Arab Saudi-Israel 'Mesra', Yordania Cemaskan Nasib Masjid al-Aqsa
Jum'at, 27 November 2020 - 11:06 WIB
Para pemimpin Yordania sekarang takut Donald Trump, wakil presidennya; Mike Pence, dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, bersama dengan PM Netanyahu, mungkin tergoda untuk mengubah dinamika itu dengan menawarkan situs-situs tersebut ke Arab Saudi sebagai inti dari kesepakatan normalisasi hubungan Israel-Saudi. Dampak dari langkah seperti itu akan mengecilkan pakta yang ditandatangani dalam beberapa pekan terakhir antara Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain.
Menghangatnya hubungan antara Arab Saudi dan Israel telah mendekati bagian atas daftar keinginan presiden Trump soal kebijakan Timur Tengah-nya, seperti memperkuat Riyadh dengan mengorbankan musuhnya Iran. (Baca: Menlu Saudi Bantah Putra Mahkota MBS Bertemu PM Israel Netanyahu )
Adnan Abu-Odeh, mantan asisten senior Raja Abdullah II dan ayahnya; Raja Hussein, mengatakan bahwa perwalian Haram al-Sharif telah menjadi landasan Dinasti Hashemite dan rasa bangga bagi Yordania. Dia mengatakan pengaturan itu disebutkan dalam perjanjian damai yang ditandatangani antara kedua negara, yang berarti klaim Yordania untuk mempertahankan status quo kuat.
"Secara historis, aspek agama adalah kunci dalam legitimasi penguasa dan Hashemite, setelah meninggalkan Hijaz, memperoleh legitimasi mereka dari Yerusalem," katanya.
"Israel mempraktikkan tekanan dan pemerasan atas Yordania dengan masalah hak asuh dan mereka mengancam untuk memberikannya kepada Saudi dan itu tidak terlalu jauh, dan saya percaya Yang Mulia Raja mengerti itu."
Dinasti Hashemite, penguasa Yordania modern, menguasai kota suci Makkah selama berabad-abad hingga ditaklukkan pada tahun 1924 oleh Dinasti al-Saud. Kota dan signifikansi agama lain yang sangat besar; Madinah, dimasukkan ke dalam Arab Saudi, sementara al-Aqsa jatuh di bawah kendali Hashemite. Sejak saat itu, kedua garis keturunan kuat itu terlibat dalam perebutan pengaruh, yang semakin didominasi oleh Arab Saudi karena didukung oleh dolar dan minyak yang telah mengubah Kerajaan Arab Saudi menjadi kelas berat regional.
Mantan pembantu senior kerajaan dan menteri luar negeri Yordania, Jawad Anani, mengatakan; "Sejauh menyangkut Israel dan Netanyahu, Arab Saudi adalah hadiah besar sekarang."
Menghangatnya hubungan antara Arab Saudi dan Israel telah mendekati bagian atas daftar keinginan presiden Trump soal kebijakan Timur Tengah-nya, seperti memperkuat Riyadh dengan mengorbankan musuhnya Iran. (Baca: Menlu Saudi Bantah Putra Mahkota MBS Bertemu PM Israel Netanyahu )
Adnan Abu-Odeh, mantan asisten senior Raja Abdullah II dan ayahnya; Raja Hussein, mengatakan bahwa perwalian Haram al-Sharif telah menjadi landasan Dinasti Hashemite dan rasa bangga bagi Yordania. Dia mengatakan pengaturan itu disebutkan dalam perjanjian damai yang ditandatangani antara kedua negara, yang berarti klaim Yordania untuk mempertahankan status quo kuat.
"Secara historis, aspek agama adalah kunci dalam legitimasi penguasa dan Hashemite, setelah meninggalkan Hijaz, memperoleh legitimasi mereka dari Yerusalem," katanya.
"Israel mempraktikkan tekanan dan pemerasan atas Yordania dengan masalah hak asuh dan mereka mengancam untuk memberikannya kepada Saudi dan itu tidak terlalu jauh, dan saya percaya Yang Mulia Raja mengerti itu."
Dinasti Hashemite, penguasa Yordania modern, menguasai kota suci Makkah selama berabad-abad hingga ditaklukkan pada tahun 1924 oleh Dinasti al-Saud. Kota dan signifikansi agama lain yang sangat besar; Madinah, dimasukkan ke dalam Arab Saudi, sementara al-Aqsa jatuh di bawah kendali Hashemite. Sejak saat itu, kedua garis keturunan kuat itu terlibat dalam perebutan pengaruh, yang semakin didominasi oleh Arab Saudi karena didukung oleh dolar dan minyak yang telah mengubah Kerajaan Arab Saudi menjadi kelas berat regional.
Mantan pembantu senior kerajaan dan menteri luar negeri Yordania, Jawad Anani, mengatakan; "Sejauh menyangkut Israel dan Netanyahu, Arab Saudi adalah hadiah besar sekarang."
Lihat Juga :