Di Era GPS, Seharusnya Mustahil AirAsia Bisa Lenyap Misterius

Selasa, 30 Desember 2014 - 08:52 WIB
Di Era GPS, Seharusnya...
Di Era GPS, Seharusnya Mustahil AirAsia Bisa Lenyap Misterius
A A A
WASHINGTON - Otoritas Penerbangan Global mengkritik hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. Sebab, menurut mereka, lenyapnya pesawat modern di era Global Positioning System (GPS) seharunya menjadi hal mustahil.

Alasannya, di era GPS, satelit dipastikan memantau setiap benda bergerak di masyarakat, termasuk pesawat terbang.

”Seharusnya tidak mungkin bagi sebuah pesawat untuk melesat dan lenyap, di zaman ketika orang dapat melacak telepon dan mobil mereka dalam beberapa meter,” kritik Paul Hudson, Presiden Flyersrights.org dan anggota dari US Federal Aviation Authority atau Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (AS), seperti dikutip Reuters, Selasa (30/12/2014).

Tak hanya itu, Otoritas Penerbangan Global juga mengkritik tidak diterapkannya pemantauan real-time, yang telah direkomendasikan sejak tragedi Malaysia Airlines MH370.

Selama dua hari terakhir, tim pencari dan penyelamat belum berhasil menemukan pesawat AirAsia QZ8501 tipe Airbus A320 itu. Pesawat pembawa 162 orang itu hilang kontak beberapa saat setelah lepas landas dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Singapura pada hari Minggu pagi.

Kemarin, pesawat Australia menemukan sebuah objek di laut, namun hal itu telah dikonfirmasi Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa temuan itu tidak terkait AirAsia QZ8501. Begitu juga dengan temuan tumpahan minyak di laut Indonesia yang belum terbukti berasal dari pesawat itu.

Hudson mengeluh bahwa banyaknya rekomendasi tidak membawa perubahan dalam cara memantau pesawat. Menurutnya, sudah saatnya butuh regulator untuk melakukan pelacakan sebuah pesawat yang lebih baik, yang salah satunya sistem pemantauan real-time.

Kevin Mitchell, pendiri dan Ketua Koalisi Bisnis Travel, juga mendesak diterapkannya regulator itu. ”Kami mendesak untuk membuat regulator pelacakan prioritas yang lebih tinggi,” katanya. “Setidaknya untuk satu dekade.”

Desakan penerapan sistem pelacakan yang lebih baik dan pemantauan real-time sejatinya menjadi isu penting setelah tragedi Malaysia Airlines MH370. Pesawat pembawa 239 orang yang hilang sejak 8 Maret 2014 itu diyakini terbang berjam-jam dengan sistem autopilot atau dikenal dengan “pesawat hantu” sampai bahan bakarnya habis. Malaysia menyimpulkan perjalanan pesawat MH370 berakhir di Samudera Hindia.
(mas)
Berita Terkait
Hari Perempuan Internasional,...
Hari Perempuan Internasional, AirAsia MOVE Ajak Perempuan Indonesia Berani Eksplorasi Dunia
MOVETIX Hadirkan Tiket...
MOVETIX Hadirkan Tiket Spesial ComplexCon Hong Kong 2025, Akses Eksklusif Menanti
Kelantan Day di Jakarta...
Kelantan Day di Jakarta Buka Jalur Wisata Baru Malaysia Timur
AirAsia Jadi Maskapai...
AirAsia Jadi Maskapai Pertama Layani Rute Denpasar dari Bandara Kertajati
Selain Sriwijaya Air,...
Selain Sriwijaya Air, Ini Enam Tragedi Pesawat Paling Mengerikan
Bangkai Pesawat Diduga...
Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng
Berita Terkini
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
18 menit yang lalu
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
50 menit yang lalu
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
1 jam yang lalu
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh di Pangkalan California, 8 Orang Tewas
1 jam yang lalu
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
3 jam yang lalu
Pesawat Pengebom Strategis...
Pesawat Pengebom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh saat Latihan Penerbangan, Apakah Ada Sabotase?
5 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved