Media AS Soroti Pemilu Indonesia, Sebut Jokowi Biang Kemunduran Demokrasi

Selasa, 13 Februari 2024 - 07:33 WIB
loading...
A A A
Namun, laporan itu kemudian menyajikan kritik dengan mengatakan para pendukung Jokowi mengatakan tugasnya belum selesai dan masih ada masalah mendesak, seperti kesenjangan dan kemiskinan, yang perlu diatasi.

"Para kritikus mengatakan bahwa ketika Presiden Joko Widodo mendorong program infrastruktur dan kesejahteraan, dia juga memimpin kemunduran dalam norma-norma demokrasi," tulis New York Times.

"Dan kini, tambah mereka, dia sedang bermanuver untuk memperluas pengaruhnya di dunia politik setelah dia tidak lagi menjabat."

Selebihnya, Jokowi dipandang mendukung Prabowo Subianto, calon presiden (capres) yang pernah menjadi saingannya dan dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia, untuk menjadi penggantinya—yang bahkan membuat khawatir beberapa pendukungnya.

Hasil pemilu ini dapat menentukan masa depan demokrasi di Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, para pemilih dapat memilih dari tiga capres: Prabowo, Menteri Pertahanan saat ini; Anies Baswedan, mantan Gubernur Jakarta; dan Ganjar Pranowo, yang telah memerintah Jawa Tengah.

Media AS soal Ganjar


Menurut New York Times, setahun yang lalu, banyak masyarakat Indonesia yang menganggap Ganjar—kandidat yang diajukan oleh partai politik pendukung Jokowi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)—adalah kandidat yang bisa ditipu.

Media itulantas menyoroti langkah Ganjar yang pernah melarang tim Israel memasuki Indonesia untuk berlaga di Piala Dunia U-20.

Sekadar diketahui, langkah Ganjar itu sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang membela Palestina.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Topremit Catat 300.000...
Topremit Catat 300.000 Pengguna, Remitansi Digital Kian Digemari
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Berita Terkini
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved