Militer Sri Lanka bantah gunakan senjata kimia
Senin, 17 Maret 2014 - 16:42 WIB
Militer Sri Lanka bantah gunakan senjata kimia
A
A
A
Sindonews.com – Angkatan Darat (AD) Sri Lanka membantah telah menggunakan senjata kimia saat berperang melawan pemberontak Macam Tamil. Tuduhan atas penggunaan senjata kimia oleh tentara dan pemberontak Macan Tamil muncul selama perang. Namun, kedua belah pihak menolak tuduhan tersebut.
Isu ini muncul setelah Sebuah video yang menunjukkan seorang pria mengenakan seragam tentara menggambarkan bagaimana senjata kimia yang digunakan untuk melawan para pemberontak selama perang ditayangkan di saluran televisi India.
Juru bicara AD, Brigadir Ruwan Wanigasooriya mengatakan, AD Sri Lanka selalu menggunakan senjata konvensional dalam memerangi terorisme dan tuduhan terbaru hanya siapan jempol belaka.
"Seperti yang Anda ketahui, Sri Lanka tidak memproduksi senjata atau amunisi dan kami memperoleh persediaan kami dari pemasok yang dikenal melalui perantara antar pemerintah,” ungkap Wanigasooriya, seperti dilansir Xinhua, Senin (17/3/2014).
“Namun, beda halnya dengan para pemberontak yang diketahui memiliki usaha untuk membuat senjata dan amunisi. Mereka memiliki banyak persediaan bahan kimia yang kami temukan saat operasi militer,” Wanigasooriya menambahkan.
Sri Lanka menghadapi tuduhan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh tentara selama perang. Saat ini, tuduhan tersebut tengah dibahas oleh Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss.
Isu ini muncul setelah Sebuah video yang menunjukkan seorang pria mengenakan seragam tentara menggambarkan bagaimana senjata kimia yang digunakan untuk melawan para pemberontak selama perang ditayangkan di saluran televisi India.
Juru bicara AD, Brigadir Ruwan Wanigasooriya mengatakan, AD Sri Lanka selalu menggunakan senjata konvensional dalam memerangi terorisme dan tuduhan terbaru hanya siapan jempol belaka.
"Seperti yang Anda ketahui, Sri Lanka tidak memproduksi senjata atau amunisi dan kami memperoleh persediaan kami dari pemasok yang dikenal melalui perantara antar pemerintah,” ungkap Wanigasooriya, seperti dilansir Xinhua, Senin (17/3/2014).
“Namun, beda halnya dengan para pemberontak yang diketahui memiliki usaha untuk membuat senjata dan amunisi. Mereka memiliki banyak persediaan bahan kimia yang kami temukan saat operasi militer,” Wanigasooriya menambahkan.
Sri Lanka menghadapi tuduhan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh tentara selama perang. Saat ini, tuduhan tersebut tengah dibahas oleh Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss.
(esn)