5 Orang Terkuat Hamas, Salah Satunya Tewas Dirudal Israel
Jum'at, 22 Maret 2024 - 15:28 WIB
loading...
A
A
A
Dia telah memimpin cabang politik Hamas sejak Mei 2017 dan tinggal antara Turki dan Qatar sejak dia secara sukarela mengasingkan diri pada Desember 2019.
Haniyeh memperoleh gelar dalam bidang sastra Arab sebelum bergabung dengan Hamas pada tahun 1988.
Dia menghabiskan beberapa tahun di penjara Israel pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, ketika pihak berwenang Israel menuduhnya menjalankan sayap keamanan kelompok Hamas.
Dia kembali ke Gaza pada tahun 1993 dan diangkat menjadi dekan Universitas Islam Gaza.
Setelah Israel membebaskan salah satu pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, dari penjara pada tahun 1997, Haniyeh dipilih untuk mengepalai kantornya.
Dia naik pangkat hingga akhirnya menjadi perdana menteri pemerintah persatuan Palestina pada tahun 2006.
Pada 2007, Haniyeh digulingkan oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas setelah Hamas menguasai Jalur Gaza dengan paksa.
Dianggap sebagai seorang pragmatis, dia berulang kali menyerukan rekonsiliasi dengan Fatah, partai nasionalis Palestina saingannya yang mendukung Abbas, namun tidak membuahkan hasil.
Petinggi Hamas berusia 58 tahun ini dijuluki sebagai “manusia bayangan” karena tidak pernah menampakkan wajahnya, termasuk dalam wawancara televisi.
Issa adalah wakil komandan Brigade al-Qassam atau tangan kanan Mohammed Deif sehingga dianggap sebagai orang nomor 2 militer Hamas.
Menurut media Israel, dia dianggap sebagai target utama NILI, unit khusus yang dibentuk oleh Shin Bet, dinas keamanan internal Israel, dan dinas intelijen Mossad untuk melacak anggota Hamas yang bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober.
Marwan Issa dilaporkan tewas oleh serangan rudal Israel pada 9 Maret 2024 di Gaza tengah.
Militer Israel mengaku masih memeriksa laporan tentang kematiannya, namun Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa militer Zionis sudah membunuh Issa.
Sumber Palestina juga membenarkan bahwa Issa terbunuh oleh serangan rudal jet tempur Israel.
Haniyeh memperoleh gelar dalam bidang sastra Arab sebelum bergabung dengan Hamas pada tahun 1988.
Dia menghabiskan beberapa tahun di penjara Israel pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, ketika pihak berwenang Israel menuduhnya menjalankan sayap keamanan kelompok Hamas.
Dia kembali ke Gaza pada tahun 1993 dan diangkat menjadi dekan Universitas Islam Gaza.
Setelah Israel membebaskan salah satu pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, dari penjara pada tahun 1997, Haniyeh dipilih untuk mengepalai kantornya.
Dia naik pangkat hingga akhirnya menjadi perdana menteri pemerintah persatuan Palestina pada tahun 2006.
Pada 2007, Haniyeh digulingkan oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas setelah Hamas menguasai Jalur Gaza dengan paksa.
Dianggap sebagai seorang pragmatis, dia berulang kali menyerukan rekonsiliasi dengan Fatah, partai nasionalis Palestina saingannya yang mendukung Abbas, namun tidak membuahkan hasil.
3. Marwan Issa
Petinggi Hamas berusia 58 tahun ini dijuluki sebagai “manusia bayangan” karena tidak pernah menampakkan wajahnya, termasuk dalam wawancara televisi.
Issa adalah wakil komandan Brigade al-Qassam atau tangan kanan Mohammed Deif sehingga dianggap sebagai orang nomor 2 militer Hamas.
Menurut media Israel, dia dianggap sebagai target utama NILI, unit khusus yang dibentuk oleh Shin Bet, dinas keamanan internal Israel, dan dinas intelijen Mossad untuk melacak anggota Hamas yang bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober.
Marwan Issa dilaporkan tewas oleh serangan rudal Israel pada 9 Maret 2024 di Gaza tengah.
Militer Israel mengaku masih memeriksa laporan tentang kematiannya, namun Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa militer Zionis sudah membunuh Issa.
Sumber Palestina juga membenarkan bahwa Issa terbunuh oleh serangan rudal jet tempur Israel.
Lihat Juga :