Seribu Demonstran Ukraina Kobarkan Perang

Senin, 30 Juni 2014 - 10:06 WIB
Seribu Demonstran Ukraina...
Seribu Demonstran Ukraina Kobarkan Perang
A A A
KIEV - Lebih dari 1.000 pengunjuk rasa yang dipimpin oleh pejuang Batalyon Donbass yang pro-tentara Ukraina, berkumpul di pusat Kota Kiev, Ukraina Minggu kemarin.

Mereka menuntut Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, mengakhiri gencatan senjat dan memberlakukan darurat militer.

Kelompok itu pada halaman Facebook-nya menyatakan, demonstran berkumpul di gedung administrasi kepresidenan. Beberapa dari mereka dilaporkan menduduki gedung itu.

Seorang wakil Batalyon Donbass membacakan petisi kepada Presiden Poroshenko atas nama rakyat Ukraina. ”Minta (Presiden Poroshenko) menghentikan gencatan senjata, memberlakukan darurat militer, melkukan aksi militer dengan senjata dan melakukan langkah-langkah untuk menghancurkan teroris,” bunyi petisi itu, seperti dikutip Russia Today, semalam (29/6/2014).

“Dan meminta Uni Eropa serta Amerika Serikat agar menjatuhkan sanksi ketiga terhadap Rusia,” lanjut petisis itu.

Usai demontrasi, mereka berbaris menuju Maidan atau Independence Square, tempat khas para demonstran berkumpul, yang jadi simbol perjuangan mereka ketika menggulingkan pemerintah Presiden Yanukovyich (pendahulu Presiden Poroshenko yang pro-Rusia).

Para pengunjuk rasa menggelar “rantai” rakyat, sembari memperingatkan Presiden Poroshenko. ”Demonstrasi hari Minggu ini mungkin menjadi yang demonstrasi damai terakhir,” bunyi pernyataan demonstran, yang dikutip kantor berita Itar-Tass.

Jika tunutan mereka diabaikan, massa siap melawan presiden baru mereka.”Jika presiden tidak mendengar tuntutan kami, kami akan menganggapnya pengkhianat negara. Dia akan berbagi nasib yang sama seperti Yanukovych,” imbuh pernyataan demonstran.

Komandan Batalyon Donbass, Seymon Semenchenko, mengatakan bahwa unit militer Ukraina yang bertempur di Ukraina berada dalam situasi yang mengerikan. Karena uang yang dialokasikan oleh pemerintah tidak mencapai ke tentara.

”Kementerian Keuangan masih mengalokasikan uang untuk mendukung bisnis yang berada dalam kendali separatis,” ujarnya. ”Ada banyak pengkhianat di instansi pemerintah,” lanjut dia.

”Eropa tidak akan membantu kita,” teriak dia. ”Kita harus menciptakan ketertiban diri kita sendiri. Kita bisa menghentikan invasi aggresor,” imbuh Semenchennko.
(mas)
Berita Terkait
Situasi Energi Ukraina...
Situasi Energi Ukraina Memburuk, Gelap Gulita Dilanda Krisis Listrik
Efek Ekonomi Krisis...
Efek Ekonomi Krisis Rusia Vs Ukraina
Kalah dari Ukraina,...
Kalah dari Ukraina, Spanyol Krisis Penyerang
Waspadai Pelemahan Ekspor...
Waspadai Pelemahan Ekspor Lanjutan
Krisis Energi di Eropa...
Krisis Energi di Eropa Akibat Buah Simalakama
Krisis Ukraina: Biden...
Krisis Ukraina: Biden Tolak Garis Merah Rusia
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
1 jam yang lalu
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
4 jam yang lalu
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
5 jam yang lalu
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
8 jam yang lalu
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
9 jam yang lalu
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
10 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved