Terus Tertundanya Rekonstruksi Pasca Perang Perparah Penderitaan Warga Gaza
Rabu, 18 Agustus 2021 - 06:11 WIB
Pria berusia 35 tahun itu mengeluhkan kondisi ekonomi yang sulit saat ini, terlebih dia sudah kehilangan semua barang dan perabotan mereka. Dia mengungkapkan harapan bahwa rekonstruksi dapat segera dimulai.
"Saya tahu banyak pemilik tanah yang rumahnya hancur dalam perang sebelumnya dengan Israel, dan mereka masih kehilangan tempat tinggal," kata Skaik khawatir.
Baca: Israel Mulai Proyek Yudaisasi di Masjid Ibrahimi, Bangun Lift untuk Umat Yahudi
Menurut statistik resmi Israel, Israel meluncurkan lebih dari 1.800 serangan udara, laut dan darat di Jalur Gaza selama serangan Mei, menargetkan rumah, bangunan tempat tinggal, markas pemerintah, dan infrastruktur.
Serangan Israel di daerah kantong pantai Palestina menyebabkan lebih dari 107 ribu orang mengungsi, 44 ribu dari mereka sekarang berada di tempat penampungan dan sisanya tinggal bersama kerabat mereka.
Um Mohammed, seorang wanita dari kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, melihat rumahnya rusak parah selama serangan udara Israel pada bulan Mei. "Rumah beratap seng saya menjadi tidak layak huni setelah serangan Israel yang menargetkan daerah itu dan menghancurkan sebagian besar rumah saya," kata ibu empat anak berusia 39 tahun itu.
"Kami hidup dalam kondisi psikologis yang sulit. Hari-hari berlalu tanpa harapan yang jelas untuk segera membangun kembali rumah," ungkapnya.
"Saya tahu banyak pemilik tanah yang rumahnya hancur dalam perang sebelumnya dengan Israel, dan mereka masih kehilangan tempat tinggal," kata Skaik khawatir.
Baca: Israel Mulai Proyek Yudaisasi di Masjid Ibrahimi, Bangun Lift untuk Umat Yahudi
Menurut statistik resmi Israel, Israel meluncurkan lebih dari 1.800 serangan udara, laut dan darat di Jalur Gaza selama serangan Mei, menargetkan rumah, bangunan tempat tinggal, markas pemerintah, dan infrastruktur.
Serangan Israel di daerah kantong pantai Palestina menyebabkan lebih dari 107 ribu orang mengungsi, 44 ribu dari mereka sekarang berada di tempat penampungan dan sisanya tinggal bersama kerabat mereka.
Um Mohammed, seorang wanita dari kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, melihat rumahnya rusak parah selama serangan udara Israel pada bulan Mei. "Rumah beratap seng saya menjadi tidak layak huni setelah serangan Israel yang menargetkan daerah itu dan menghancurkan sebagian besar rumah saya," kata ibu empat anak berusia 39 tahun itu.
"Kami hidup dalam kondisi psikologis yang sulit. Hari-hari berlalu tanpa harapan yang jelas untuk segera membangun kembali rumah," ungkapnya.
Lihat Juga :