Rentetan Serangan terhadap Warga China di Pakistan Ancam Proyek CPEC Senilai Rp986 Triliun
Kamis, 04 April 2024 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai tanggapan, pemerintah Pakistan telah berkomitmen untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku dan menerapkan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan warga negara dan proyek China.
Investasi besar China sebesar USD62 miliar (lebih dari Rp986 triliun) pada CPEC menggarisbawahi pentingnya hubungan strategis antara kedua negara.
Ini bukan serangan pertama terhadap warga China yang bekerja di Pakistan. Sebelumnya pada Agustus 2023, utusan China di Gwadar, Balochistan, juga diserang, meski tidak ada yang terluka.
Pada 2022, tiga guru China dan sopirnya yang berkewarganegaraan Pakistan menjadi korban ledakan di Karachi, Sindh.
Hal serupa juga terjadi pada Juli 2021, ketika sembilan warga negara China dan empat warga Pakistan kehilangan nyawa, dan sekitar 24 lainnya mengalami luka-luka dalam ledakan bus antar-jemput di Khyber Pakhtunkhwa.
Insiden-insiden ini mengingatkan kita akan ancaman dan risiko yang terus-menerus terkait pengerjaan proyek-proyek penting seperti CPEC.
Hal ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya nyawa secara tragis, tetapi juga mengganggu proyek infrastruktur penting, membebani hubungan diplomatik, dan menciptakan suasana ketakutan dan ketidakpastian bagi investor dan pekerja asing.
Serangan pada 26 Maret di wilayah utara Pakistan tidak diklaim oleh kelompok teror atau militan mana pun. Meningkatnya ancaman secara substansial telah menyebabkan penilaian ulang terhadap keselamatan warga negara China yang tinggal dan bekerja di Pakistan.
Misalnya, penyerangan pada 26 Maret di Bisham mengakibatkan terhentinya pekerjaan bendungan Dasu dan Diamer-Bhasha. Ada kekhawatiran bahwa 991 insinyur China mungkin berencana meninggalkan Pakistan. Tren kepergian di kalangan warga negara China ini sebelumnya terlihat pada April 2022, ketika 40 guru China meninggalkan Pakistan setelah insiden kekerasan di Universitas Karachi.
Sayangnya, meski telah berulang kali diperingatkan, tentara Pakistan tampaknya tidak berhasil memerangi serangan teror terhadap warga negara China. Rasa frustrasi China terhadap Islamabad atas serangan teror yang berulang-ulang terhadap proyek-proyek CPEC terlihat jelas.
Selain mengurangi usulan investasi, dan sejumlah warga China meninggalkan Pakistan, Beijing juga menolak memasukkan kerja sama di bidang perubahan iklim, energi, dan pengelolaan air, ke dalam proyek CPEC.
Usulan Pakistan untuk kerja sama dalam pariwisata lintas batas di Gilgit-Baltistan, KP, dan pariwisata pesisir, serta pembentukan Kelompok Kerja Bersama (JWG) baru dan dimasukkannya jalur transmisi 500kv dari Hub ke Gwadar untuk menghubungkan pelabuhan kota dengan jaringan listrik nasional, semuanya ditolak oleh China.
Meski CPEC masih menjadi tulang punggung Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang ambisius di Beijing, adalah sebuah kesalahan jika pemerintah Pakistan menganggap serangan tersebut hanya masalah keamanan. Rentetan serangan ini menunjuk pada kerentanan ekonomi politik Pakistan yang lebih luas.
Investasi besar China sebesar USD62 miliar (lebih dari Rp986 triliun) pada CPEC menggarisbawahi pentingnya hubungan strategis antara kedua negara.
Ini bukan serangan pertama terhadap warga China yang bekerja di Pakistan. Sebelumnya pada Agustus 2023, utusan China di Gwadar, Balochistan, juga diserang, meski tidak ada yang terluka.
Pada 2022, tiga guru China dan sopirnya yang berkewarganegaraan Pakistan menjadi korban ledakan di Karachi, Sindh.
Hal serupa juga terjadi pada Juli 2021, ketika sembilan warga negara China dan empat warga Pakistan kehilangan nyawa, dan sekitar 24 lainnya mengalami luka-luka dalam ledakan bus antar-jemput di Khyber Pakhtunkhwa.
Insiden-insiden ini mengingatkan kita akan ancaman dan risiko yang terus-menerus terkait pengerjaan proyek-proyek penting seperti CPEC.
Hal ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya nyawa secara tragis, tetapi juga mengganggu proyek infrastruktur penting, membebani hubungan diplomatik, dan menciptakan suasana ketakutan dan ketidakpastian bagi investor dan pekerja asing.
Serangan pada 26 Maret di wilayah utara Pakistan tidak diklaim oleh kelompok teror atau militan mana pun. Meningkatnya ancaman secara substansial telah menyebabkan penilaian ulang terhadap keselamatan warga negara China yang tinggal dan bekerja di Pakistan.
Misalnya, penyerangan pada 26 Maret di Bisham mengakibatkan terhentinya pekerjaan bendungan Dasu dan Diamer-Bhasha. Ada kekhawatiran bahwa 991 insinyur China mungkin berencana meninggalkan Pakistan. Tren kepergian di kalangan warga negara China ini sebelumnya terlihat pada April 2022, ketika 40 guru China meninggalkan Pakistan setelah insiden kekerasan di Universitas Karachi.
Sayangnya, meski telah berulang kali diperingatkan, tentara Pakistan tampaknya tidak berhasil memerangi serangan teror terhadap warga negara China. Rasa frustrasi China terhadap Islamabad atas serangan teror yang berulang-ulang terhadap proyek-proyek CPEC terlihat jelas.
Selain mengurangi usulan investasi, dan sejumlah warga China meninggalkan Pakistan, Beijing juga menolak memasukkan kerja sama di bidang perubahan iklim, energi, dan pengelolaan air, ke dalam proyek CPEC.
Usulan Pakistan untuk kerja sama dalam pariwisata lintas batas di Gilgit-Baltistan, KP, dan pariwisata pesisir, serta pembentukan Kelompok Kerja Bersama (JWG) baru dan dimasukkannya jalur transmisi 500kv dari Hub ke Gwadar untuk menghubungkan pelabuhan kota dengan jaringan listrik nasional, semuanya ditolak oleh China.
Masalah Keamanan Pakistan
Meski CPEC masih menjadi tulang punggung Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) yang ambisius di Beijing, adalah sebuah kesalahan jika pemerintah Pakistan menganggap serangan tersebut hanya masalah keamanan. Rentetan serangan ini menunjuk pada kerentanan ekonomi politik Pakistan yang lebih luas.
Lihat Juga :