PM Rusia ramal akan ada revolusi baru di Ukraina
Senin, 03 Maret 2014 - 07:22 WIB
PM Rusia ramal akan ada revolusi baru di Ukraina
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, mengatakan pada Minggu (2/3/2014), bahwa pemimpin Ukraina yang baru telah merebut kekuasaan secara ilegal. Medvedev meramalkan, pemerintahan Ukraina saat ini akan berakhir dengan "revolusi baru" dan pertumpahan darah baru.
Menurut Medvedev, setelah Viktor Yanukovych dipecat oleh Parlemen Ukraina, praktis tidak ada otoritas baru. “Dia tetap Kepala Negara yang sah menurut konstitusi. Segala sesuatu yang lain adalah pelanggaran hukum. Perebutan kekuasaan," kata Medvedev pada halaman Facebook-nya, seperti dikutip dari Reuters.
"Itu artinya, pemerintahan tersebut akan sangat tidak stabil. Ini akan berakhir dalam sebuah revolusi baru. Pertumpahan darah baru," lanjut Medvedev.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari serangkaian pernyataan Rusia yang menyerang legitimasi pemerintah Ukraina yang pro Barat. Pemerintahan ini terbentuk sejak Yanukovych melarikan diri dari Kiev, lebih dari satu pekan yang lalu. Saat ini, Yanukovych berada di Rusia.
Medvedev menyatakan, negaranya ingin tetap memiliki hubungan yang harmonis dengan Ukraina. "Rusia siap untuk mengembangkan kerjasama, hubungan saling hormat dengan Ukraina, hubungan yang saling menguntungkan dan efektif," kata Medvedev.
"Tapi, bagi kami Ukraina bukanlah sekelompok orang yang menumpahkan darah di Maidan (alun-alun Kiev), merebut kekuasaan, melanggar konstitusi, dan undang-undang negara lainnya. Rusia membutuhkan Ukraina yang kuat dan stabil. Bukan hubungan yang buruk, yang selalu berdiri dengan tangan mengarah keluar," lanjutnya.
Menurut Medvedev, setelah Viktor Yanukovych dipecat oleh Parlemen Ukraina, praktis tidak ada otoritas baru. “Dia tetap Kepala Negara yang sah menurut konstitusi. Segala sesuatu yang lain adalah pelanggaran hukum. Perebutan kekuasaan," kata Medvedev pada halaman Facebook-nya, seperti dikutip dari Reuters.
"Itu artinya, pemerintahan tersebut akan sangat tidak stabil. Ini akan berakhir dalam sebuah revolusi baru. Pertumpahan darah baru," lanjut Medvedev.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari serangkaian pernyataan Rusia yang menyerang legitimasi pemerintah Ukraina yang pro Barat. Pemerintahan ini terbentuk sejak Yanukovych melarikan diri dari Kiev, lebih dari satu pekan yang lalu. Saat ini, Yanukovych berada di Rusia.
Medvedev menyatakan, negaranya ingin tetap memiliki hubungan yang harmonis dengan Ukraina. "Rusia siap untuk mengembangkan kerjasama, hubungan saling hormat dengan Ukraina, hubungan yang saling menguntungkan dan efektif," kata Medvedev.
"Tapi, bagi kami Ukraina bukanlah sekelompok orang yang menumpahkan darah di Maidan (alun-alun Kiev), merebut kekuasaan, melanggar konstitusi, dan undang-undang negara lainnya. Rusia membutuhkan Ukraina yang kuat dan stabil. Bukan hubungan yang buruk, yang selalu berdiri dengan tangan mengarah keluar," lanjutnya.
(esn)