Diplomat AS: Iran Akan Menyesal Jika Serang atau Bunuh Warga Amerika

Sabtu, 21 November 2020 - 02:11 WIB
Kampanye tekanan maksimum pemerintahan Donald Trump akan berlanjut di minggu-minggu dan bulan-bulan terakhir masa jabatannya sebagai presiden AS.

“Program sanksi secara umum akan terus berlanjut. Kami tidak pernah mengumumkan sanksi sebelumnya, tapi ini adalah kampanye tekanan maksimum. Akan ada sanksi lagi pada November dan Desember, jadi Anda bisa mengharapkan itu, ya," kata Abrams. (Baca juga: Obama Sindir Trump Mungkin Diseret Navy SEAL Keluar dari Gedung Putih )

Adapun kesepakatan nuklir Iran yang baru, Abrams memperingatkan agar tidak kehilangan momentum yang dibangun sebagai pengaruh oleh pemerintahan Trump. Pemerintah Trump pada 2018 lalu menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani oleh Iran dan P5 + 1 (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).

“Jika Anda mencoba untuk kembali ke (Joint Comprehensive Plan of Action/Rencana Aksi Komprehensif Bersama) dan membuang semua pengaruh itu, hasilnya akan sangat, sangat disayangkan bagi Amerika Serikat dan untuk semua teman dan mitra kita di kawasan dan semua Tetangga Iran," paparnya.

Abrams merujuk pada komentar presiden terpilih AS Joe Biden sebelumnya bahwa ia bermaksud membawa AS untuk bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran.

“Jadi, pandangan kami adalah bahwa pengaruh ada di sana, dan Amerika Serikat harus menggunakannya untuk mendapatkan kesepakatan yang jauh lebih baik daripada JCPOA,” kata Abrams.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!