Dapat Kecaman Dunia, Israel Masih Sangkal Mengebom Sembarangan di Gaza
Selasa, 19 Desember 2023 - 07:27 WIB
loading...
Mendapat kecaman komunitas internasional, militer Israel masih menyangkal telah mengebom sembarangan di Gaza, Palestina. Foto/REUTERS
A
A
A
TEL AVIV - Dihadapkan dengan meningkatnya kecaman komunitas internasional atas pengeboman sembarangan di Jalur Gaza, Angkatan Udara Israel masih menyangkal.
Seorang perwira Angkatan Udara Israel membela tindakan unitnya dalam perang melawan Hamas.
“Semua bom yang kami gunakan adalah bom berpresisi tinggi,” kata perwira tersebut kepada wartawan saat kunjungan yang diorganisir militer ke Pangkalan Udara Palmahim, di pantai Mediterania di selatan Tel Aviv, Senin.
Angkatan Udara Israel telah memainkan peran penting dalam respons militer terhadap serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.
Baca Juga: Setengah dari Seluruh Senjata yang Dijatuhkan Israel di Gaza Adalah Bom Bodoh
Tak lama setelah serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya di Israel selatan, militer Zionis pertama-tama merespons dengan serangan udara besar-besaran, kemudian mengirimkan pasukan darat ke Gaza yang terkepung.
Serangan Israel, yang bertujuan menghancurkan Hamas, telah menewaskan sedikitnya 19.453 orang di Gaza, sebagian besar adalah warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza.
Jumlah korban tewas di Gaza telah membuat Israel mendapat kecaman internasional, termasuk dari sekutu dekatnya; Amerika Serikat (AS).
Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan Israel berisiko kehilangan dukungan internasional karena pengeboman “tanpa pandang bulu” di Gaza.
“Saya ingin mereka fokus pada cara menyelamatkan nyawa warga sipil—bukan berhenti mengejar Hamas, tapi lebih berhati-hati,” kata Biden.
Namun bagi perwira Israel, yang namanya dilarang dipublikasikan karena aturan sensor Israel, “Kami tidak perlu orang Amerika memahami bahwa kita ingin membatasi jumlah korban.”
“Kami tidak perlu mengubah prinsip-prinsip kami mengingat keprihatinan internasional," katanya lagi, seraya mengeklaim bahwa pasukan Israel bertujuan untuk membatasi korban sipil sejak awal.
Sebuah laporan oleh Direktur Intelijen Nasional Washington, yang dikutip oleh media AS, mengatakan bahwa hampir setengah dari amunisi yang dijatuhkan oleh pesawat Israel di Gaza adalah "bom bodoh”—amunisi tidak terarah dengan akurasi terbatas.
Perwira Israel tersebut mengatakan penilaian itu tidak akurat.
“Tidak ada bom bodoh yang digunakan dalam perang saat ini," katanya kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Selasa (19/12/2023).
“Semua bom memiliki (target) yang akurat, beberapa di antaranya dengan GPS, beberapa di antaranya dengan kamera, beberapa di antaranya dengan komputer di dalam jet tempur," lanjut dia.
Militer Israel menegaskan Hamas harus disalahkan atas banyaknya korban sipil, dan menuduh kelompok perlawanan Palestina tersebut menggunakan warga Palestina yang tidak bersalah sebagai “perisai manusia” dan beroperasi di rumah sakit, sekolah, dan fasilitas PBB.
“Bagi Hamas, kematian warga sipil adalah sebuah strategi,” kata juru bicara militer Daniel Hagari, pada hari Senin.
“Bagi kami, ini adalah sebuah tragedi," katanya lagi.
"Gaza, wilayah sempit berpenduduk 2,4 juta orang, memiliki warga sipil, penduduk dan teroris di daerah ramai," imbuh perwira Angkatan Udara Israel.
“Di satu sisi, kita harus sangat kuat, menggunakan banyak amunisi, (dan) di sisi lain menggunakannya dengan tepat.”
Seorang perwira Angkatan Udara Israel membela tindakan unitnya dalam perang melawan Hamas.
“Semua bom yang kami gunakan adalah bom berpresisi tinggi,” kata perwira tersebut kepada wartawan saat kunjungan yang diorganisir militer ke Pangkalan Udara Palmahim, di pantai Mediterania di selatan Tel Aviv, Senin.
Angkatan Udara Israel telah memainkan peran penting dalam respons militer terhadap serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.
Baca Juga: Setengah dari Seluruh Senjata yang Dijatuhkan Israel di Gaza Adalah Bom Bodoh
Tak lama setelah serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya di Israel selatan, militer Zionis pertama-tama merespons dengan serangan udara besar-besaran, kemudian mengirimkan pasukan darat ke Gaza yang terkepung.
Serangan Israel, yang bertujuan menghancurkan Hamas, telah menewaskan sedikitnya 19.453 orang di Gaza, sebagian besar adalah warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza.
Jumlah korban tewas di Gaza telah membuat Israel mendapat kecaman internasional, termasuk dari sekutu dekatnya; Amerika Serikat (AS).
Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan Israel berisiko kehilangan dukungan internasional karena pengeboman “tanpa pandang bulu” di Gaza.
“Saya ingin mereka fokus pada cara menyelamatkan nyawa warga sipil—bukan berhenti mengejar Hamas, tapi lebih berhati-hati,” kata Biden.
Namun bagi perwira Israel, yang namanya dilarang dipublikasikan karena aturan sensor Israel, “Kami tidak perlu orang Amerika memahami bahwa kita ingin membatasi jumlah korban.”
“Kami tidak perlu mengubah prinsip-prinsip kami mengingat keprihatinan internasional," katanya lagi, seraya mengeklaim bahwa pasukan Israel bertujuan untuk membatasi korban sipil sejak awal.
Sebuah laporan oleh Direktur Intelijen Nasional Washington, yang dikutip oleh media AS, mengatakan bahwa hampir setengah dari amunisi yang dijatuhkan oleh pesawat Israel di Gaza adalah "bom bodoh”—amunisi tidak terarah dengan akurasi terbatas.
Perwira Israel tersebut mengatakan penilaian itu tidak akurat.
“Tidak ada bom bodoh yang digunakan dalam perang saat ini," katanya kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Selasa (19/12/2023).
“Semua bom memiliki (target) yang akurat, beberapa di antaranya dengan GPS, beberapa di antaranya dengan kamera, beberapa di antaranya dengan komputer di dalam jet tempur," lanjut dia.
Militer Israel menegaskan Hamas harus disalahkan atas banyaknya korban sipil, dan menuduh kelompok perlawanan Palestina tersebut menggunakan warga Palestina yang tidak bersalah sebagai “perisai manusia” dan beroperasi di rumah sakit, sekolah, dan fasilitas PBB.
“Bagi Hamas, kematian warga sipil adalah sebuah strategi,” kata juru bicara militer Daniel Hagari, pada hari Senin.
“Bagi kami, ini adalah sebuah tragedi," katanya lagi.
"Gaza, wilayah sempit berpenduduk 2,4 juta orang, memiliki warga sipil, penduduk dan teroris di daerah ramai," imbuh perwira Angkatan Udara Israel.
“Di satu sisi, kita harus sangat kuat, menggunakan banyak amunisi, (dan) di sisi lain menggunakannya dengan tepat.”
(mas)
Lihat Juga :