Tragedi berdarah renggut 100 jiwa, Ukraina disorot dunia
Jum'at, 21 Februari 2014 - 09:51 WIB
Tragedi berdarah renggut 100 jiwa, Ukraina disorot dunia
A
A
A
Sindonews.com – Demonstrasi rusuh tiada henti di Kiev, Ukraina semakin mengerikan. Hingga Jumat (21/2/2014), jumlah korban tewas akibat pertumpahan darah antara demonstran anti-pemerintah dan polisi diperkirakan mencapai 100 orang.
Berbagai negara, seperti Uni Eropa, Jerman, hingga Amerika Serikat (AS) mengutuk kekerasan tersebut. Para pemimpin Eropa dan AS memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap Pemerintah Ukraina.
Gencatan senjata yang disepakati kubu pemerintah pimpinan Presiden Viktor Yanukovych dan kubu oposisi hanya berlaku singkat. Media setempat melaporkan, antara 70 hingga 100 orang terbunuh dalam kekerasan terburuk di negara pecahan Uni Soviet itu.
Yanukovych mengklaim, anak buahnya tidak menembakkan peluru terhadap para demonstran. Tapi, rekaman yang diperlihatkan stasiun televisi di Ukraina menyatakan sebaliknya. Presiden Yanukovych pun dituduh pembohong oleh rakyatnya dan kini jadi sorotan dunia.
“Rumah sakit Kiev penuh dengan korban luka tembak,” kata Valeria Lutkovska, komisaris hak asasi manusia dari parlemen Ukraina, seperti dilansir New York Daily. ”Sebuah tragedi yang mengerikan telah terjadi di jalan-jalan di Kiev dan kota-kota lain di Ukraina.”
Sementara itu, versi pejabat Ukraina, puluhan petugas polisi terluka. Tiga di antaranya tewas dalam bentrokan berdarah. Selain itu, para demonstran juga menyandera 67 polisi di balai kota Kiev. ”Beberapa polisi jadi tawanan, tangan mereka (diikat), dan terlihat digiring di belakang barikade,” bunyi pernyataan Pemerintah Ukraina.
Di Washington, Presiden Obama menghadapi tekanan dari kedua belah pihak di Kongres untuk melakukan sesuatu guna mengakhiri kekacauan di Ukraina. ”Kami marah dengan pemandangan pasukan keamanan Ukraina menembakkan senjata otomatis pada warga mereka sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, yang meminta Yanukovych segera menarik pasukannya.
Di Belgia, Uni Eropa mengadakan pertemuan darurat, untuk menjatuhkan sanksi terhadap rezim Yanukovych. Para menteri luar negeri dari Polandia, Perancis dan Jerman terbang ke Kiev untuk berbicara dengan Yanukovych agar mengakhiri krisis.
Berbagai negara, seperti Uni Eropa, Jerman, hingga Amerika Serikat (AS) mengutuk kekerasan tersebut. Para pemimpin Eropa dan AS memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap Pemerintah Ukraina.
Gencatan senjata yang disepakati kubu pemerintah pimpinan Presiden Viktor Yanukovych dan kubu oposisi hanya berlaku singkat. Media setempat melaporkan, antara 70 hingga 100 orang terbunuh dalam kekerasan terburuk di negara pecahan Uni Soviet itu.
Yanukovych mengklaim, anak buahnya tidak menembakkan peluru terhadap para demonstran. Tapi, rekaman yang diperlihatkan stasiun televisi di Ukraina menyatakan sebaliknya. Presiden Yanukovych pun dituduh pembohong oleh rakyatnya dan kini jadi sorotan dunia.
“Rumah sakit Kiev penuh dengan korban luka tembak,” kata Valeria Lutkovska, komisaris hak asasi manusia dari parlemen Ukraina, seperti dilansir New York Daily. ”Sebuah tragedi yang mengerikan telah terjadi di jalan-jalan di Kiev dan kota-kota lain di Ukraina.”
Sementara itu, versi pejabat Ukraina, puluhan petugas polisi terluka. Tiga di antaranya tewas dalam bentrokan berdarah. Selain itu, para demonstran juga menyandera 67 polisi di balai kota Kiev. ”Beberapa polisi jadi tawanan, tangan mereka (diikat), dan terlihat digiring di belakang barikade,” bunyi pernyataan Pemerintah Ukraina.
Di Washington, Presiden Obama menghadapi tekanan dari kedua belah pihak di Kongres untuk melakukan sesuatu guna mengakhiri kekacauan di Ukraina. ”Kami marah dengan pemandangan pasukan keamanan Ukraina menembakkan senjata otomatis pada warga mereka sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, yang meminta Yanukovych segera menarik pasukannya.
Di Belgia, Uni Eropa mengadakan pertemuan darurat, untuk menjatuhkan sanksi terhadap rezim Yanukovych. Para menteri luar negeri dari Polandia, Perancis dan Jerman terbang ke Kiev untuk berbicara dengan Yanukovych agar mengakhiri krisis.
(mas)