Debat di PBB: Rusia tuding kudeta, Ukraina sebut revolusi
Selasa, 04 Maret 2014 - 09:58 WIB
Debat di PBB: Rusia tuding kudeta, Ukraina sebut revolusi
A
A
A
Sindonews.com – Ada klaim menarik perihal krisis di Ukraina yang berujung pada penggulingan Presiden Viktor Yanukovych. Klaim itu muncul dari Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin dan Duta Besar Ukraina untuk PBB, Yuriy Sergeyev.
Churkin menuduh, apa yang terjadi dengan sekutu Rusia, yakni Presiden Viktor Yanukovych, adalah kudeta. Sebab, kesepakatan antara Yanukovych dan oposisi Ukraina belum dijalankan, namun tiba-tiba sekutu Rusia itu dipecat parlemen. Rusia pun menganggap Yanukovych tetap pemimpin Ukraina yang sah.
Dengan alasan itu pula, Rusia merespon surat Yanukovych kepada Presiden Vladimir Putin, yang isinya agar Rusia mengerahkan pasukan militernya ke Ukraina untuk memulihkan situasi.
Namun, klaim berbeda diucapkan Sergeyev. ”Anda (Churkin) menyebutnya kudeta. Kami menyebutnya sebuah revolusi yang bermartabat,” ucap Sergeyev yang menatap Churkin dalam debat di forum Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip RT, Selasa (4/3/2014).
”Kami (Ukraina) memiliki pemahaman yang berbeda tentang hak asasi manusia daripada Anda (Rusia),” imbuh Sergeyev.
Sementara itu, Duta Besar China untuk PBB, Liu Jieyi, mencoba menengahi ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Namun, dia tetap mengutuk kekerasan kelompok ekstremis baru-baru ini di Ukraina. ”Kami mendesak semua pihak untuk menyelesaikan perbedaan melalui kerangka hukum dan melindungi hak-hak semua orang,” kata Jieyi.
Churkin menuduh, apa yang terjadi dengan sekutu Rusia, yakni Presiden Viktor Yanukovych, adalah kudeta. Sebab, kesepakatan antara Yanukovych dan oposisi Ukraina belum dijalankan, namun tiba-tiba sekutu Rusia itu dipecat parlemen. Rusia pun menganggap Yanukovych tetap pemimpin Ukraina yang sah.
Dengan alasan itu pula, Rusia merespon surat Yanukovych kepada Presiden Vladimir Putin, yang isinya agar Rusia mengerahkan pasukan militernya ke Ukraina untuk memulihkan situasi.
Namun, klaim berbeda diucapkan Sergeyev. ”Anda (Churkin) menyebutnya kudeta. Kami menyebutnya sebuah revolusi yang bermartabat,” ucap Sergeyev yang menatap Churkin dalam debat di forum Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip RT, Selasa (4/3/2014).
”Kami (Ukraina) memiliki pemahaman yang berbeda tentang hak asasi manusia daripada Anda (Rusia),” imbuh Sergeyev.
Sementara itu, Duta Besar China untuk PBB, Liu Jieyi, mencoba menengahi ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Namun, dia tetap mengutuk kekerasan kelompok ekstremis baru-baru ini di Ukraina. ”Kami mendesak semua pihak untuk menyelesaikan perbedaan melalui kerangka hukum dan melindungi hak-hak semua orang,” kata Jieyi.
(mas)