Intelijen Lima Mata Tunjukkan Bagaimana China Tipu Dunia soal COVID-19
Sabtu, 02 Mei 2020 - 15:51 WIB
Dokumen itu juga menunjukkan sikap yang sama tidak pedulinya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mendukung garis kebijakan China yang menyangkal potensi penularan COVID-10 dari manusia ke manusia meskipun fakta bahwa pejabat di Taiwan mengangkat kekhawatiran itu pada tanggal 31 Desember, seperti halnya para ahli di Hong Kong pada 4 Januari.
Hingga Jumat malam, akun Twitter resmi WHO masih menampilkan tweet dari 14 Januari yang menyatakan; "Investigasi awal yang dilakukan oleh otoritas China belum menemukan bukti yang jelas tentang transmisi manusia ke manusia dari novel #coronavirus (2019-nCoV) yang diidentifikasi di #Wuhan, #China."
"Sepanjang bulan Februari, Beijing mendesak AS, Italia, India, Australia, tetangga Asia Tenggara dan yang lainnya untuk tidak melindungi diri mereka sendiri melalui pembatasan perjalanan, bahkan ketika (China) memberlakukan pembatasan berat di dalam negeri," bunyi dokumen aliansi intelijen Five Eyes.
Pada saat yang sama, file aliansi intelijen Barat tersebut menyatakan; "Jutaan orang meninggalkan Wuhan setelah wabah dan sebelum Beijing mengunci kota pada 23 Januari."
Dokumen tersebut melanjutkan litani pembelaan China, dengan menyatakan; "Ketika para diplomat UE (Uni Eropa) menyiapkan laporan tentang pandemi ini, (China) berhasil menekan Brussels untuk menyerang bahasa tentang disinformasi (China)."
"Ketika Australia menyerukan penyelidikan independen terhadap pandemi ini, (China) mengancam akan memutuskan perdagangan dengan Australia. (China) juga menanggapi dengan marah seruan AS untuk transparansi," lanjut dokumen aliansi intelijen tersebut.
Laporan surat kabar Daily Telegraph memang menghadirkan satu titik divergensi antara pemerintah sekutu, dengan Australia meyakini bahwa virus tersebut kemungkinan besar berasal dari pasar basah Wuhan dan menempatkan kemungkinannya secara tidak sengaja bocor dari laboratorium pada "5 persen".
Hingga Jumat malam, akun Twitter resmi WHO masih menampilkan tweet dari 14 Januari yang menyatakan; "Investigasi awal yang dilakukan oleh otoritas China belum menemukan bukti yang jelas tentang transmisi manusia ke manusia dari novel #coronavirus (2019-nCoV) yang diidentifikasi di #Wuhan, #China."
"Sepanjang bulan Februari, Beijing mendesak AS, Italia, India, Australia, tetangga Asia Tenggara dan yang lainnya untuk tidak melindungi diri mereka sendiri melalui pembatasan perjalanan, bahkan ketika (China) memberlakukan pembatasan berat di dalam negeri," bunyi dokumen aliansi intelijen Five Eyes.
Pada saat yang sama, file aliansi intelijen Barat tersebut menyatakan; "Jutaan orang meninggalkan Wuhan setelah wabah dan sebelum Beijing mengunci kota pada 23 Januari."
Dokumen tersebut melanjutkan litani pembelaan China, dengan menyatakan; "Ketika para diplomat UE (Uni Eropa) menyiapkan laporan tentang pandemi ini, (China) berhasil menekan Brussels untuk menyerang bahasa tentang disinformasi (China)."
"Ketika Australia menyerukan penyelidikan independen terhadap pandemi ini, (China) mengancam akan memutuskan perdagangan dengan Australia. (China) juga menanggapi dengan marah seruan AS untuk transparansi," lanjut dokumen aliansi intelijen tersebut.
Laporan surat kabar Daily Telegraph memang menghadirkan satu titik divergensi antara pemerintah sekutu, dengan Australia meyakini bahwa virus tersebut kemungkinan besar berasal dari pasar basah Wuhan dan menempatkan kemungkinannya secara tidak sengaja bocor dari laboratorium pada "5 persen".
Lihat Juga :