Rudal Jelajah Nuklir Stormbringer Rusia Bisa Bikin Bangkrut Mesin Perang AS
Sabtu, 07 Oktober 2023 - 10:00 WIB
loading...
A
A
A
Kemampuan itu memberikan senjata itu dapat mencapai semua maksud dan tujuan dalam jangkauan yang tidak terbatas.
Pekerjaan pengembangan Burevestnik dimulai pada Desember 2001, tak lama setelah AS mengumumkan niatnya untuk menarik diri dari Kesepakatan ABM.
"Burevestnik", yang dalam bahasa Rusia berarti "pembawa badai", "nabi badai", atau "petrel", adalah nama yang diberikan untuk calon rudal jelajah tersebut pada tahun 2018, beberapa pekan setelah keberadaannya terungkap, dalam pemungutan suara online yang terbuka untuk umum oleh Kementerian Pertahanan Rusia.
Walaupun sebagian besar karakteristik Burevestnik, termasuk muatannya, masih dirahasiakan, rekaman senjata yang dirilis militer telah memberikan gambaran kasar kepada para ahli tentang beberapa parameternya, dengan konturnya yang tampak kira-kira sebanding dengan seri senjata rudal jelajah jarak jauh Kh-101. Meskipun demikian Burevestnik tampaknya dua kali lebih besar.
Selain itu, sayap rudal jelajah terlihat menggantung di atas badan pesawat, bukan di bawahnya, seperti pada kasus Kh-101.
Burevestnik dilaporkan memiliki mesin starter berbahan bakar propelan padat, dengan penggerak dalam penerbangan disediakan oleh mesin pernafasan udara nuklir (ramjet) atau mesin turbojet.
Rudal tersebut memiliki panjang peluncuran sekitar 12 meter, yang menyusut menjadi 9 meter saat mesin peluncuran dimatikan.
Detail mengenai pengembangan dan karakteristik pembangkit listrik tenaga nuklir kecil Burevestnik juga masih diselimuti misteri.
Namun, tak lama setelah pidato Putin pada Maret 2018 yang memperkenalkan senjata tersebut, satu sumber mengatakan kepada media Rusia bahwa para ilmuwan telah menyelesaikan pengujian pembangkit listrik yang dapat digunakan dalam rudal jelajah dan kendaraan bawah air otonom yang berlayar di lautan.
Hal itu mengisyaratkan Burevestnik dan Poseidon menggunakan modifikasi dari energi nuklir yang sama.
Pekerjaan pengembangan Burevestnik dimulai pada Desember 2001, tak lama setelah AS mengumumkan niatnya untuk menarik diri dari Kesepakatan ABM.
"Burevestnik", yang dalam bahasa Rusia berarti "pembawa badai", "nabi badai", atau "petrel", adalah nama yang diberikan untuk calon rudal jelajah tersebut pada tahun 2018, beberapa pekan setelah keberadaannya terungkap, dalam pemungutan suara online yang terbuka untuk umum oleh Kementerian Pertahanan Rusia.
Walaupun sebagian besar karakteristik Burevestnik, termasuk muatannya, masih dirahasiakan, rekaman senjata yang dirilis militer telah memberikan gambaran kasar kepada para ahli tentang beberapa parameternya, dengan konturnya yang tampak kira-kira sebanding dengan seri senjata rudal jelajah jarak jauh Kh-101. Meskipun demikian Burevestnik tampaknya dua kali lebih besar.
Selain itu, sayap rudal jelajah terlihat menggantung di atas badan pesawat, bukan di bawahnya, seperti pada kasus Kh-101.
Burevestnik dilaporkan memiliki mesin starter berbahan bakar propelan padat, dengan penggerak dalam penerbangan disediakan oleh mesin pernafasan udara nuklir (ramjet) atau mesin turbojet.
Rudal tersebut memiliki panjang peluncuran sekitar 12 meter, yang menyusut menjadi 9 meter saat mesin peluncuran dimatikan.
Detail mengenai pengembangan dan karakteristik pembangkit listrik tenaga nuklir kecil Burevestnik juga masih diselimuti misteri.
Namun, tak lama setelah pidato Putin pada Maret 2018 yang memperkenalkan senjata tersebut, satu sumber mengatakan kepada media Rusia bahwa para ilmuwan telah menyelesaikan pengujian pembangkit listrik yang dapat digunakan dalam rudal jelajah dan kendaraan bawah air otonom yang berlayar di lautan.
Hal itu mengisyaratkan Burevestnik dan Poseidon menggunakan modifikasi dari energi nuklir yang sama.
(sya)
Lihat Juga :