Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Kamis, 18 Juni 2026 - 14:04 WIB
Selain pembahasan tentang Soleimani selama konferensi pers, Trump juga beralih untuk memuji pekerjaan yang telah dilakukan pemerintahannya di Jalur Gaza.
AS menengahi kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Hamas dan Israel tahun lalu, tetapi kesepakatan itu terhenti, karena kelompok perlawanan Palestina tersebut menolak untuk menerapkan persyaratan fase kedua yaitu menyerahkan senjatanya, sementara Israel telah melanggar ketentuan fase pertama yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan, dan penghentian serangan di Jalur Gaza.
Namun, Trump tampak terkesan dengan apa yang telah dilihatnya.
“Lihatlah pekerjaan yang telah kami lakukan di Gaza. Hamas sangat diam. Anda belum membaca apa pun tentang Hamas,” katanya, sementara Israel memperingatkan bahwa Hamas sedang membangun kembali kekuatannya di Jalur Gaza.
“Saat mereka lahir, mereka sudah memiliki senapan mesin di tangan mereka, jadi itu bukan hal yang mudah, tetapi mereka sebenarnya berperilaku cukup baik, mengingat ini bukanlah gaya hidup yang diajarkan kepada mereka,” imbuh Trump.
Pernyataan lain yang tampaknya spontan berkaitan dengan Uni Emirat Arab (UEA), yang menurut Trump ikut serta dalam pengeboman terhadap Iran. Abu Dhabi belum secara terbuka mengonfirmasi hal itu hingga saat ini.
Trump memuji Presiden UEA Mohammed bin Zayed, menyebutnya sebagai “pejuang yang luar biasa".
“Dia menjatuhkan bom minggu lalu. Saya berkata, ‘Siapa yang menjatuhkan semua bom itu?’ Itu UEA,” seru Trump.
Meskipun hubungan Israel dengan banyak negara tetangganya tegang karena perbedaan pendapat mengenai kebijakannya di Gaza, Tepi Barat, Suriah, Lebanon, dan Iran, Trump kembali menyatakan harapannya agar negara-negara di kawasan itu bergabung dengan Abraham Accords (Kesepakatan Abraham).
Bulan lalu, Trump mengancam tidak akan menandatangani perjanjian dengan Iran jika negara-negara tersebut tidak bergabung dengan Kesepakatan Abraham, meskipun tampaknya dia telah melonggarkan tuntutan tersebut.
Trump dilaporkan mengatakan kepada Netanyahu dalam sebuah panggilan telepon awal bulan ini bahwa "semua orang membenci Israel" karena cara Israel menindak Hizbullah di Lebanon.
AS menengahi kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Hamas dan Israel tahun lalu, tetapi kesepakatan itu terhenti, karena kelompok perlawanan Palestina tersebut menolak untuk menerapkan persyaratan fase kedua yaitu menyerahkan senjatanya, sementara Israel telah melanggar ketentuan fase pertama yang berkaitan dengan bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan, dan penghentian serangan di Jalur Gaza.
Namun, Trump tampak terkesan dengan apa yang telah dilihatnya.
“Lihatlah pekerjaan yang telah kami lakukan di Gaza. Hamas sangat diam. Anda belum membaca apa pun tentang Hamas,” katanya, sementara Israel memperingatkan bahwa Hamas sedang membangun kembali kekuatannya di Jalur Gaza.
“Saat mereka lahir, mereka sudah memiliki senapan mesin di tangan mereka, jadi itu bukan hal yang mudah, tetapi mereka sebenarnya berperilaku cukup baik, mengingat ini bukanlah gaya hidup yang diajarkan kepada mereka,” imbuh Trump.
Pernyataan lain yang tampaknya spontan berkaitan dengan Uni Emirat Arab (UEA), yang menurut Trump ikut serta dalam pengeboman terhadap Iran. Abu Dhabi belum secara terbuka mengonfirmasi hal itu hingga saat ini.
Trump memuji Presiden UEA Mohammed bin Zayed, menyebutnya sebagai “pejuang yang luar biasa".
“Dia menjatuhkan bom minggu lalu. Saya berkata, ‘Siapa yang menjatuhkan semua bom itu?’ Itu UEA,” seru Trump.
Meskipun hubungan Israel dengan banyak negara tetangganya tegang karena perbedaan pendapat mengenai kebijakannya di Gaza, Tepi Barat, Suriah, Lebanon, dan Iran, Trump kembali menyatakan harapannya agar negara-negara di kawasan itu bergabung dengan Abraham Accords (Kesepakatan Abraham).
Bulan lalu, Trump mengancam tidak akan menandatangani perjanjian dengan Iran jika negara-negara tersebut tidak bergabung dengan Kesepakatan Abraham, meskipun tampaknya dia telah melonggarkan tuntutan tersebut.
Trump dilaporkan mengatakan kepada Netanyahu dalam sebuah panggilan telepon awal bulan ini bahwa "semua orang membenci Israel" karena cara Israel menindak Hizbullah di Lebanon.
(mas)
Lihat Juga :