Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Senin, 13 Juli 2020 - 06:38 WIB
Bukan hanya Hagia Sophia, gereja Bizantium, yang diubah menjadi masjid. Pada 2019 pengadilan setempat juga memutuskan Chora, gereja Bizantium di Istanbul yang pernah menjadi masjid dan kemudian berubah menjadi museum dan kini status museumnya juga telah dibatalkan. Bangunan dari abad yang sama di Iznik dan Trabzon juga berubah fungsi menjadi masjid pada 2011 dan 2013. Itu semua karena menguatnya kepemimpinan Erdogan yang mendapatkan dukungan dari kalangan Islam.
Dalam pandangan Sinem Adar, peneliti di Pusat Kajian Turki di German Institute for International and Security Affairs, perubahan Hagia Sophia menjadi masjid bukan hanya mobilisasi populer. “Itu adalah retorika perang untuk melindungi kedaulatan nasional,” kata Adar, dilansir The Guardian.
Ikonik
Hagia Sophia memang menarik perhatian. Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih di Kota Istanbul, di sisi barat Selat Bosporus. Kaisar Bizantium Justinian I memerintahkan pembangunan katedral berukuran besar di Konstantinopel yang saat itu menjadi ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Romawi. Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut.
Setelah pembangunan katedral itu rampung pada 537, kota ini menjadi tempat kedudukan pimpinan gereja Ortodoks. Upacara kenegaraan Kekaisaran Bizantium, seperti penobatan, dilangsungkan di bangunan tersebut.
Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun, tetapi sempat dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat. (Baca juga: Dunia Harus Didorong Tolak Aneksasi Barat)
Tetapi, pada 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya. Saat memasuki Hagia Sophia, Mehmed II bersikeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Dia pun menghadiri salat Jumat pertama di gedung itu. Para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.
Hingga selesai pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia. Setelah berakhir Perang Dunia I pada 1918, Kekhalifahan Utsmaniyah yang mengalami kekalahan, wilayahnya dipecah-pecah oleh negara-negara sekutu sebagai pihak yang menang. Sejak dibuka kembali untuk umum pada 1935, tempat ini menjadi satu di antara tempat wisata paling banyak dikunjungi di Turki.
Dalam pandangan Sinem Adar, peneliti di Pusat Kajian Turki di German Institute for International and Security Affairs, perubahan Hagia Sophia menjadi masjid bukan hanya mobilisasi populer. “Itu adalah retorika perang untuk melindungi kedaulatan nasional,” kata Adar, dilansir The Guardian.
Ikonik
Hagia Sophia memang menarik perhatian. Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih di Kota Istanbul, di sisi barat Selat Bosporus. Kaisar Bizantium Justinian I memerintahkan pembangunan katedral berukuran besar di Konstantinopel yang saat itu menjadi ibu kota Kekaisaran Bizantium atau Romawi. Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut.
Setelah pembangunan katedral itu rampung pada 537, kota ini menjadi tempat kedudukan pimpinan gereja Ortodoks. Upacara kenegaraan Kekaisaran Bizantium, seperti penobatan, dilangsungkan di bangunan tersebut.
Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun, tetapi sempat dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat. (Baca juga: Dunia Harus Didorong Tolak Aneksasi Barat)
Tetapi, pada 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya. Saat memasuki Hagia Sophia, Mehmed II bersikeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Dia pun menghadiri salat Jumat pertama di gedung itu. Para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.
Hingga selesai pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia. Setelah berakhir Perang Dunia I pada 1918, Kekhalifahan Utsmaniyah yang mengalami kekalahan, wilayahnya dipecah-pecah oleh negara-negara sekutu sebagai pihak yang menang. Sejak dibuka kembali untuk umum pada 1935, tempat ini menjadi satu di antara tempat wisata paling banyak dikunjungi di Turki.
Lihat Juga :