Oposisi Turki Menang di Istanbul dan Ankara, Ini Reaksi Erdogan
Senin, 01 April 2024 - 10:35 WIB
loading...
A
A
A
Yavas memimpin dengan 58,6 persen suara berbanding 33,5 persen untuk lawannya dari AKP, dengan 46,4 persen kotak suara dibuka.
CHP juga unggul di Izmir, kota terbesar ketiga di Turki, dan Antalya di mana para pendukung partai membanjiri jalan-jalan.
Bahkan beberapa kota yang menjadi basis AKP berisiko hilang, seperti yang ditunjukkan oleh hasil pemilu lokal.
“Para pemilih telah memilih untuk mengubah wajah Turki,” kata ketua CHP Ozgur Ozel ketika hasil pemilu lokal diumumkan.
“Mereka ingin membuka pintu menuju iklim politik baru di negara kita.”
Erdogan mengakui kemunduran AKP dalam pemilu lokal ketika berpidato di hadapan para pendukungnya di markas besar partai tersebut.
“Sayangnya, kami belum memperoleh hasil yang kami inginkan,” katanya kepada massa.
“Tentu saja kami akan menghormati keputusan bangsa. Kita hindari bersikap keras kepala, bertindak bertentangan dengan kemauan nasional, dan mempertanyakan kekuatan bangsa,” imbuhnya.
Erdogan telah menjadi presiden sejak 2014 dan memenangkan masa jabatan baru pada Mei tahun lalu.
Dia menyebut Istanbul sebagai “harta” nasional ketika meluncurkan kampanyenya untuk merebut kembali kota tersebut.
Meski dia mendominasi kampanye, peran pribadinya tidak membantu mengatasi kekhawatiran yang meluas terhadap perekonomian negara.
“Semua orang khawatir tentang kehidupan sehari-hari,” kata Guler Kaya, warga Istanbul berusia 43 tahun, saat dia memberikan suaranya.
CHP juga unggul di Izmir, kota terbesar ketiga di Turki, dan Antalya di mana para pendukung partai membanjiri jalan-jalan.
Bahkan beberapa kota yang menjadi basis AKP berisiko hilang, seperti yang ditunjukkan oleh hasil pemilu lokal.
“Para pemilih telah memilih untuk mengubah wajah Turki,” kata ketua CHP Ozgur Ozel ketika hasil pemilu lokal diumumkan.
“Mereka ingin membuka pintu menuju iklim politik baru di negara kita.”
Erdogan mengakui kemunduran AKP dalam pemilu lokal ketika berpidato di hadapan para pendukungnya di markas besar partai tersebut.
“Sayangnya, kami belum memperoleh hasil yang kami inginkan,” katanya kepada massa.
“Tentu saja kami akan menghormati keputusan bangsa. Kita hindari bersikap keras kepala, bertindak bertentangan dengan kemauan nasional, dan mempertanyakan kekuatan bangsa,” imbuhnya.
Erdogan telah menjadi presiden sejak 2014 dan memenangkan masa jabatan baru pada Mei tahun lalu.
Dia menyebut Istanbul sebagai “harta” nasional ketika meluncurkan kampanyenya untuk merebut kembali kota tersebut.
Meski dia mendominasi kampanye, peran pribadinya tidak membantu mengatasi kekhawatiran yang meluas terhadap perekonomian negara.
“Semua orang khawatir tentang kehidupan sehari-hari,” kata Guler Kaya, warga Istanbul berusia 43 tahun, saat dia memberikan suaranya.
Lihat Juga :