Pakar: Jika Arab Saudi Bersenjata Nuklir, Efeknya Domino Termasuk pada Iran dan Israel
Jum'at, 29 September 2023 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan Putra Mahkota Mohammed bin Salman diikuti oleh Arab Saudi yang mengumumkan bahwa mereka berkomitmen untuk melanjutkan programnya untuk membangun industri tenaga nuklir sipil, sambil memungkinkan pengawasan yang lebih besar bagi para inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
“Kerajaan baru-baru ini mengambil keputusan untuk membatalkan Protokol Kuantitas Kecil dan beralih ke penerapan Perjanjian Perlindungan Komprehensif (CSA) dengan cakupan penuh,” kata Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman al-Saud dalam konferensi tahunan IAEA di Wina pada Senin lalu.
Saat ini, Arab Saudi memiliki reaktor riset daya rendah (LPRR) berkapasitas 30 kWt yang sedang dibangun di King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST) di Riyadh oleh INVAP Argentina.
Proyek ini resmi diluncurkan pada November 2018, dan belum dioperasikan. Protokol Kuantitas Kecil (SQP) IAEA mengecualikan negara-negara yang memiliki sedikit atau tanpa bahan nuklir dari banyak persyaratan inspeksi dan transparansi. Namun, peralihan ke CSA berarti negara Teluk Arab ini akan dapat mengakses pasokan bahan fisil dan, selanjutnya, meluncurkan reaktor pertamanya.
Selain itu, perdebatan seputar kemungkinan Arab Saudi memperoleh senjata nuklir muncul ketika Riyadh dan Tel Aviv bersiap untuk mencapai kesepakatan yang akan menormalisasi hubungan antara kedua negara.
Sebuah outlet media AS melaporkan pada awal bulan ini, mengutip Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer yang dikenal sebagai “orang kepercayaan utama” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahwa kesepakatan normalisasi akan tercapai dalam waktu dekat.
“Kerajaan baru-baru ini mengambil keputusan untuk membatalkan Protokol Kuantitas Kecil dan beralih ke penerapan Perjanjian Perlindungan Komprehensif (CSA) dengan cakupan penuh,” kata Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman al-Saud dalam konferensi tahunan IAEA di Wina pada Senin lalu.
Saat ini, Arab Saudi memiliki reaktor riset daya rendah (LPRR) berkapasitas 30 kWt yang sedang dibangun di King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST) di Riyadh oleh INVAP Argentina.
Proyek ini resmi diluncurkan pada November 2018, dan belum dioperasikan. Protokol Kuantitas Kecil (SQP) IAEA mengecualikan negara-negara yang memiliki sedikit atau tanpa bahan nuklir dari banyak persyaratan inspeksi dan transparansi. Namun, peralihan ke CSA berarti negara Teluk Arab ini akan dapat mengakses pasokan bahan fisil dan, selanjutnya, meluncurkan reaktor pertamanya.
Selain itu, perdebatan seputar kemungkinan Arab Saudi memperoleh senjata nuklir muncul ketika Riyadh dan Tel Aviv bersiap untuk mencapai kesepakatan yang akan menormalisasi hubungan antara kedua negara.
Sebuah outlet media AS melaporkan pada awal bulan ini, mengutip Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer yang dikenal sebagai “orang kepercayaan utama” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahwa kesepakatan normalisasi akan tercapai dalam waktu dekat.
(mas)
Lihat Juga :