Kiev Tuduh Separatis Pro-Rusia Ada di Balik Serangan Kramatorsk
Rabu, 11 Februari 2015 - 15:55 WIB
Kiev Tuduh Separatis Pro-Rusia Ada di Balik Serangan Kramatorsk
A
A
A
KIEV - Pemerintah Ukraina mengaku tidak mempercayai bantahan yang dilontarkan separatis pro-Rusia mengenai serangan terhadap Kramatorsk. Kiev dengan jelas menyebut separatis berada di balik serangan berdarah tersebut.
"Kramatorsk diserang oleh para separatis dari kota Horlivka, salah satu wilayah yang mereka kuasai," ucap Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima Sindonews, Rabu (11/2/2015).
Menurut mereka, separatis menggunakan roket smerch saat melakukan serangan itu. Kiev juga kembali menuduh Rusia sebagai pihak yang menyuplai senjata itu, karena roket smerch adalah jenis senjata yang memang kerap digunakan oleh pasukan Rusia.
Dalam serangan tersebut diektahui belasan orang tewas, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya lima orang. "Setidaknya 12 orang tewas dalam serangan itu, dan 63 orang menderita luka-luka, termasuk lima anak kecil dan 23 anggota pasukan kemanan Ukraina," Kementerian itu menambahkan.
Serangan itu sendiri berlangsung menjelang pertemuan empat arah antara pemimpin Rusia, Ukraina, Jerman dan Prancis di Minsk. Sebelumnya, sempat dikabarkan juga telah terjadi pertemuan rahasia antara separatis dan Kiev, yang menghasilkan perjanjian gencatan senjata di wilayah timur Ukraina.
"Kramatorsk diserang oleh para separatis dari kota Horlivka, salah satu wilayah yang mereka kuasai," ucap Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterima Sindonews, Rabu (11/2/2015).
Menurut mereka, separatis menggunakan roket smerch saat melakukan serangan itu. Kiev juga kembali menuduh Rusia sebagai pihak yang menyuplai senjata itu, karena roket smerch adalah jenis senjata yang memang kerap digunakan oleh pasukan Rusia.
Dalam serangan tersebut diektahui belasan orang tewas, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya lima orang. "Setidaknya 12 orang tewas dalam serangan itu, dan 63 orang menderita luka-luka, termasuk lima anak kecil dan 23 anggota pasukan kemanan Ukraina," Kementerian itu menambahkan.
Serangan itu sendiri berlangsung menjelang pertemuan empat arah antara pemimpin Rusia, Ukraina, Jerman dan Prancis di Minsk. Sebelumnya, sempat dikabarkan juga telah terjadi pertemuan rahasia antara separatis dan Kiev, yang menghasilkan perjanjian gencatan senjata di wilayah timur Ukraina.
(esn)