Minta akhiri ketegangan, PM Ukraina ancam demonstran
Rabu, 04 Desember 2013 - 17:27 WIB
Minta akhiri ketegangan, PM Ukraina ancam demonstran
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri Ukraina Mykola Azarov pada Rabu (4/12/2013), meminta para demonstran untuk mengakhiri ketegangan di negara itu. Dia juga mengancam demonstran dengan tindakan hukum setelah mereka memblokir jalan kantor pemerintah, di mana rapat kabinet tengah berlangsung.
Sementara itu, situasi di dekat kantor Presiden Viktor Yanukovych masih memanas, di mana para polisi anti-huru hara berhadapan dengan ratusan demonstran. Para demonstran mengancam akan memperketat blokade mereka di kantor presiden di Ibukota Kiev.
Tindakan itu dilakukan, setelah Presiden Yanukovych nekat terbang ke China kemarin, di saat situasi negeri tengah dilanda krisis politik. Demonstrasi besar di Ukraina dipicu tindakan Yanukovych yang enggan menandatangani kerjasama ekonomi dan politik antara Ukraina dan Uni Eropa. Yanukovych kemudian dituduh para demonstran telah mengubur mimpi mereka yang menginginkan negaranya berintegrasi dengan Uni Eropa.
Para demonstran pun menyerukan revolusi di negara itu. Azarov mengatakan pemerintah telah menunjukkan toleransi dan kesiapan untuk berdialog dengan para demonstran.
”Semua orang harus menyadari bahwa konstitusi dan UU negara yang berlaku, tidak ada yang diperbolehkan untuk melanggar semua itu. Semua orang-orang yang bersalah karena tindakan ilegal akan ditindak dengan aturan itu,” katanya, seperti dikutip Reuters.
Kemarin, Azarov juga memohon kepada pemimpin oposisi untuk tidak mencoba mengulangi kejadian tahun 2004-2005 dengan apa yang disebut sebagai “Revolusi Oranye”.
Sementara itu, situasi di dekat kantor Presiden Viktor Yanukovych masih memanas, di mana para polisi anti-huru hara berhadapan dengan ratusan demonstran. Para demonstran mengancam akan memperketat blokade mereka di kantor presiden di Ibukota Kiev.
Tindakan itu dilakukan, setelah Presiden Yanukovych nekat terbang ke China kemarin, di saat situasi negeri tengah dilanda krisis politik. Demonstrasi besar di Ukraina dipicu tindakan Yanukovych yang enggan menandatangani kerjasama ekonomi dan politik antara Ukraina dan Uni Eropa. Yanukovych kemudian dituduh para demonstran telah mengubur mimpi mereka yang menginginkan negaranya berintegrasi dengan Uni Eropa.
Para demonstran pun menyerukan revolusi di negara itu. Azarov mengatakan pemerintah telah menunjukkan toleransi dan kesiapan untuk berdialog dengan para demonstran.
”Semua orang harus menyadari bahwa konstitusi dan UU negara yang berlaku, tidak ada yang diperbolehkan untuk melanggar semua itu. Semua orang-orang yang bersalah karena tindakan ilegal akan ditindak dengan aturan itu,” katanya, seperti dikutip Reuters.
Kemarin, Azarov juga memohon kepada pemimpin oposisi untuk tidak mencoba mengulangi kejadian tahun 2004-2005 dengan apa yang disebut sebagai “Revolusi Oranye”.
(mas)