Setelah Assad, al-Qaeda jadi momok di Suriah
Rabu, 27 November 2013 - 14:39 WIB
Setelah Assad, al-Qaeda jadi momok di Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Di awal krisis Suriah dua tahun lalu, pintu rumah Abdullah—aktivis anti Presiden Bashar al-Assad--, diketuk tengah malam. Dalam sekejap, aktivis di Aleppo itu dibawa polisi rahasia Suriah.
Dua tahun lalu, aktivis itu memilih menghentikan studinya dan bergabung dalam kampanye di media sosial melawan rezim Assad. Sebagai ganjarannya, dia ditahan dan disiksa oleh petugas keamanan.
Pada musim panas ini, trauma menyakitkan itu terulang lagi. Namun, musuhnya bukan lagi pasukan loyalis Assad. Melainkan gerilyawan garis keras yang setia pada kelompok al-Qaeda. Para gerilyawan itu, mendadak mendobrak pintu rumah keluarganya. Abdullah di bawa pergi ke sebuah sel penjara dengan mata ditutup. Di sel itu, dia dipukuli.
"Yang menyedihkan adalah bahwa mereka yang melakukan hal ini tidak lagi polisi Assad,” kata Abdullah kepada Reuters. Wawancara yang dirilis hari ini (27/11/2013), sejatinya berlangsung di Turki, di mana aktvis pro-demokrasi itu berhasil melarikan diri dari sekapan para gerilyawan al-Qaeda.
“Mereka (gerilyawan al-Qaeda) adalah pejuang yang seharusnya berjuang untuk kebebasan, kebebasan kita,” kesal Abdullah. ”Waktu itu mereka memanggil saya ‘pengkhianat’ untuk menuntut kebebasan. Orang-orang bersenjata juga menyiksa saya selama menyerukan kebebasan.”
Kisah siksaan yang dialami Abdullah itu menyebar di Suriah utara, di mana pasukan Assad berkonsentrasi menggempur para militan garis keras yang meinginkan Assad lengser.
Kekerasan yang dilakukan para militan garis keras di wilayah itu kian meningkat, karena mereka menganggap demokrasi yang disuarakan Abdullah dan para aktivis lain sebagai pekerjaan “setan” atau negara-negara Barat.
Abdullah bukan satu-satunya aktivis yang mengalami pengalaman pahit hidup di negaranya sendiri. Ada 19 aktivis Suriah pro-demokrasi lainnya yang merasakan intimidasi yang hebat dari kelompok militan di daerah utara Suriah.
Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang terlibat demonstrasi pada Maret 2011 silam, saat mengkritik pemerintahan Suriah yang didominasi keluarga Assad selama bertahun-tahun.
Mereka yang trauma dengan intimidasi itu melarikan ke negara-negara tetangga Suriah yang lebih aman. ”Tidak mungkin bagi saya untuk pergi ke Suriah sekarang. Saya diinginkan oleh rezim Assad dan al-Qaeda,” kata Rami Jarrah yang memberikan keterangan di Kota Raqqa awal Oktober lalu, sebelum dia tinggal di Turki.
Dua tahun lalu, aktivis itu memilih menghentikan studinya dan bergabung dalam kampanye di media sosial melawan rezim Assad. Sebagai ganjarannya, dia ditahan dan disiksa oleh petugas keamanan.
Pada musim panas ini, trauma menyakitkan itu terulang lagi. Namun, musuhnya bukan lagi pasukan loyalis Assad. Melainkan gerilyawan garis keras yang setia pada kelompok al-Qaeda. Para gerilyawan itu, mendadak mendobrak pintu rumah keluarganya. Abdullah di bawa pergi ke sebuah sel penjara dengan mata ditutup. Di sel itu, dia dipukuli.
"Yang menyedihkan adalah bahwa mereka yang melakukan hal ini tidak lagi polisi Assad,” kata Abdullah kepada Reuters. Wawancara yang dirilis hari ini (27/11/2013), sejatinya berlangsung di Turki, di mana aktvis pro-demokrasi itu berhasil melarikan diri dari sekapan para gerilyawan al-Qaeda.
“Mereka (gerilyawan al-Qaeda) adalah pejuang yang seharusnya berjuang untuk kebebasan, kebebasan kita,” kesal Abdullah. ”Waktu itu mereka memanggil saya ‘pengkhianat’ untuk menuntut kebebasan. Orang-orang bersenjata juga menyiksa saya selama menyerukan kebebasan.”
Kisah siksaan yang dialami Abdullah itu menyebar di Suriah utara, di mana pasukan Assad berkonsentrasi menggempur para militan garis keras yang meinginkan Assad lengser.
Kekerasan yang dilakukan para militan garis keras di wilayah itu kian meningkat, karena mereka menganggap demokrasi yang disuarakan Abdullah dan para aktivis lain sebagai pekerjaan “setan” atau negara-negara Barat.
Abdullah bukan satu-satunya aktivis yang mengalami pengalaman pahit hidup di negaranya sendiri. Ada 19 aktivis Suriah pro-demokrasi lainnya yang merasakan intimidasi yang hebat dari kelompok militan di daerah utara Suriah.
Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang terlibat demonstrasi pada Maret 2011 silam, saat mengkritik pemerintahan Suriah yang didominasi keluarga Assad selama bertahun-tahun.
Mereka yang trauma dengan intimidasi itu melarikan ke negara-negara tetangga Suriah yang lebih aman. ”Tidak mungkin bagi saya untuk pergi ke Suriah sekarang. Saya diinginkan oleh rezim Assad dan al-Qaeda,” kata Rami Jarrah yang memberikan keterangan di Kota Raqqa awal Oktober lalu, sebelum dia tinggal di Turki.
(mas)