Sindikat Narkoba China Menguat di Asia, Kapal Bendera Taiwan Jadi Bukti Terbaru
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 08:08 WIB
"Perang Hibrida"
Hal yang membuat kasus ini lebih mengkhawatirkan adalah dugaan keterlibatan sistematis negara. Kurangnya transparansi hukum, lemahnya penegakan, dan hubungan ambigu antara pemerintah pusat dengan jaringan kriminal telah menciptakan ruang bagi kejahatan lintas batas. Dalam beberapa kasus, otoritas China dituduh menutup mata terhadap aktivitas perdagangan narkoba, terutama ketika kegiatan tersebut dinilai sejalan dengan kepentingan strategis negara.
Dalam konteks ekonomi, China kini menghadapi tantangan serius pasca-pandemi Covid-19, dengan tingkat pengangguran muda melebihi 20 persen dan penurunan investasi asing akibat meningkatnya risiko politik. Untuk menjaga stabilitas dan membiayai ekspansi militer serta proyek Belt and Road Initiative (BRI), Partai Komunis China (PKC) diduga semakin mengandalkan ekonomi bayangan—termasuk perdagangan narkotika, penyelundupan manusia, dan kejahatan siber—sebagai sumber pendanaan tak resmi.
Penangkapan kapal YAMA68 memperlihatkan strategi rumit itu. Dengan menggunakan kapal berbendera Taiwan tetapi terdaftar di Kamboja, jaringan ini berusaha mengecoh yurisdiksi dan menciptakan kebingungan hukum—pola yang mirip dengan pendekatan “perang hibrida” China, yakni menggunakan cara non-militer untuk melemahkan lawan tanpa konfrontasi langsung. Taiwan, yang sudah menghadapi tekanan militer dan diplomatik dari Beijing, kini dihadapkan pada ancaman baru: infiltrasi narkotika.
Masalah ini tak hanya terbatas di Taiwan. Di Amerika Serikat, fentanyl yang sering diproduksi di laboratorium China dan diselundupkan melalui Meksiko telah menjadi penyebab utama kematian bagi warga berusia 18 hingga 45 tahun.