AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:50 WIB
Para negosiator akan membahas isu-isu sulit seperti masa depan program nuklir Iran selama fase pembicaraan selanjutnya, yang menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi akan dimulai di Swiss pada hari Jumat setelah penandatanganan resmi kerangka kesepakatan.

Dua isu lain yang digunakan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membenarkan perang – mengakhiri dukungan Iran untuk proksi bersenjata regional dan mengekang program rudalnya – diperkirakan tidak akan masuk dalam agenda negosiasi tersebut.

“Iran ingin menyelesaikannya,” kata Trump kepada wartawan tentang fase negosiasi selanjutnya dengan Iran. “Mereka harus kembali berbisnis, dan hubungan sekarang telah dinormalisasi, jadi saya pikir itu akan berjalan cukup cepat.” Sebelumnya ia menggambarkan kesepakatan itu sebagai “benteng terhadap senjata nuklir” bagi Iran.

Wakil Presiden JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf diperkirakan akan menghadiri penandatanganan resmi pada hari Jumat.

Harga minyak merosot lebih dari 2 persen ke level terendah tiga bulan baru pada hari Selasa, sehari setelah anjlok hampir 5 persen menyusul berita tentang kesepakatan tersebut, meskipun para pejabat industri mengatakan produksi minyak dan gas Timur Tengah akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di media sosial pada hari Senin bahwa perjanjian sementara itu adalah "langkah penting" untuk menghentikan pertempuran tetapi mencatat kesepakatan akhir belum akan terwujud.

Vance mengatakan kepada CNN bahwa memorandum yang ditandatangani itu adalah “dokumen yang sangat umum.” Rinciannya akan dirilis dalam dua hari ke depan, kata para pejabat AS.

Kedua belah pihak masih menghadapi tekanan setelah konflik yang menewaskan sedikitnya 7.000 orang, sebagian besar di Iran dan Lebanon, dan mengacaukan pasar energi global.

Kesepakatan tersebut membuat Trump rentan terhadap kritik dari dalam partainya sendiri, sementara para pemimpin Iran dapat menghadapi risiko protes baru jika mereka gagal mengurangi tekanan ekonomi setelah perang yang menghancurkan.

Para pejabat AS dan Iran mengatakan kesepakatan itu pada akhirnya dapat memberikan manfaat ekonomi yang substansial bagi Iran dengan mencabut sanksi dan mencairkan aset asing.

Para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan Iran harus memenuhi tuntutan AS untuk tidak pernah membangun senjata nuklir dan menghentikan dukungan untuk milisi seperti Hizbullah di Lebanon untuk mendapatkan manfaat tersebut.

Para pejabat Iran, yang selalu membantah berniat membangun senjata nuklir, mengatakan mereka hanya sedikit berkompromi dengan menyetujui untuk melanjutkan diskusi diplomatik mengenai program pengayaan uranium Iran yang terhenti akibat perang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!