Heboh Pangeran Frederik Calon Raja Denmark: Playboy yang Kisahnya Dijadikan Film Seks
Senin, 08 Januari 2024 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Namun, dia mengindikasikan ada cukup banyak dramatisasi yang terlibat dalam sebuah cerita yang “didasarkan” pada peristiwa nyata.
“Saya memahami bahwa pihak istana mungkin tidak ingin saya membuat film ini, tetapi niat saya bukan untuk bersikap kasar—saya tertarik untuk membuat fiksi berdasarkan fakta,” kata Tafdrup.
“Ini adalah kisah universal tentang bagaimana rasanya menjadi seorang pemuda yang beranjak dewasa, berlatar lingkungan kerajaan—ini jelas bukan sinetron kerajaan.”
Sebagian besar pemberontakannya diduga dipicu oleh keengganannya untuk menjadi raja suatu hari nanti, sehingga menyebabkan hubungan yang tegang dengan ibunya, Ratu Margrethe.
Gitte Redder, seorang komentator keluarga kerajaan Denmark pernah mengatakan kepada AFP bahwa masa kecil Pangeran Frederik juga dirusak oleh kebencian terhadap tugas orang tuanya, yang didahulukan sebelum membesarkan dia dan adik laki-lakinya, Pangeran Joachim.
“Sebagai seorang anak dan remaja, dia merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian media dan pengetahuan bahwa dia akan menjadi raja,” kata Redder.
Setelah Pangeran Frederik bertemu Mary Donaldson di Sydney pada tahun 2000, pasangan tersebut menjalin hubungan jarak jauh selama lebih dari setahun.
Dalam salah satu wawancara tentang pertemuan kebetulan mereka, Putri Mary mengenang bahwa dia tidak tahu siapa pemuda Eropa tampan itu.
“Pertama kali kami bertemu, kami berjabat tangan,” katanya. “Saya tidak tahu dia adalah pangeran Denmark. Setengah jam kemudian seseorang mendatangi saya dan berkata: ‘Apakah Anda tahu siapa orang-orang ini?’”
Pada tahun 2001, dia pindah ke Kopenhagen setelah Ratu memberikan restunya dan mengikuti pelajaran bahasa agar fasih berbahasa Denmark.
Dia mulai tampil bersama anggota keluarga kerajaan, termasuk Ratu, dan mengukuhkan dirinya sebagai sosok yang menenangkan dalam kehidupan kekasihnya.
Pasangan ini menikah pada tahun 2004 dalam sebuah upacara yang gemerlap, dan gambaran Pangeran Frederik menangis saat dia menyaksikan pengantinnya berjalan menyusuri lorong menghangatkan hati di seluruh dunia.
Pada resepsi hari itu juga, Pangeran Frederik menyampaikan pidato yang sangat emosional memuji istrinya dan bersumpah untuk “melindunginya dengan sepenuh hati”.
Dia menceritakan pertemuan mereka empat tahun sebelumnya dengan penuh kasih sayang.
“Saya mendapati diri saya berada di negara asing di antara orang asing yang bahagia dan berpesta," katanya.
“Saya baru berada di Australia dua hari sebelum nasib kami ditentukan, meskipun tidak satu pun dari kami yang menyadarinya. Tapi pancaran sinarmu bersinar jelas bagi saya sejak pertemuan pertama kami," lanjut dia.
“Sejak itu, saya dibutakan olehnya dan bergantung sepenuhnya padanya. “Aku mencintaimu Maria. Ayo, ayo kita pergi, ayo kita lihat. Di ribuan dunia, cinta tanpa bobot menanti."
“Sukacita dan kekuatan yang engkau berikan kepadaku ibarat matahari di siang hari yang dengan pancarannya meluluhkan segala keraguan dan kegelapan di muka Bumi," paparnya.
“Saya memahami bahwa pihak istana mungkin tidak ingin saya membuat film ini, tetapi niat saya bukan untuk bersikap kasar—saya tertarik untuk membuat fiksi berdasarkan fakta,” kata Tafdrup.
“Ini adalah kisah universal tentang bagaimana rasanya menjadi seorang pemuda yang beranjak dewasa, berlatar lingkungan kerajaan—ini jelas bukan sinetron kerajaan.”
Sebagian besar pemberontakannya diduga dipicu oleh keengganannya untuk menjadi raja suatu hari nanti, sehingga menyebabkan hubungan yang tegang dengan ibunya, Ratu Margrethe.
Gitte Redder, seorang komentator keluarga kerajaan Denmark pernah mengatakan kepada AFP bahwa masa kecil Pangeran Frederik juga dirusak oleh kebencian terhadap tugas orang tuanya, yang didahulukan sebelum membesarkan dia dan adik laki-lakinya, Pangeran Joachim.
“Sebagai seorang anak dan remaja, dia merasa sangat tidak nyaman dengan perhatian media dan pengetahuan bahwa dia akan menjadi raja,” kata Redder.
Menjinakkan Pangeran Playboy
Setelah Pangeran Frederik bertemu Mary Donaldson di Sydney pada tahun 2000, pasangan tersebut menjalin hubungan jarak jauh selama lebih dari setahun.
Dalam salah satu wawancara tentang pertemuan kebetulan mereka, Putri Mary mengenang bahwa dia tidak tahu siapa pemuda Eropa tampan itu.
“Pertama kali kami bertemu, kami berjabat tangan,” katanya. “Saya tidak tahu dia adalah pangeran Denmark. Setengah jam kemudian seseorang mendatangi saya dan berkata: ‘Apakah Anda tahu siapa orang-orang ini?’”
Pada tahun 2001, dia pindah ke Kopenhagen setelah Ratu memberikan restunya dan mengikuti pelajaran bahasa agar fasih berbahasa Denmark.
Dia mulai tampil bersama anggota keluarga kerajaan, termasuk Ratu, dan mengukuhkan dirinya sebagai sosok yang menenangkan dalam kehidupan kekasihnya.
Pasangan ini menikah pada tahun 2004 dalam sebuah upacara yang gemerlap, dan gambaran Pangeran Frederik menangis saat dia menyaksikan pengantinnya berjalan menyusuri lorong menghangatkan hati di seluruh dunia.
Pada resepsi hari itu juga, Pangeran Frederik menyampaikan pidato yang sangat emosional memuji istrinya dan bersumpah untuk “melindunginya dengan sepenuh hati”.
Dia menceritakan pertemuan mereka empat tahun sebelumnya dengan penuh kasih sayang.
“Saya mendapati diri saya berada di negara asing di antara orang asing yang bahagia dan berpesta," katanya.
“Saya baru berada di Australia dua hari sebelum nasib kami ditentukan, meskipun tidak satu pun dari kami yang menyadarinya. Tapi pancaran sinarmu bersinar jelas bagi saya sejak pertemuan pertama kami," lanjut dia.
“Sejak itu, saya dibutakan olehnya dan bergantung sepenuhnya padanya. “Aku mencintaimu Maria. Ayo, ayo kita pergi, ayo kita lihat. Di ribuan dunia, cinta tanpa bobot menanti."
“Sukacita dan kekuatan yang engkau berikan kepadaku ibarat matahari di siang hari yang dengan pancarannya meluluhkan segala keraguan dan kegelapan di muka Bumi," paparnya.
Lihat Juga :