Rusia ragu Ukraina bisa gelar pemilu dalam kondisi kacau
Rabu, 07 Mei 2014 - 16:44 WIB
Rusia ragu Ukraina bisa gelar pemilu dalam kondisi kacau
A
A
A
Sindonews.com – Ukraina akan menggelar pemilihan umum pertama setelah Presiden Viktor Yanukovych digulingkan beberapa bulan lalu. Pemilu presiden itu akan digelar 25 Mei 2014 nanti.
Namun, Rusia meragukan jika pemilu bisa digelar ketika Ukraina mengalami kekacauan khususnya di wilayah Ukraina timur. "Kami meragukan (pemilu) bisa digelar dengan kondisi Ukraina saat ini, di mana pemerintahan saat ini menggunakan kekuatan militer untuk melawan rakyatnya sendiri. Kami meragukan pemilu yang bebas, adil dan demokratis bisa digelar di tengah pemerintahan yang tidak sehat," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin, saat ditemui di kedimanannya, di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
“Kriteria dari sebuah pemilu di manapun itu berada, adalah pemilu itu harus, adil dan demokratis. Jadi kriterianya sudah jelas, dan saat ini kita akan melihat bagaimana jalannya pemilihan di sana,” imbuh Galuzin.
Pernyataan Galuzin senada dengan dengan pernyaatan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov yang menyatakan bahwa akan aneh bila pemilu Ukraina terus berjalan, sementara militer mereka sedang melawan rakyatnya sendiri.
Ukraina sendiri sudah meminta dukungan dari dunia internasional terkait pemilu yang akan berlangsung di negara mereka. Kiev juga berharap bahwa tetangga mereka, Rusia turut mendukung pemilu tersebut.
Namun, Rusia meragukan jika pemilu bisa digelar ketika Ukraina mengalami kekacauan khususnya di wilayah Ukraina timur. "Kami meragukan (pemilu) bisa digelar dengan kondisi Ukraina saat ini, di mana pemerintahan saat ini menggunakan kekuatan militer untuk melawan rakyatnya sendiri. Kami meragukan pemilu yang bebas, adil dan demokratis bisa digelar di tengah pemerintahan yang tidak sehat," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin, saat ditemui di kedimanannya, di Jakarta, Rabu (7/5/2014).
“Kriteria dari sebuah pemilu di manapun itu berada, adalah pemilu itu harus, adil dan demokratis. Jadi kriterianya sudah jelas, dan saat ini kita akan melihat bagaimana jalannya pemilihan di sana,” imbuh Galuzin.
Pernyataan Galuzin senada dengan dengan pernyaatan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov yang menyatakan bahwa akan aneh bila pemilu Ukraina terus berjalan, sementara militer mereka sedang melawan rakyatnya sendiri.
Ukraina sendiri sudah meminta dukungan dari dunia internasional terkait pemilu yang akan berlangsung di negara mereka. Kiev juga berharap bahwa tetangga mereka, Rusia turut mendukung pemilu tersebut.
(esn)