Derita kerabat korban MH370, dari galau hingga menggigil
Selasa, 08 April 2014 - 11:37 WIB
Derita kerabat korban MH370, dari galau hingga menggigil
A
A
A
Sindonews.com – Selamat Omar, terlihat bingung tatkala ditanya soal nasib putranya, Mohd Khairul Amri Selamat, salah satu penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang sejak 8 Maret 2014. Dia setiap saat galau ketika memikirkan nasib putranya.
”Saya sangat lelah,” kata Selamat Omar. Putranya adalah seorang teknisi pesawat terbang Malaysia yang berniat menuju Beijing untuk bekerja. Tapi, tanggal 8 Maret 2014 menjadi hari nahas bagi sang insinyur pesawat itu.
”Saya sangat lelah. Saya tidak tenang. Saya tidak memiliki ketenangan dalam berpikir,” kata Selamat Omar yang menghabiskan waktu satu bulan di sebuah hotel milik Malaysia Airlines, saat diwawancarai Wall Street Journal.
Mohamad Sahril Shaari, sepupu Muhammad Razahan Zamani, 24, penumpang pesawat MH370 yang melakukan perjalanan bersama istrinya untuk berbulan madu, juga tidak akan berhenti berharap.”Kami akan terus berharap, kecuali kita melihat bukti fisik yang menunjukkan pesawat itu jatuh,” kata Shaari.
”Kami sangat tegas dalam hal ini. Harus ada bukti. Selama tidak ada bukti bahwa pesawat jatuh, kami tidak akan menerima bahwa penumpang tidak lagi hidup,” lanjut dia seperti dilansir Malaysia Insider, Selasa (8/4/2014).
Ketegasan kerabat korban pesawat MH370 itu sebagai reaksi atas pernyataan Menteri Transportasi Malaysia, Hishamuddin Hussein, yang menyatakan tidak ada indikasi yang selamat dari penerbangan MH370. ”Tunjukkan sesuatu. Sesuatu dari pesawat. Kemudian kita akan percaya,” ucap Shaari.
Di Pune, India, Pralhad Shirsath juga berharap bahwa istrinya, Kranti Shirsath, 44, yang jadi penumpang pesawat MH370 masih hidup. Anak-anak mereka, Rahul, 16, dan Yashwant, 10 , terus bertanya tentang nasib ibu mereka.
”Anakku yang sulung mengatakan, bahwa setiap kali dia membaca berita yang terkait dengan MH370, dia mulai menggigil. Dalam satu bulan terakhir, Rahul belum menyentuh buku apa pun. Setiap kali saya meminta dia untuk belajar, dia bilang dia tidak bisa berkonsentrasi,” kata Shirsath. ”Anakku yang lain, Yashwant sudah tenang dan tidak mengatakan apa-apa hari ini.”
”Saya sangat lelah,” kata Selamat Omar. Putranya adalah seorang teknisi pesawat terbang Malaysia yang berniat menuju Beijing untuk bekerja. Tapi, tanggal 8 Maret 2014 menjadi hari nahas bagi sang insinyur pesawat itu.
”Saya sangat lelah. Saya tidak tenang. Saya tidak memiliki ketenangan dalam berpikir,” kata Selamat Omar yang menghabiskan waktu satu bulan di sebuah hotel milik Malaysia Airlines, saat diwawancarai Wall Street Journal.
Mohamad Sahril Shaari, sepupu Muhammad Razahan Zamani, 24, penumpang pesawat MH370 yang melakukan perjalanan bersama istrinya untuk berbulan madu, juga tidak akan berhenti berharap.”Kami akan terus berharap, kecuali kita melihat bukti fisik yang menunjukkan pesawat itu jatuh,” kata Shaari.
”Kami sangat tegas dalam hal ini. Harus ada bukti. Selama tidak ada bukti bahwa pesawat jatuh, kami tidak akan menerima bahwa penumpang tidak lagi hidup,” lanjut dia seperti dilansir Malaysia Insider, Selasa (8/4/2014).
Ketegasan kerabat korban pesawat MH370 itu sebagai reaksi atas pernyataan Menteri Transportasi Malaysia, Hishamuddin Hussein, yang menyatakan tidak ada indikasi yang selamat dari penerbangan MH370. ”Tunjukkan sesuatu. Sesuatu dari pesawat. Kemudian kita akan percaya,” ucap Shaari.
Di Pune, India, Pralhad Shirsath juga berharap bahwa istrinya, Kranti Shirsath, 44, yang jadi penumpang pesawat MH370 masih hidup. Anak-anak mereka, Rahul, 16, dan Yashwant, 10 , terus bertanya tentang nasib ibu mereka.
”Anakku yang sulung mengatakan, bahwa setiap kali dia membaca berita yang terkait dengan MH370, dia mulai menggigil. Dalam satu bulan terakhir, Rahul belum menyentuh buku apa pun. Setiap kali saya meminta dia untuk belajar, dia bilang dia tidak bisa berkonsentrasi,” kata Shirsath. ”Anakku yang lain, Yashwant sudah tenang dan tidak mengatakan apa-apa hari ini.”
(mas)