Ironi PM India, antara Dibenci dan Disanjung AS
Senin, 29 September 2014 - 15:36 WIB
Ironi PM India, antara Dibenci dan Disanjung AS
A
A
A
NEW YORK - Perdana Menteri (PM) baru India, Narendra Modi, dalam lawatannya ke Amerika Serikat (AS) disambut bak bintang rock. Padahal sebelum menjadi PM India, Modi merupakan tokoh yang dibenci AS.
Sambutan meriah warga AS terhadap Modi terjadi saat dia menghadiri acara di Madison Square Garden. Puluhan ribu warga AS keturunan India bersorak.
Di hadapan puluhan ribu orang, Modi berbicara tentang demokrasi di India.”Di India, demokrasi bukan hanya sebuah sistem, itu iman. Ini keyakinan!,” ucap Modi, seperti dikutip Reuters, Senin (29/9/2014).
Dalam lawatannya ke AS, Modi juga dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama. Menurut Modi, demokrasi di India tak lepas dari “bonus demografi”.”kami akan memberikan tenaga kerja ke seluruh dunia,” ujar Modi. “Anda tidak bisa pergi ke mana saja di dunia tanpa melihat orang India.”
Kendati demikian, suara-suara pembenci Modi di luar Madison Square Garden, tetap bermunculan. Sekitar ratusan orang memprotes kunjungan Modi dan menuduhnya sebagai pelanggar hak asasi manusia.
Ahmed Syed, seorang konsultan IT Muslim dari San Diego, membawa poster dengan foto Modi di satu sisi, dan foto para milisi Hindu di sisi lain.”Dicari: Narendra Modi atas kejahatan terhadap kemanusiaan,” bunyi tulisan dalam poster yang dibawa Syed.
Pada tahun 2002, ketika Modi menjadi Gubernur Provinsi Gujarat, para perusuh Hindu menewaskan lebih dari 1.000 warga Muslim. Modi, yang seorang nasionalis Hindu, dituduh membantu menghasut orang banyak. Sedangkan polisi di bawah tanggung jawabnya dituduh bergabung dengan perusuh dan menembak warga sipil Muslim.
Departemen Luar Negeri AS, juga melarang Modi bepergian ke AS sampai akhirnya Modi terpilih menjadi PM India.”Hanya karena dia berkuasa, kita tidak akan melupakan apa yang terjadi pada orang-orang dulu,” ujar Syed. "Kami ingin keadilan.”
“Sekali fasis tetaplah fasis,” imbuh Satish Kolluri, seorang profesor di Pace University yang membantu lobi anggota Kongres AS untuk memblokir Modi guna mendaptkan visa di masa lalu.
Sambutan meriah warga AS terhadap Modi terjadi saat dia menghadiri acara di Madison Square Garden. Puluhan ribu warga AS keturunan India bersorak.
Di hadapan puluhan ribu orang, Modi berbicara tentang demokrasi di India.”Di India, demokrasi bukan hanya sebuah sistem, itu iman. Ini keyakinan!,” ucap Modi, seperti dikutip Reuters, Senin (29/9/2014).
Dalam lawatannya ke AS, Modi juga dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama. Menurut Modi, demokrasi di India tak lepas dari “bonus demografi”.”kami akan memberikan tenaga kerja ke seluruh dunia,” ujar Modi. “Anda tidak bisa pergi ke mana saja di dunia tanpa melihat orang India.”
Kendati demikian, suara-suara pembenci Modi di luar Madison Square Garden, tetap bermunculan. Sekitar ratusan orang memprotes kunjungan Modi dan menuduhnya sebagai pelanggar hak asasi manusia.
Ahmed Syed, seorang konsultan IT Muslim dari San Diego, membawa poster dengan foto Modi di satu sisi, dan foto para milisi Hindu di sisi lain.”Dicari: Narendra Modi atas kejahatan terhadap kemanusiaan,” bunyi tulisan dalam poster yang dibawa Syed.
Pada tahun 2002, ketika Modi menjadi Gubernur Provinsi Gujarat, para perusuh Hindu menewaskan lebih dari 1.000 warga Muslim. Modi, yang seorang nasionalis Hindu, dituduh membantu menghasut orang banyak. Sedangkan polisi di bawah tanggung jawabnya dituduh bergabung dengan perusuh dan menembak warga sipil Muslim.
Departemen Luar Negeri AS, juga melarang Modi bepergian ke AS sampai akhirnya Modi terpilih menjadi PM India.”Hanya karena dia berkuasa, kita tidak akan melupakan apa yang terjadi pada orang-orang dulu,” ujar Syed. "Kami ingin keadilan.”
“Sekali fasis tetaplah fasis,” imbuh Satish Kolluri, seorang profesor di Pace University yang membantu lobi anggota Kongres AS untuk memblokir Modi guna mendaptkan visa di masa lalu.
(mas)