Indonesia minta klarifikasi AS & Australia
Selasa, 19 November 2013 - 09:39 WIB
Indonesia minta klarifikasi AS & Australia
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bereaksi keras atas dugaan penyadapan mata-mata Australia terhadap dirinya. Dia minta para menteri dan jajaran pemerintah meminta penjelasan dan klarifikasi dari Amerika Serikat dan Australia.
Permintaan Yudhoyono itu dia sampaikan via Twitter. ”Menlu & jajaran pemerintah juga lakukan langkah diplomasi yang efektif, sambil meminta penjelasan & klarifikasi dari AS & Australia,” tulis SBY melalui akun Twitter-nya, @SBYudhoyono, beberapa jam lalu.
”Sejak ada informasi penyadapan AS & Australia terhadap banyak negara, termasuk Indonesia, kita sudah protes keras,” lanjut tweet SBY.
Seperti diberitakan sebelumnya, dari bocoran dokumen whistleblower NSA, Edward Snowden, mata-mata Australia diduga menguping catatan telepon genggam SBY dan istrinya, Herawati Kristiani (Ani Yudhoyono). Selain itu, Wapres Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri senior juga jadi target penyadapan mata-mata Australia.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty M. Natalegawa dalam jumpa pers kemarin, sudah menginstruksikan kepada Dubes Indonesia di Australia Nadjib Riphat Kesoema untuk pulang ke Jakarta. Dubes Nadjib juga nantinya juga akan diminta menjelaskan, apa yang sebenarnya dilakukan pihak Australia terhadap Indonesia.
”Ini adalah tindakan yang tidak bersahabat sebagai mitra strategis Indonesia,” ucap Menteri Marty, dalam jumpa pers di ruang Nusantara, kantor Kemlu RI, kemarin sore.
Marty mengatakan, insiden penyadapan tersebut sangat mencederai dan melabrak Pemerintah Indonesia. ”Terlepas dalam hubungan antar bangsa, bukankah setiap kita memiliki hak privasi dan kita tidak menginginkan pembicaraan pribadi kita disadap oleh siapapun," lanjutnya.
Permintaan Yudhoyono itu dia sampaikan via Twitter. ”Menlu & jajaran pemerintah juga lakukan langkah diplomasi yang efektif, sambil meminta penjelasan & klarifikasi dari AS & Australia,” tulis SBY melalui akun Twitter-nya, @SBYudhoyono, beberapa jam lalu.
”Sejak ada informasi penyadapan AS & Australia terhadap banyak negara, termasuk Indonesia, kita sudah protes keras,” lanjut tweet SBY.
Seperti diberitakan sebelumnya, dari bocoran dokumen whistleblower NSA, Edward Snowden, mata-mata Australia diduga menguping catatan telepon genggam SBY dan istrinya, Herawati Kristiani (Ani Yudhoyono). Selain itu, Wapres Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri senior juga jadi target penyadapan mata-mata Australia.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty M. Natalegawa dalam jumpa pers kemarin, sudah menginstruksikan kepada Dubes Indonesia di Australia Nadjib Riphat Kesoema untuk pulang ke Jakarta. Dubes Nadjib juga nantinya juga akan diminta menjelaskan, apa yang sebenarnya dilakukan pihak Australia terhadap Indonesia.
”Ini adalah tindakan yang tidak bersahabat sebagai mitra strategis Indonesia,” ucap Menteri Marty, dalam jumpa pers di ruang Nusantara, kantor Kemlu RI, kemarin sore.
Marty mengatakan, insiden penyadapan tersebut sangat mencederai dan melabrak Pemerintah Indonesia. ”Terlepas dalam hubungan antar bangsa, bukankah setiap kita memiliki hak privasi dan kita tidak menginginkan pembicaraan pribadi kita disadap oleh siapapun," lanjutnya.
(mas)