Pembatasan Ibadah Haji, Perekonomian Masyarakat Arab Saudi Terpukul

Kamis, 30 Juli 2020 - 06:31 WIB
Peraturan itu merupakan bagian dari program pencegahan dan pengendalian penyakit Arab Saudi, terkait mewabahnya virus korona Covid-19 yang menjangkiti hampir 17 juta orang di seluruh dunia sejak Januari silam. Arab Saudi sendiri mencatat lebih dari 279.000 kasus dengan angka kematian 3.000 orang.

Ibadah haji tahun ini benar-benar berbeda dengan ibadah haji pada sebelum-sebelumnya,” ujar Saleh, dikutip BBC. “Dengan adanya krisis kesehatan yang ditimbulkan virus Covid-19, langkah pencegahan terpaksa kami ambil untuk memastikan keselamatan dan kemaslahatan umat muslim yang beribadah haji.”

Ekspatriat asal Australia yang berkesempatan mengikuti haji tahun ini, Kehinde Qasim Yusuf, mengatakan bahwa kebijakan pemerintah Arab Saudi sudah tepat. Meski kuotanya dibatasi, Arab Saudi telah memberikan jatah 70% kepada ekspatriat muslim, sedangkan sisanya untuk warga asli Arab Saudi. (Lihat videonya: Akibat Hubungan Arus Pendek Listrik, Gudang Penyimpanan Beras Terbakar)

Ekspatriat keturunan Maroko-Prancis, Sarah Lagdaa, mengatakan bahwa proses pendaftaran dan pemeriksaan kesehatan berlangsung dengan cepat dan mudah. “Seluruh proses ini menunjukkan pemerintah Arab Saudi peduli akan kesehatan jamaah haji. Saya sangat senang dapat mengikuti ibadah haji tahun ini.”

Biasanya ibadah haji diikuti 2,5 juta orang dari seluruh dunia dengan pemasukan ekonomi mencapai USD12 miliar per tahun. Sebanyak 1,8 juta jamaah tersebut berasal dari luar Arab Saudi. Namun dengan adanya pembatasan jamaah menjadi 1.000 orang, perputaran uang tersebut kemungkinan akan turun drastis. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!