AS Dakwa Anggota IRGC Berencana Bunuh Eks Penasihat Trump
Kamis, 11 Agustus 2022 - 01:25 WIB
AS dakwa anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) berencena membunuh eks penasihat kemanana nasional mantan Presiden Donald Trump, John Bolton. Foto/CNBC
WASHINGTON - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mendakwa seorang operator militer Iran karena merencanakan untuk membunuh mantan penasihat keamanan nasional eks Presiden Donald Trump, John Bolton .
Menurut dokumen pengadilan, Shahram Poursafi (45) dari Teheran, Iran, didakwa mencoba mengatur pembunuhah terhadap Bolton. Itu dimaksudkan sebagai pembalasan atas serangan udara AS yang menewaskan komandan tertinggi Iran, Jenderal Qasem Soleimani, pada Januari 2020.
Soleimani, yang memimpin unit elit pasukan khusus Korps Garda Revolusi Iran, telah menjadi tokoh kunci politik Iran dan Timur Tengah dan kematiannya memperburuk ketegangan yang sudah tinggi antara Iran dan Amerika Serikat serta memicu kekhawatiran pembalasan dari pasukan Iran.
Bolton, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional ketiga Trump selama 17 bulan sebelum mengundurkan diri, adalah arsitek utama kampanye "tekanan maksimum" pemerintah AS terhadap Iran. Bolton lebih menyukai sanksi ekonomi yang meningkat dan ancaman pembalasan atas perilaku buruk Iran.
Poursafi, seorang anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran dan bekerja atas nama kelompok tersebut, berusaha untuk membayar individu-individu di Amerika Serikat pada Oktober 2021 sebesar USD300.000 atau sekitar Rp4,4 miliar untuk melaksanakan plot di Washington D.C. atau Maryland.
Baca juga: AS Resmi Setujui 2 Anggota Baru, Biden: NATO Lebih Kuat dari Sebelumnya
Menurut dokumen pengadilan, Shahram Poursafi (45) dari Teheran, Iran, didakwa mencoba mengatur pembunuhah terhadap Bolton. Itu dimaksudkan sebagai pembalasan atas serangan udara AS yang menewaskan komandan tertinggi Iran, Jenderal Qasem Soleimani, pada Januari 2020.
Soleimani, yang memimpin unit elit pasukan khusus Korps Garda Revolusi Iran, telah menjadi tokoh kunci politik Iran dan Timur Tengah dan kematiannya memperburuk ketegangan yang sudah tinggi antara Iran dan Amerika Serikat serta memicu kekhawatiran pembalasan dari pasukan Iran.
Bolton, yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional ketiga Trump selama 17 bulan sebelum mengundurkan diri, adalah arsitek utama kampanye "tekanan maksimum" pemerintah AS terhadap Iran. Bolton lebih menyukai sanksi ekonomi yang meningkat dan ancaman pembalasan atas perilaku buruk Iran.
Poursafi, seorang anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran dan bekerja atas nama kelompok tersebut, berusaha untuk membayar individu-individu di Amerika Serikat pada Oktober 2021 sebesar USD300.000 atau sekitar Rp4,4 miliar untuk melaksanakan plot di Washington D.C. atau Maryland.
Baca juga: AS Resmi Setujui 2 Anggota Baru, Biden: NATO Lebih Kuat dari Sebelumnya
Lihat Juga :