Irak gagal buru pembantai 50 pembangkang Iran
Rabu, 27 November 2013 - 11:51 WIB
Irak gagal buru pembantai 50 pembangkang Iran
A
A
A
Sindonews.com – Pejabat senior Irak mengaku gagal memburu para militan yang melakukan pembantaian di sebuah kamp pembangkang Iran, di dekat Baghdad. Irak membantah bahwa pasukan keamanannya dibalik pembantaian Sepetember lalu itu.
Dalam pembantaian itu, lebih dari 50 orang dari kelompok pembangkang Mujahadin - e - Khalq (MEK) tewas. PBB menyebut pembantaian di kamp Ashraf pada bulan September tersebut sebagai “kejahatan yang mengerikan”. Amerika dan Inggris mengecam tragedi pembantaian itu.
MEK, yang oleh Departemen Luar Negeri AS telah dihapus dari daftar organisasi teroris tahun lalu, menginginkan pemimpin ulama Iran digulingkan. Mereka memilih berjuang di sisi mantan diktator Irak Saddam Hussein selama perang Iran - Irak pada 1980-an.
Kelompok itu telah menuduh pasukan keamanan Irak berada di balik pembantaian itu. Tuduhan itu muncul, tak lama setelah Irak di bawah pemerintahan Muslim Syiah atau setelah AS menggulingkan Saddam Hussein pada 2003 .
”Hal utama bahwa penyelidikan telah mengungkapkan sejauh ini bahwa pasukan keamanan Irak tidak terlibat dalam serangan itu dan sebuah kelompok militan tak dikenal berada di belakangnya,” kata Haider al-Akaili, yang merupakan bagian dari komite pemerintah yang mengawasi penyelidikan atas permintaan PBB.
Pemerintah Irak telah berulang kali membantah terlibat dalam serangan, di mana penduduk di sekitar kamp juga hilang. MEK mengatakan mereka disandera oleh pasukan Irak dan diterbangkan ke provinsi Amara untuk diekstradisi ke Iran.
Akaili, yang seorang pejabat di Kementerian HAM Irak membantah tuduhan itu. ”Gambar orang-orang yang diduga hilang telah diedarkan ke bandara dan pos pemeriksaan dan kami belum menerima berita tentang salah satu dari mereka,” katanya kepada Reuters, yang dilansir Rabu (27/11/2013).
Dalam pembantaian itu, lebih dari 50 orang dari kelompok pembangkang Mujahadin - e - Khalq (MEK) tewas. PBB menyebut pembantaian di kamp Ashraf pada bulan September tersebut sebagai “kejahatan yang mengerikan”. Amerika dan Inggris mengecam tragedi pembantaian itu.
MEK, yang oleh Departemen Luar Negeri AS telah dihapus dari daftar organisasi teroris tahun lalu, menginginkan pemimpin ulama Iran digulingkan. Mereka memilih berjuang di sisi mantan diktator Irak Saddam Hussein selama perang Iran - Irak pada 1980-an.
Kelompok itu telah menuduh pasukan keamanan Irak berada di balik pembantaian itu. Tuduhan itu muncul, tak lama setelah Irak di bawah pemerintahan Muslim Syiah atau setelah AS menggulingkan Saddam Hussein pada 2003 .
”Hal utama bahwa penyelidikan telah mengungkapkan sejauh ini bahwa pasukan keamanan Irak tidak terlibat dalam serangan itu dan sebuah kelompok militan tak dikenal berada di belakangnya,” kata Haider al-Akaili, yang merupakan bagian dari komite pemerintah yang mengawasi penyelidikan atas permintaan PBB.
Pemerintah Irak telah berulang kali membantah terlibat dalam serangan, di mana penduduk di sekitar kamp juga hilang. MEK mengatakan mereka disandera oleh pasukan Irak dan diterbangkan ke provinsi Amara untuk diekstradisi ke Iran.
Akaili, yang seorang pejabat di Kementerian HAM Irak membantah tuduhan itu. ”Gambar orang-orang yang diduga hilang telah diedarkan ke bandara dan pos pemeriksaan dan kami belum menerima berita tentang salah satu dari mereka,” katanya kepada Reuters, yang dilansir Rabu (27/11/2013).
(mas)