Kurang bahan bakar, pembangkit listrik di Gaza ditutup
Minggu, 16 Maret 2014 - 01:25 WIB
Kurang bahan bakar, pembangkit listrik di Gaza ditutup
A
A
A
Sindonews.com – Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza, pada Sabtu (15/3/2014), terpaksa ditutup karena kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikannya.
“Pembangkit itu kehabisan bahan bakar akibat penutupan jalur penyeberangan komersial ke Gaza sejak Kamis lalu oleh Israel,” jelas Wakil Ketua Otoritas Energi Gaza, Fathi Sheikh Khalil, kepada Xinhua.
Israel menutup pintu penyeberangan Kerem Shalom dengan Jalur Gaza setelah militan Palestina menembakkan puluhan rudal ke Israel pada pekan lalu. Kemungkinan, pintu penyeberangan ini akan ditutup hingga akhir pekan ini.
"Setelah pembangkit listrik ini behenti, daya akan dimatikan selama 12 jam. Dan, listrik hanya akan menyala selama enam jam setiap hari," lanjut Khalil.
Sebelumnya, pembangkit listrik itu juga sempat berhenti beroperasi selama 45 hari karena tak adanya suplai bahan bakar. Dengan bantuan Qatar yang berjanji akan memasok bahan bakar untuk 3 bulan, pembangkit itu akhirnya bisa kembali beroperasi.
Otoritas Palestina yang didominasi faksi Fatah di Tepi Barat, juga telah berhenti mengirimkan bahan bakar karena perbedaan pandangan dengan Hamas atas pajak. Jalur Gaza membutuhkan sekitar 380 megawatt listrik untuk mengatasi krisis.
Pembangkit listrik di Jallur Gaza menyediakan sekitar sepertiga dari daya yang dibutuhkan. Sisanya dialirkan dari Israel dan Mesir menutup sekitar 60 persen dari kebutuhan listrik penduduk Jalur Gaza yang berjumlah 1,7 juta jiwa.
“Pembangkit itu kehabisan bahan bakar akibat penutupan jalur penyeberangan komersial ke Gaza sejak Kamis lalu oleh Israel,” jelas Wakil Ketua Otoritas Energi Gaza, Fathi Sheikh Khalil, kepada Xinhua.
Israel menutup pintu penyeberangan Kerem Shalom dengan Jalur Gaza setelah militan Palestina menembakkan puluhan rudal ke Israel pada pekan lalu. Kemungkinan, pintu penyeberangan ini akan ditutup hingga akhir pekan ini.
"Setelah pembangkit listrik ini behenti, daya akan dimatikan selama 12 jam. Dan, listrik hanya akan menyala selama enam jam setiap hari," lanjut Khalil.
Sebelumnya, pembangkit listrik itu juga sempat berhenti beroperasi selama 45 hari karena tak adanya suplai bahan bakar. Dengan bantuan Qatar yang berjanji akan memasok bahan bakar untuk 3 bulan, pembangkit itu akhirnya bisa kembali beroperasi.
Otoritas Palestina yang didominasi faksi Fatah di Tepi Barat, juga telah berhenti mengirimkan bahan bakar karena perbedaan pandangan dengan Hamas atas pajak. Jalur Gaza membutuhkan sekitar 380 megawatt listrik untuk mengatasi krisis.
Pembangkit listrik di Jallur Gaza menyediakan sekitar sepertiga dari daya yang dibutuhkan. Sisanya dialirkan dari Israel dan Mesir menutup sekitar 60 persen dari kebutuhan listrik penduduk Jalur Gaza yang berjumlah 1,7 juta jiwa.
(esn)