Tenaga Medis-Tentara Prioritas Jadi Jamaah Haji
Selasa, 28 Juli 2020 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Kementerian Kesehatan Saudi melaporkan telah melaksanakan 57.216 tes PCR dalam 24 jam terakhir dengan total tes mencapai 3.056.956. Sebanyak 1.968 kasus korona baru dilaporkan pada Minggu (26/7) sehingga jumlah total kasus mencapai 266.941. Sebanyak 43.885 kasus berstatus aktif dan 2.120 di antaranya dalam perawatan intensif. Sebanyak 30 pasien korona meninggal dan menjadikan jumlah korban meninggal menjadi 2.733 orang.
Sementara itu, The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives menyebutkan ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan dalam sejarahnya dengan alasan beragam, mulai dari perang sampai wabah penyakit menular. Pada 1814 Kerajaan Arab Saudi dilanda wabah Thaun, yang juga melanda Mekkah dan Madinah sehingga Kakbah harus ditutup sementara.
Lalu, pada 1831 ada wabah dari India, yang dicurigai adalah kolera, dan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji. Periset mencatat setidaknya 75% jamaah haji meninggal dunia dan pelaksanaannya dihentikan di tengah jalan. Kolera kembali ditemukan di Arab Saudi pada 1846-1892, dan haji pun batal dilaksanakan pada 1850, 1865, dan 1883.
Ibadah haji sempat dilaksanakan pada 1864, namun menelan 1.000 korban jiwa per harinya karena terjangkit kolera. Pada 1987, wabah meningitis menyambangi ibadah haji dan penyebaran penyakit ini menginfeksi setidaknya 10.000 peserta haji. (Lihat videonya: Kawanan Monyet Liar Serbu Permukiman Warga Lembang Bandung)
Sedikitnya jumlah jamaah haji ini menimbulkan kerugian besar bagi Saudi. Padahal, saat ini Saudi juga mengalami penurunan pendapatan di sektor minyak. Riyadh juga sudah meningkatkan pajak pertambahan nilai dan memotong tunjangan pegawai negeri. Pandemi juga menyebabkan bisnis terkait haji dan umrah mengalami kebangkrutan dan ratusan ribu pekerja di Mekkah dari biro perjalanan wisata hingga toko suvenir pun tidak bisa bekerja.
Berbagai proyek konstruksi di Mekkah baik mal, apartemen, maupun hotel mewah juga dihentikan. Mekkah bagaikan kota sepi karena pandemi saat Saudi menunda pelaksanaan umrah sejak Maret lalu. Padahal, jamaah haji dan umrah mampu menghasilkan USD12 miliar setiap tahunnya sehingga menghidupkan ekonomi Mekkah. “Terbatasnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini menyebabkan penurunan pendapatan penduduk Saudi,” kata Sofia Meranto dari lembaga analis ekonomi Eurasia Group. (Andika H Mustaqim)
Sementara itu, The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives menyebutkan ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan dalam sejarahnya dengan alasan beragam, mulai dari perang sampai wabah penyakit menular. Pada 1814 Kerajaan Arab Saudi dilanda wabah Thaun, yang juga melanda Mekkah dan Madinah sehingga Kakbah harus ditutup sementara.
Lalu, pada 1831 ada wabah dari India, yang dicurigai adalah kolera, dan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji. Periset mencatat setidaknya 75% jamaah haji meninggal dunia dan pelaksanaannya dihentikan di tengah jalan. Kolera kembali ditemukan di Arab Saudi pada 1846-1892, dan haji pun batal dilaksanakan pada 1850, 1865, dan 1883.
Ibadah haji sempat dilaksanakan pada 1864, namun menelan 1.000 korban jiwa per harinya karena terjangkit kolera. Pada 1987, wabah meningitis menyambangi ibadah haji dan penyebaran penyakit ini menginfeksi setidaknya 10.000 peserta haji. (Lihat videonya: Kawanan Monyet Liar Serbu Permukiman Warga Lembang Bandung)
Sedikitnya jumlah jamaah haji ini menimbulkan kerugian besar bagi Saudi. Padahal, saat ini Saudi juga mengalami penurunan pendapatan di sektor minyak. Riyadh juga sudah meningkatkan pajak pertambahan nilai dan memotong tunjangan pegawai negeri. Pandemi juga menyebabkan bisnis terkait haji dan umrah mengalami kebangkrutan dan ratusan ribu pekerja di Mekkah dari biro perjalanan wisata hingga toko suvenir pun tidak bisa bekerja.
Berbagai proyek konstruksi di Mekkah baik mal, apartemen, maupun hotel mewah juga dihentikan. Mekkah bagaikan kota sepi karena pandemi saat Saudi menunda pelaksanaan umrah sejak Maret lalu. Padahal, jamaah haji dan umrah mampu menghasilkan USD12 miliar setiap tahunnya sehingga menghidupkan ekonomi Mekkah. “Terbatasnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini menyebabkan penurunan pendapatan penduduk Saudi,” kata Sofia Meranto dari lembaga analis ekonomi Eurasia Group. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :