan keji ini dan ingin cepat sembuh bagi mereka yang terluka," kata Kemlu Turki, seperti dilansir Anadolu Agency pada Rabu (12/12).



Sementara itu, sebelumnya Polisi Jerman dilaporkan telah menerapkan langkah-langkah untuk memperketat keamanan di perbatasan dengan Prancis pasca adanya aksi penembakan tersebut.

Pelaku penembakan yang diketahui bernama Cherif Chekatt berhasil lolos dari penangkapan polisi dan masih dalam pelarian. Situasi ini menimbulkan ketakutan akan terjadinya serangan lanjutan.

Menurut laporan polisi, pria berusia 29 tahun itu ditembak dan terluka oleh tentara yang menjaga pasar Natal. Namun, ia tetap berhasil melarikan diri dengan taksi yang dibajak.

Seorang juru bicara kepolisian Jerman menuturkan, mereka akan memperketat keamanan di perbatasan hingga situasi kembali normal. "Kami bergantung pada rekan-rekan di Prancis. Kami akan mempertahankan kendali hingga situasi teratasi," ucapnya.

Dia lalu menyatakan bahwa pelaku penembakan dikenal oleh otoritas Prancis sebagai seorang radikal. Menurut dia, pria itu dipenjara di Jerman pada tahun 2016 dan 2017 atas tuduhan pencurian dan kemudian dideportasi ke Prancis.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak