Apa Pun Risikonya, Israel Serius Menarget Fasilitas Nuklir Iran

Rabu, 21 Mei 2025 - 14:55 WIB
Sejak saat itu, menurut Reuters, Yerusalem Barat telah mempertimbangkan "serangan yang lebih terbatas" yang hanya memerlukan sedikit dukungan AS.

Terlepas dari retorika yang agresif, AS dan Iran telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan di Oman dalam beberapa bulan terakhir, yang digambarkan oleh kedua belah pihak sebagai pembicaraan yang konstruktif dan produktif.

Namun, utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan minggu lalu bahwa meskipun Washington ingin menyelesaikan kebuntuan dengan Teheran secara diplomatis, mereka memiliki "satu garis merah yang sangat, sangat jelas... Kami tidak dapat mengizinkan bahkan 1% dari kemampuan pengayaan."

Iran saat ini memperkaya uranium hingga kemurnian 60%, jauh di atas batas 3,67% yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan nuklir yang sekarang sudah tidak berlaku lagi dan mendekati 90% yang dibutuhkan untuk bahan baku senjata.

Sementara pejabat AS dan Israel selama bertahun-tahun telah memperingatkan bahwa Teheran hanya tinggal beberapa minggu lagi dari terobosan nuklir, Republik Islam itu bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak ditujukan untuk memproduksi bom.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak permintaan AS untuk membongkar sepenuhnya fasilitas nuklirnya sebagai "tidak realistis," dengan mengatakan Teheran akan terus memperkaya uranium dengan atau tanpa kesepakatan. Ia juga menyatakan bahwa beberapa pernyataan pejabat AS "sama sekali tidak berhubungan dengan realitas negosiasi."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!