Rusia tembakkan rudal antar-benua, AS jengkel
Rabu, 05 Maret 2014 - 09:20 WIB
Rusia tembakkan rudal antar-benua, AS jengkel
A
A
A
Sindonews.com - Militer Rusia telah menembakkan rudal Topol RS - 12M dari Kapustin Yar, Rusia dekat Laut Kaspia kea rah Sary Shagan, Kazakhstan. Penembakan rudal balistik antar-benua di tengah memanasnya krisis di Crimea--wilayah semi-otonom Ukraina itu, diklaim sebagai uji tembak.
”Tujuan dari peluncuran ini adalah untuk menguji rudal balistik yang menjanjikan,” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip BBC.
Aksi militer Rusia di tengah memanasnya krisis Ukraina, membuat Amerika Serikat mulai jengkel. Presiden AS, Barack Obama menuduh Rusia menggunakan kekuatan. ”Untuk mempengaruhi negara tetangganya,” katanya, seperti dikutip Reuters, Rabu (5/3/2014).
”Itu bukan bagaimana hukum internasional seharusnya beroperasi,” kata Presiden AS yang masa kecilnya pernah tinggal di Menteng, Jakarta itu.
Sedangkan, Presiden Rusia, Vladimir Putin menegaskan, militernya tidak pernah berniat perang. Namun, pengerahan pasukan militer untuk melindungi warga Ukraina etnis Rusia adalah tindakan sah. Putin membantah, pasukan bersenjata tanpa lencana di Crimea adalah pasukan Rusia.
Mereka, lanjut Putian, adalah pasukan kiri Ukraina yang dilatih para militan radikal yang ikut berperan dalam kudeta Presiden Ukraina Viktor Yanukovych.
Sedangkan NATO dan Rusia sepakat untuk mengadakan pembicaraan pada hari ini. Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen menyalahkan Rusia dalam krisis di Ukraina.
”Rusia terus melanggar kedaulatan Ukraina dan integritas territorial,” ucapnya. “Ini mengakibatkan implikasi serius bagi keamanan dan stabilitas kawasan Euro-Atlantik.”
”Tujuan dari peluncuran ini adalah untuk menguji rudal balistik yang menjanjikan,” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip BBC.
Aksi militer Rusia di tengah memanasnya krisis Ukraina, membuat Amerika Serikat mulai jengkel. Presiden AS, Barack Obama menuduh Rusia menggunakan kekuatan. ”Untuk mempengaruhi negara tetangganya,” katanya, seperti dikutip Reuters, Rabu (5/3/2014).
”Itu bukan bagaimana hukum internasional seharusnya beroperasi,” kata Presiden AS yang masa kecilnya pernah tinggal di Menteng, Jakarta itu.
Sedangkan, Presiden Rusia, Vladimir Putin menegaskan, militernya tidak pernah berniat perang. Namun, pengerahan pasukan militer untuk melindungi warga Ukraina etnis Rusia adalah tindakan sah. Putin membantah, pasukan bersenjata tanpa lencana di Crimea adalah pasukan Rusia.
Mereka, lanjut Putian, adalah pasukan kiri Ukraina yang dilatih para militan radikal yang ikut berperan dalam kudeta Presiden Ukraina Viktor Yanukovych.
Sedangkan NATO dan Rusia sepakat untuk mengadakan pembicaraan pada hari ini. Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen menyalahkan Rusia dalam krisis di Ukraina.
”Rusia terus melanggar kedaulatan Ukraina dan integritas territorial,” ucapnya. “Ini mengakibatkan implikasi serius bagi keamanan dan stabilitas kawasan Euro-Atlantik.”
(mas)