Kota Guaian hancur, MSF susah payah salurkan bantuan di Filipina
Rabu, 13 November 2013 - 12:53 WIB
Kota Guaian hancur, MSF susah payah salurkan bantuan di Filipina
A
A
A
Sindonews.com – Tim tanggap darurat Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas, telah berada di Kota Cebu--kota terbesar kedua di Filipina--, sejak Sabtu (9/11/2013). Tim itu membawa bantuan dan staf medis untuk membantu para korban topan Haiyan.
Mereka tiba di Cebu, wilayah yang memiliki lapangan udara dan paling dekat dengan wilayah yang dilanda bencana hebat itu. “Saat ini, tim terdiri dari 23 orang, beberapa hari ke depan bertambah 107 orang, terdiri dari dokter, perawat, ahli bedah, spesialis logistik, psikolog, dan spesialis air-sanitasi,” bunyi pernyataan MSF, dalam rilisnya dari Filipina yang diterima Sindonews.com, Rabu (13/11/2013).
Menurut MSF, wilayah Cebu dekat dengan Kota Tacloban dan Tanauan, yang luluh lantak akibat terjangan topan terkuat di dunia itu. ”Rencananya tim akan ke pulau-pulau di sebelah barat Cebu, (Panay dan Negros) dan Kota Guaian,” lanjut MSF. ”Kota ini (Guaian) hancur total, dan bantuan yang datang sangat sedikit, atau bahkan nyaris tidak ada,” lanjut MSF.
Kondisi logistik, menurut MSF, sangat kacau. Transportasi ke wilayah bencana juga sulit didapat. ”Lapangan terbang Tacloban rusak parah dan jalan-jalan terhalang puing-puing bangunan. Cuaca buruk kemarin, telah menghambat tim yang hendak berangkat dari Cebu ke Tacloban, karena pesawat tidak diperbolehkan terbang,” imbuh MSF.
Menurut tim relawan kemanusiaan itu, lapangan terbang di Cebu sangat padat. ”Pesawat kargo kami yang masih dalam perjalanan, kemungkinan besar harus dialihkan ke Manila, karena tidak bisa mendarat di Cebu.” Kondisi itu diperparah dengan terputusnya saluran komunikasi.
MSF mengirim ratusan ton barang bantuan dan persediaan medis yang diangkut dengan sembilan pesawat kargo. Pesawat-pesawat pengangkut bantuan itu, berasal dari Dubai empat pesawat, dua dari Belgia, satu dari Panama, satu dari Belanda, dan satu pesawat dari Perancis. “Pesawat kargo kemanusiaan ini berisi peralatan medis untuk merawat para korban luka, juga berisi peralatan untuk konsultasi medis, vaksin tetanus, barang-barang darurat lain,” lanjut MSF.
Mereka tiba di Cebu, wilayah yang memiliki lapangan udara dan paling dekat dengan wilayah yang dilanda bencana hebat itu. “Saat ini, tim terdiri dari 23 orang, beberapa hari ke depan bertambah 107 orang, terdiri dari dokter, perawat, ahli bedah, spesialis logistik, psikolog, dan spesialis air-sanitasi,” bunyi pernyataan MSF, dalam rilisnya dari Filipina yang diterima Sindonews.com, Rabu (13/11/2013).
Menurut MSF, wilayah Cebu dekat dengan Kota Tacloban dan Tanauan, yang luluh lantak akibat terjangan topan terkuat di dunia itu. ”Rencananya tim akan ke pulau-pulau di sebelah barat Cebu, (Panay dan Negros) dan Kota Guaian,” lanjut MSF. ”Kota ini (Guaian) hancur total, dan bantuan yang datang sangat sedikit, atau bahkan nyaris tidak ada,” lanjut MSF.
Kondisi logistik, menurut MSF, sangat kacau. Transportasi ke wilayah bencana juga sulit didapat. ”Lapangan terbang Tacloban rusak parah dan jalan-jalan terhalang puing-puing bangunan. Cuaca buruk kemarin, telah menghambat tim yang hendak berangkat dari Cebu ke Tacloban, karena pesawat tidak diperbolehkan terbang,” imbuh MSF.
Menurut tim relawan kemanusiaan itu, lapangan terbang di Cebu sangat padat. ”Pesawat kargo kami yang masih dalam perjalanan, kemungkinan besar harus dialihkan ke Manila, karena tidak bisa mendarat di Cebu.” Kondisi itu diperparah dengan terputusnya saluran komunikasi.
MSF mengirim ratusan ton barang bantuan dan persediaan medis yang diangkut dengan sembilan pesawat kargo. Pesawat-pesawat pengangkut bantuan itu, berasal dari Dubai empat pesawat, dua dari Belgia, satu dari Panama, satu dari Belanda, dan satu pesawat dari Perancis. “Pesawat kargo kemanusiaan ini berisi peralatan medis untuk merawat para korban luka, juga berisi peralatan untuk konsultasi medis, vaksin tetanus, barang-barang darurat lain,” lanjut MSF.
(mas)